Legenda Persebaya Surabaya Kritik Kualitas Pemain Naturalisasi

0
Suporter Timnas Indonesia yang tak lelah memberikan dukungan. Foto : Richie Setiawan

REMBANG – Peman naturalisasi diharapkan bisa memberi efek positif pada kualitas Timnas Indonesia. Namun dalam delapan tahun ini, prestasi Indonesia masih tergolong biasa-biasa saja.

Cristian Gonzales menjadi sosok pertama yang berbaju merah putih. Dia menyumbangkan 12 gol dalam 28 penampilan. Kemudian menyusul Kim Kurniawan, Victor Igbonefo, Ruben Wuarbanaran, Diego Michiels, Tonnie Cussel, Bio Paulin Pierre, Raphael Maitimo, Stefano Lilipaly, Greg Nwokolo, Sergio van Dijk, Jhonny van Beukering, Ezra Walian, Guy Junior dan Ilija Spasojevic.

Lalu yang terbilang baru ada Dzumafo Epandi Herman, Charles Orock, Beto Goncalvez, hingga Esteban Vizcarra. Empat nama terakhir, termasuk Guy Junior belum merasakan baju Timnas Indonesia. Kini muncul lagi nama Sandy Walsh yang cukup diinginkan para netizen, bahkan kerap kali menyerbu akun instagram PSSI. Mereka meminta Sandy segera dinaturalisasi.

Sederet naturalisasi tersebut belum memberi kontribusi lebih pada Timnas. Prestasinya masih sama saja. Piala AFF masih mencapai runner up, seperti yang sudah-sudah. Demikian kritik dari legenda Persebaya Surabaya, Uston Nawawi. Menurutnya, kualitas pemain yang dinaturalisasi tak berbeda jauh dengan bintang lokal.

“Saya pikir dari semua pemain yang dinaturalisasi, belum ada yang mencolok. Masih sama saja. Harusnya kalau mempertimbangkan naturalisasi ya yang kualitasnya jauh di atas pemain lokal. Ini sama saja. AFF masih runner up. Ranking Indonesia apa ada kenaikan?,” terang Uston kepada KAMPIUN.ID, Rabu (21/3/2018).

Salah satu pemain naturalisasi, Raphael Maitimo. Kini dia tercatat membela Madura United. Foto : Richie Setiawan

Pria yang kini menukangi PSIR Rembang itu mencontohkan program pembinaan pemain di Thailand dan Vietnam. Dua negara itu sejak jauh-jauh hari sudah berpikir soal pengembangan pemain muda. Belum lagi Malaysia yang perlahan mulai menanjak.

Menurut Uston, naturalisasi bukan solusi. Justru kompetisi usia dini yang harus digalakkan. Dia pun mengapresiasi jika kini mulai ada ajang untuk usia 15 tahun, 17 tahun dan 19 tahun. Kompetisi berjenjang membuat pemain muda tak bingung dalam menentukan masa depan karirnya.

“Vietnam tanpa pemain naturalisasi bisa masuk final Piala Asia U-23. Yang harus ditekankan adalah, pembinaan lebih penting daripada naturalisasi. Hasilnya lebih jelas,” ucapnya.

Pergerakan winger Bali United, Stefano Lilipaly dibayangi pemain Sriwijaya FC, Mahamadou N’Diaye dalam leg kedua babak semifinal Piala Presiden 2018 di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, Rabu (14/2/2018). Foto : Richie Setiawan

“Untuk usia dini dan muda harus diberi kesempatan mengasah diri. Tapi bentuknya bukan turnamen, melainkan kompetisi. Para pemain muda akan matang lewat kompetisi yang berjenjang. Walaupun memulai sekarang sudah agak tertinggal, tapi tidak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” lanjutnya.

“Tapi yang penting lagi adalah keberadaan lapangan berkualitas. Di Indonesia jumlah lapangan standar masih sangat kurang. Kita masih kesulitan untuk cari lapangan yang bagus untuk mengasah bibit-bibit potensial. Harus diperbanyak lagi

Uston merupakan salah satu gelandang yang cukup menonjol bersama Timnas Indonesia. Dia mencatatkan 47 penampilan dengan sumbangsih 13 gol. Pemain jebolan PSSI Baretti ini pernah merasakan gelar Independence Cup 2000, medali perak Sea Games 1997 dan medali perunggu Sea Games 1999.

Nofik Lukman Hakim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here