Beginilah Nasib dan Perkembangan Kasus Mantan Pelatih Persis Solo, Widyantoro

0
Freddy Muli (dua dari kiri) menggantikan pelatih sebelumnya, Widyantoro (dua dari kanan). Foto: Official tim Persis Solo.

Manajemen Persis Solo mengklaim masih memperjuangkan nasib mantan pelatihnya, Widyantoro. Pelatih asal Magelang itu mendapatkan sanksi berat dari komisi disiplin PSSI tahun lalu. Yakni berupa larangan berkecimpung di dunia sepak bola Indonesia selama satu tahun dan denda Rp 100 juta.

“Kami (manajemen Persis) terus selalu berupayakan untuk mengawal kasus beliau (Widyantoro). Sampai sekarang ini belum ada kejelasan perkara peninjauan kembali (PK) yang kami ajukan,” ujar Sekjen klub Persis Solo, Dedi M Lawe.

Sanksi yang diterima Widyantoro adalah ketika musim lalu melakoni babak 16 besar Liga 2 melawan Cilegon United. Persis menang 2-0 dalam laga itu, namun setelahnya komdis PSSI menjatuhkan sanksi karena menganggap Widyantoro melakukan tindakan tidak terpuji dengan menyerang perangkat pertandingan.

Tidak hanya sampai di situ, ternyata Widyantoro kembali dikenai sanksi dengan ditambah 18 bulan tidak boleh menggeluti dunia sepak bola Indonesia. Namun dalam perjalanannya, manajemen Persis memastikan hukuman tambahan 18 bulan bagi Widyantoro sudah tidak berlaku, dan saat ini tinggal menyisakan tiga bulan lagi masa hukuman.

”Saat ini beliau (Widyantoro) sudah menjalani sekitar sembulan bulan. Kami kaget ternyata baru saja mendengar sedikit selentingan bahwa sanksi tersebut akan dihapuskan. Kalau mau dihapuskan kenapa tidak dari awal,” celetuk Sekjen Persis Solo, Dedi M Lawe.

Yang mengangetkan laga, ternyata sanksi Rp 100 juta hingga saat ini juga belum diambil oleh pihak Komdis. Biasanya denda di setiap tim akan dipotong dari uang subsidi yang diberikan oleh operator kompetisi, namun hingga setengah kompetisi berjalan, denda tersebut tak dipotong oleh PSSI.

Namun kabar terbaru mulai didengar para manajer-manajer bahwa komdis PSSI kembali berulah dengan meminta tagihan Rp 100 juta sebagai bentuk sanksi Widyantoro. Hal itu dianggap Persis tidak masuk akal, mengingat selama ini bentuk denda dari PSSI melalui pemotongan subsidi yang diterima klub.

“Di regulasi FIFA, hukuman berat apabila terbukti suap, atau tindakan yang mencederai sportifitas. Padahal Widyantoro berlaku kasar seperti mengumpat di luar lapangan. Denda Rp 100 juta oke, tapi tidak harus berbulan-bulan. Kami sempat mengajukan PK ke Ketum PSSI, tapi beliau tidak merespon, artinya PK kami ditolak,” tegas Dedi.

Kini, manajemen Persis menunggu sikap kejelasan PSSI terkait kasus Widyantoro. Dengan adanya surat resmi, manajemen klub berjuluk Laskar Sambernyawa itu baru bisa melangkah untuk menuntaskan pelatih yang cukup berperan dalam prestasi Persis sejak musim 2014.

“Setelah adanya surat nanti, manajemen akan tetap mengupayakan. Karena bagaimanapun juga Persis harus banyak berterimakasih kepada Widyantoro yang di musim lalu membawa sampai babak delapan besar. Kami akan optimal melakukan pembelaan kepada Widyantoro,” tandas Dedi M Lawe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here