Ada Jejak Pemain Asal Klub Solo dan Klaten di Piala Dunia 1938

0
Isaac Pattiwal pemain Maluku yang sempat bermain di Piala Dunia 1938

Piala Dunia selalu tak akan pernah habis untuk dibicarakan. Saat ini Piala Dunia tengah digelar di Rusia. Seperti biasa, masyarakat Indonesia hanya bisa menikmatinya dari layar kaca, karena Timnas Indonesia lagi-lagi gagal lolos dari babak kualifikasi.

Namun siapa sangka 80 tahun yang lalu, Indonesia pernah memeriahkannya secara langsung. Tepatnya di Piala Dunia 1938.

skuad Hindia Belanda di PIala Dunia 1938.

Sayang saat itu Indonesia yang masih menggunakan nama Hindia Belanda kalah lebih cepat, karena dibantai Hongaria 0-6. Hongaria sendiri di tahun 1938 finis sebagai runner up, usai kalah dari Italia di partai puncak.

Diantara skuad Hindia Beland di Prancis 1938 tersebut, terselip satu nama. Dia adalah Isaac Pattiwael. Dirinya berstatus sebagai pemain Jong Ambon Cimahi kala itu.

Ada yang menarik tentang sosoknya. Khususnya dengan sejarah perkembangan sepak bola di eks-Karesidenan Surakarta.

Pria berdarah Maluku yang lahir di tahun 1914 dan meninggal di tahun 1987 tersebut, ternyata pernah bergabung dengan klub asal Solo dalam sebuah turnamen di Surabaya dan Malang di tahun 1935.

dilain sisi di kota Solo pada tahun 1930an, ada dua klub yang terbentuk dan eksis bertanding di lapangan  hijau kala itu. Keduanya bermain di kompetisi dari sebuah federasi yang berbeda.

Di kubu PSSI ada nama Vorstenlandsche Voetball Bond (VVB) yang saat ini dikenal dengan nama Persis Solo. Sementara itu di pihak NIVB/NIVU ada nama Voetball Bond Soerakarta (VBS).

Di tahun 1935 bisa dibilang sebagai musim runtuhnya NIVB, sebelum akhirnya berganti nama menjadi NIVU. Di masa-masa terakhir itu ternyata klub yang masih loyal dengan federasi bentukan Belanda tersebut membuat sebuah turnamen di Surabaya dan Malang. Solo saat itu termasuk yang masih loyal.

Di turnamen yang digelar sekitar bulan April 1935 tersebut, Solo ikut berkompetisi dan menggunakan nama Vorstenlanden. Skuadnya sendiri berasal dari beberapa pemain NIVB asal Solo dan Jogja.

Yang menarik, terselip nama Pattiwael di dalamnya, yang tiga tahun setelah bergabung dengan Vorstenlanden, dirinya tercatat bergabung dengan Timnas Hindia Belanda bentukan NIVU yang terjun di Piala Dunia 1938.

Skuad VBS Solo saat melawan NIVB di tahun 1935. Foto: De Indische Courant

Kembali ke turnamen di Subaraya-Malang tahun 1935, Vorstenlanden ternyata harus puas berada di posisi kedua, kalah posisi dari NIVB yang dturnamen ini juga ikut serta dengan membentuk timnya sendiri.

Ada hal menarik yang terjadi pada 20 April 1935 di Malang. Di mana koran berbahasa Belanda Soerabaijasch Handelsblad terbitan 23 April 1935 mencatat bahwa di tanggal 20 April 1935, klub Vorstenlanden sukses menang atas NIVB dengan skor 3-2. Padahal NIVB layaknya sebuah Timnas federasi bentukan Belanda di Hindia Belanda.

Setelah turnamen di Surabaya-Malang tersebut, tak ada lagi jejak Pattiwael di klub VBS Solo. Dirinya malah diketahui bergabung dengan Jong Ambon.

Dalam literasi lainnya, yakni buku “Drama Itu Bernama Sepakbola’ hasil karya Arief Natakusumah. Ada catatan di tiga paragraf terakhir di bab yang ada di dalam buku itu, yang memperlihatkan jejak Pattiwael lainnya di eks-Karesidnena Surakarta.

Seperti ini isi tulisannya:

“Di Zaman Pendudukan Jepang, Persis masih sering tampil di Sriwedari menghadapi Jakarta, Surabaya dan Purwakarta. Di tim yang belakangan ini ada pemain top bernama Isaak Pattiwael yang dijuluki Macan Purwakarta. Hebat di salah satu anggota tim nasional Dutch Indies yang tampil pada Piala Dunia 1938 di Prancis”

“Saat melawat ke Solo, Persija diperkuat oleh Mahmul, kiper gemuk tapi lengket tangkapannya, lalu bek cekatan Ruslan dan trio tanggung Sanger, Abidin, dan Teck Eng serta kanan luar Iskandar. Lewat adil mereka, Persis terpaksa main dengan hasil seri 2-2. Mahmul, Ruslan, Abidin dan Pattiwael pada zaman revolusi hijrah ke Klaten”

“Namun mereka tidak bergabung ke Persis, melainkan ke PSIK Klaten lantaran ditawari bekerja di pabrik sepatu Gayampit. Boleh jadi kepindahan ini seperti sebuah kisah transfer pemain tempo doeloe. Sebelum hijrah ke Klaten, Mahmul, Ruslan, dan Abidin adalah anggota sepak bola Bata Jakarta. Saat itu perusahaan milik Belanda itu boyongan sambil membawa peralatan pabrik ke Jawa Tengah”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here