Buat Akademi Berbasis Filanesia, Ricky Nelson Pilih Bermarkas di Malang

0
Ilustrasi Ricky Nelson Academy. Foto : Instagram Ricky Nelson

Banyak orang berbicara mengenai impian Indonesia menembus pentas Piala Dunia. Namun tak banyak yang melakukan langkah nyata agar level sepak bola Indonesia bisa meningkat.

Harus diakui kompetisi sepak bola profesional sudah mengalami kemajuan. Jersey klub perserta Liga 1, bahkan Liga 2 dan Liga 3 tak lagi kosong. Deretan perusahaan berduyun-duyun menjadi sponsor klub Indonesia.

Sebutan bahwa tuan rumah harus selalu menang juga tak lagi melekat. Banyak kejutan yang selalu hadir setiap pekan. Hal ini yang membuat kompetisi profesional berjalan ketat.

Hanya saja, perbaikan ini belum maksimal menyasar sepak bola usia dini. Pembinaan masih belum terarah. Skema pun tak begitu diperhatikan. Terkadang anak-anak muda bermain tanpa konsep untuk mengejar kemenangan.

Untung saja beberapa pelaku sepak bola nasional sudah mulai menyadari hal itu. Deretan akademi dengan konsep yang jelas mulai bermunculan. Sejak usia dini para pemain diajarkan bagaimana menerapkan taktik.

Aji Santoso bersama ASIFA sudah cukup kelihatan hasilnya. Beberapa penggawa akademi yang bermarkas di Malang itu sudah menembus tim nasional (Timnas) U-16 atau U-19. Salah satunya Saddil Ramdani yang sudah menembus Timnas U-23 dengan usia yang baru 18 tahun.

Kini, Ricky Nelson juga melakukan hal sama. Pelatih Persika Karawang itu mendirikan Ricky Nelson Academy (RNA) yang bermarkas di Stadion Mini Lawang, Malang, Jawa Timur. Akademi ini berbasis Filanesia (Filosofi Sepak Bola Indonesia).

Filonesia sendiri merupakan sebuah filosofi yang akan menjadi pondasi dan karakter sepak bola Indonesia. Baik untuk pembinaan usia dini sampai profesional dari segi individu maupun tim. Filanesia ini diluncurkan PSSI pada 9 November 2017 lalu.

“Ada banyak akademi di Indonesia. Tapi yang berbasis Filanesia saya belum tahu. Yang saya bikin ini semua dibawah pengawasan PSSI, berbasis Filanesia,” terang Ricky Nelson kepada KAMPIUN.ID

Ricky menilai penerapan Filanesia pada pemain senior sudah sangat sulit. Pasalnya, dalam kompetisi profesional, para pemain sudah dituntut untuk meraih kemenangan di setiap pertandingan.

“Di akademi kita ini yang dikejar bukan menang saja. Tapi menang dengan cara yang benar, struktur yang benar, prinsip yang benar. Kalau sekarang kalah ya berarti bagian dari proses. Jadi bukan sekadar umpan jauh dengan harapan cari penalti untuk memenangkan pertandingan,” tuturnya.

“Kita harus bantu melahirkan pemain potensial. Tidak hanya berharap saja. Selama ini pelatih sudah terlalu kompromi pada kelemahan pemain yang tidak berubah. Akibatnya mengejar level Piala Dunia sudah jauh sekali. Jangankan kejar level Australia atau Denmark, dengan Panama saja jauh,” lanjutnya.

Lapangan yang digunakan untuk Ricky Nelson Academy. Foto : Istagram rnacademy

Pada angkatan pertama ini, Ricky Nelson hanya mencari 40 pemain untuk tim U-13 dan U-15. Proses seleksi akan digelar mulai Jumat (29/6/2018). Meski bermarkas di Malang, akademi ini tak hanya membatasi pemainnya dari Jawa Timur saja.

“Saya memilih Malang karena dapat lapangan bagus. Cuacanya juga enak, suasana kota nggak ribet, lebih nyaman. Dan harus diakui Jawa Timur talentanya banyak sekali. Malang juga ada transportasinya lengkap. Dari Jakarta, Bali, Papua datang tidak masalah,” jelasnya.

“Ada pelatih-pelatih berkualitas yang akan menangani anak-anak ini. Saya pun akan memantau terus. Saat ada libur pasti saya akan datang,” lanjutnya.

Akademi ini juga berencana mengikuti Piala Soeratin zona Jawa Timur pada musim depan. Dengan banyaknya kompetisi yang diikuti, diharapkan jam terbang para pemain semakin meningkat.

“Kalau tahun ini ikut sudah tidak mungkin. Karena kompetisi sudah hampir jalan. Jadi selama setengah tahun ini kita ikuti turnamen-turnamen. Baru tahun depan ikut Piala Soeratin U-13 dan U-15,” pungkasnya.

Nofik Lukman Hakim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here