Hal Menarik Terkait Home Base Persis Solo Dari Masa ke Masa

0
bentuk gambaran hasil akhir wajah baru Stadion manahan yang saat ini tengah direvitalisasi. Foto: Instagram wbsn_bsmnr

Persis Solo akhirnya memutuskan untuk musim 2019 akan berkandang di Stadion Maguwoharjo Sleman, yang jadi markas klub Liga 1 PSS Sleman. Keputusan ini juga meruntuhkan wacana manajemen di awal musim, yang rencananya akan membuat Persis Solo berkandang di Stadion Patriot Bekasi.

Keputusan untuk jadi seorang musafir dilakukan lantaran Stadion Manahan yang jadi home base utama Persis, tak bisa digunakan karena masih dalam tahap revitalisasi.

Rencananya stadion ini baru akan selesai pada Oktober 2019. Sementara itu untuk stadion di Solo lainnya yakni Stadion Sriwedari, tak bisa digunakan karena terkendala perizinan.

Dilain sisi, sejak berdiri tahun 1923, Persis memang rutin bertanding dari satu lapangan ke lapangan lainnya. Banyak hal menarik terkait lapangan dalam sejarah perjalanan eksistensi Persis Solo.

Berikut kisah-kisah menarik terkait lapangan di Kota Solo:

DIMULAI DARI ALUN-ALUN

Belum diketahui secara pasti kapan pertandingan pertama Persis Solo terjadi. Untuk lokasi  pertandingannya pun belum bisa diketahui.

Walau begitu dalam beberapa literasi, khususnya di periode tahun 1920an, Persis rutin bertanding di lapangan Alun-Alun Kota Solo.

Di lapangan ini juga kompetisi PSSI pertama resmi digelar. Kejadian itu terjadi pada tahun 1931.

Sayang kala itu Persis jadi juru kunci, di bawah VIJ (nama awal Persija) sebagai juara, dan PSIM yang jadi runner up.

Peresmian Stadion Sriwedari di tahun 1933, yang dibuka laga antara Persis Solo melawan PSIM Jogja.

MASA KEEMASAN STADION SRIWEDARI

Membeludaknya penonton di kompetisi PSSI di tahun 1931, membuat raja kraton Solo terpikat untuk membuat stadion di Kota Solo. Akhirnya pada tahun 1933, stadion pribumi pertama resmi berdiri di tanah Sriwedari.

Stadion Sriwedari jadi saksi saat Persis menjadi juara di musim 1940. Saat itu Persis juara usai menyingkirkan PSIM Jogja dan VIJ.

Sementara itu di era 1930-1940an, Persis merajai kompetisi PSSI, dengan title tujuh kali sanggup menjadi juara.

momen itu terjadi saat menjadi juara di Semarang 1935, Bandung 1936, Jogja 1939, hingga di musim 1941, 1942, dan 1943 yang digelar dibeberapa lokasi berbeda.

Sementara itu, Persis juga sempat merana di Sriwedari. itu terjadi saat Laskar Sambernya hanya bisa menjadi runner up di musim 1937, dan juara ketiga di musim 1938. Masyarakat Solo kala itu cukup kecewa, karena gagal melihat tim kebanggaannya menjadi juara di rumah sendiri.

 

KALAH PAMOR DARI TIM PENDATANG

Saat dekade tahun 1983-1997, Persis Solo bisa dibilang kalah pamor dari klub asal Jakarta, Arseto. Hadirnya pemain bintang nasional di tim ini, membuat antusiasme masyarakat Solo untuk melihat Arseto lebih besar ketimbang Persis di Sriwedari.

Situasi yang yang sama juga terjadi di awal 2000an. Stadion Manahan yang baru selesai dibangun, ternyata membuat ada beberapa tim luar Solo melirik untuk menjadikan stadion ini menjadi home basenya.

Mulai dari Pelita Jaya Jakarta di tahun 2000-2002, dan dilanjutkan Persijatim Jakarta Timur pada tahun 2003-2004.

Lagi-lagi pamor Persis yang ada di kasta ketiga Liga Indonesia (Divisi II kala itu) membuat masyarakat Solo lebih tertarik melihat Pelita hingga akhirnya ke Persijatim. Kedua tim ini kala itu banyak diisi pemain top di zamannya, sementara Persis hanya pemain-pemain lokal.

 

Aksi Pasoepati saat mendukung Timnas di Stadion manahan.

MANAHAN JADI SIMBOL SEBUAH KEBANGKITAN

Setelah Persijatim keluar dari Solo di tahun 2004. Tim ini akhirnya pindah ke Palembang dan berubah nama menjadi Sriwijaya FC.

Kejadian ini membuat Pasoepati akhirnya mulai totalitas mendukung tim asli di Kota Solo, yakni Persis Solo.

Hasilnya cukup moncer. Dari musim ke musim Persis sukses selalu promosi. Mulai dari kompetisi Divisi II 2005, lalu Divisi I 2006, dan akhirnya di kasta tertinggi Divisi Utama 2007 silam.

PINDAH KE SRIWEDARI KARENA MANAHAN BANJIR

Di musim 2008, Persis Solo akhirnya kembali berkandang di Stadion Sriwedari, karena Stadion Manahan harus direnovasi.

Seringnya banjir yang terjadi saat hujan turun, membuat banyak laga berjalan tak maksimal di Manahan. Hingga akhirnya renovasi lapangan di Manahan harus dilakukan, dna persis dengan terpaksa harus mengungsi di Sriwedari.

 

JADI SANKSI BATAL DEGRADASI, DUALISME, HINGGA LIGA TERHENTI

Musim 2009, dan 2010, Persis harus puas berstatus sebagai juru kunci klasemen di babak penyisihan grup yang diikutinya. Menakjubkannya, Persis batal terdegradasi karena berbagai alasan.

Di tahun 2011-2013, Stadion Manahan dan Sriwedari juga jadi saksi terbentuknya dua klub Persis Solo, yang dilatih oleh pelatih berbeda, pemain yang berbeda, manajemen yang berbeda, dan pastinya kompetisi yang berbeda pula. yakni Divisi Utama versi Liga Indonesia dan Divisi Utama versi PT.LPIS.

Bahkan saat 2015, PSSI memutuskan untuk menghentikan kompetisi Liga Indonesia. Situasi ini juga sempat membuat masyarakat Solo kaget.

Padahal rencananya Stadion Manahan akan digunakan sebagai laga pembuka Divisi Utama 2015, yakni antara Persis Solo melawan PSIS Semarang. Nyatanya agenda tersebut batal karena PSSI dibekukan oleh Menpora, akhirnya seluruh kompetisi di musim 2015 dihentikan.

Penggawa Persis Solo saat merayakan gol yang dicetak Soni Setiawan pada laga lawan PSIR Rembang di Stadion Wilis Madiun, Minggu (7/10/2018). Foto : Richie Setiawan

LONCAT KE JAWA TIMUR

Revitalisasi Stadion Manahan jadi proyek besar pemkot Kota Solo, dari dana yang didapatkan dari Kementerian PUPR. Situasi ini membuat Persis harus keluar dari Manahan di musim Liga 2 2018. Ironisnya pihak kepolisian akhirnya tidak mengizinkan Persis Solo berkandang di Stadion Sriwedari.

Manajemen akhirnya memutuskan membuat Persis berkandang di Stadion Wilis Madiun. Dan di Liga 2 2019, rencananya Laskar Sambernyawa akan berhome base di Stadion Maguwoharjo Sleman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here