Final Liga Europa, Diego Simeone dan Bayang-bayang Sakit Hati

0
Pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone. Foto: Official Twitter Atletico Madrid

Pelatih Atletico Madrid Diego Simeone telah menolak pembicaraan final Liga Europa menjadi kesempatan bagi Atletico Madrid untuk menghalau bayan-bayang sakit hati dalam dua final Liga Champions terakhirnya melawan Real Mandrid.

Atletico Madrid bersua dengan Marseille dalam final Liga Europa di Lyon, Kamis (20/5/2018). Simeone sukses membawa Atletico Madrid menjadi juara Liga Europa yang terakhir kali dilakoninya pada 2012 lalu.

Setelah memenangi laga itu, Simeone lebih rutin berkompetisi di Liga Champions. Mereka kembali ke Liga Champions setelah hanya menempati posisi ketiga dalam babak fase grup Liga Champions edisi 2017/2018. Mereka kalah bersaing dengan Chelsea dan AS Roma.

The Rojiblancos ditumbangkan oleh tetangganya Real Madrid dalam final LIga Champions pada tahun 2014 dan 2016.  Ia menolak anggapan bahwa final kali ini adalah cara untuk menyembuhkan luka dalam dua final di Liga Champions.

“Kami tidak memikirkan situasi ini dan hanya apa yang terjadi hari ini. Apa yang terjadi sebelumnya memberi Anda pengalaman dan momen.Ada momen baru yang kami tunggu. Kenyataan akan menentukan apakah kami layak untuk gelar itu, “ kata Simeone dilansir Soccerway.

Simeone akan kembali menonton dari tribun setelah UEFA bandingnya. Seperti diketahui Simeone disanksi tidak bisa mendampingi empat laga. Hukuman itu diperoleh setelah Simeone melayangkan protes keras kepada Clement Turpin pada laga melawan Arsenal.

Atletico Madrid jelas menjadi favorit untuk menjuarai Liga Europa. Diego Simeone tetapi mengantisipasi tantangan berat dari sisi Marseille yang diremajakan di bawah Rudi Garcia.

“Mereka dapat bermain dengan cara yang berbeda. Mereka memiliki full-back yang menyerang. [Dimitri] Payet memaksakan ritme, ini adalah tim dengan manajer yang telah melakukannya dengan sangat baik. Ini akan menjadi pertandingan yang intens dan kami akan membawanya di mana itu cocok untuk kita, “ kata dia dilansir Soccerway.

“Kami akan bermain di final baru, di mana ada banyak perasaan, emosi, keyakinan, tetapi di atas semua itu ada kerendahan hati. Ketika Anda sampai di sini, Anda harus memiliki kerendahan hati, untuk bekerja. Kita harus meminimalkan tugas ofensif mereka. Mereka adalah tim dengan banyak keyakinan. Ini akan menjadi pertandingan yang indah, akhir yang indah, “ lanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here