PSS Sleman Jadi Tim Paling Sulit Kebobolan di Liga 2 2018, Ini Kuncinya

0
Penggawa PSS Sleman yang diturunkan pada laga lawan Pakindo Mojokerto Putra di Stadion Maguwoharjo Sleman, Kamis (26/4/2018). Foto : Nofik Lukman Hakim

Dari sisi posisi PSS Sleman memang harus puas jadi yang kedua di grup timur di Liga 2 2018. hal ini lantaran mereka ada di posisi kedua dengan tabungan 25 poin, tertinggal dua poin dari Madura FC.

Super Elang jawa sudah menjalani 13 laga perdananya musim ini dengan catatan delapan kemenangan, sekali seri dan empat kali menelan kekalahan.

Catatan paling menawan dari PSS adalah dari sisi benteng pertahanannya. Mereka tercatat baru kebobolan delapan kali selama ini. Menjadi catatan paling kecil kebobolan dari 23 klub peserta Liga 2 saat ini.

Posisi kedua ditempati tetangganya, yakni Persis Solo di grup barat yang baru kebobolan sembilan gol dari 13 laga yang sudah di jalani.

Kembali ke PSS Sleman, catatan menawan ini ternyata lebih kepada kokohnya lini pertahanan mereka.

Ada dua kiper yang sulih berganti menjadi starter.Yoe wanto Beny yang dihadirkan ke tanah Sembada dari Persiba Balikpapan bermain sebagai starter sebanyak lima kali, tiga diantaranya terjadi di tiga laga terakhir PSS.

Yakni saat melawan Madura United (10/8), dan dua kali saat melawan Persiwa Wamena, di Stadion Maguwoharjo Sleman (4/8) dan di Kuningan (30/7). Hebatnya gawang PSS belum pernah sekalipun kebobolan saat dijaga oleh Beny.

Sementara itu kesempatan paling banyak sebagai starter, ternyata lebih dimiliki oleh Ega Risky. Mantan kiper PSCS Cilacap tersebut jadi starger di delapan laga, dan ikut membawa PSS saat menang sebanyak empat kali, sekali kalah dari Persegres Gresik, dan ikut merasakan saat timnya kalah tiga kali saat melawan Kalteng Putra (0-1), Madura FC (1-2) dan PSIM Jogja (0-1).

Namun di balik aksi heroik dua kiper PSS di mulut gawang, ternyata salah satu kunci kenapa PSS bisa sulit kebobolan jelas lantaran keberadaan empat kuartet bek di depan sang kiper.

Jika bicara soal perkembangan, ternyata ada beberapa perubahan yang terjadi di posisi bek yang terjun sebagai starter.

Di pekan pertama saat melawan Mojokerto Putra di Stadion Maguwoharjo (26/4), posisi bek diisi oleh empat nama. Yakni Bagus Nirwanto, Hisyam Tolle, Yudi Khoerudin, dan Vandy Prayogo.

Komposisi yang sama tetap dipertahankan saat melawan Madura FC pekan berikutnya di Sleman. Sayang jika di pekan pertama PSS menang 3-1 atas Mojokerto, kali ini PSS ternyata harus legawa menyerah 1-2 di rumah sendiri dari Madura FC.

Kekalahan ini membuat komposisi starter juga berubah. Saat bertandang ke kandang Persegres Gresik (6/5), posisi Yudi digantikan oleh Syahrul. Tiga bek lainnya tetap sama, yakni Bagus, Tolle, dan Vandy.

Hasil sekali menang, sekali seri dan sekali kalah di tiga laga awal, ternyata membuat Hery Kiswanto memutuskan untuk mundur dari tim. Itu dilakukannya usai laga PSS di kandang Persegres yang berakhir imbnag 1-1.

Usai keputusan itu dilakukan Seto Nurdiyantoro akhirnya ditunjuk manajemen untuk menjadi pelatih kepala tim PSS.

Dari tangan dingin Seto tak banyak perubahan yang dilakukan, dari sisikomposisi tim. Walau begitu, ternyata Seto juga terlihat masih mencari sosok siapa yang pantas berduet dengan Tolle di posisi centerback.

Saat bertandang ke kandang PS Biak (11/5), Zamzani diberi kepercayaan, dan diputuskan harus bisa bekerjasama dengan baik dengan tiga bek langganan starter lainnya, yakni Bagus, Tolle, dan Vandy.

Dan ternyata komposisi ini dianggap cukup pas di mata Seto. Komposisi ini bertahan cukup lama sebagai pilihan utama Seto.

Keempatnya kembali diturunkan sejak awal saat PSS melawan Martapura FC (16/5), Persiba Balikpapan (5/7), Kalteng Putra (10/7), Semeru FC (5/7), Blitar United (H 21/7), dan PSIM (26/7). Dengan catatan dari tujuh laga tersebut, PSS hanya kebobolan dua kali.

Itupun saat kalah dari Kalteng Putra dan PSIM Jogja dengan skor 0-1 di laga tandang, selebihnya keperawanan gawang Ega Risky tetap terjaga dengan baik.

Tolle harus mendapat kartu merah saat bermain melawan PSIM di Sadion Sultan Agung (26/7). Laga ini ternyata jadi laga terakhir dirinya berseragam PSS. Hal ini lantaran manajemen membuat kebijakan besar untuk memutus kontraknya.

Cukup kaget mengingat dirinya berstatus sebagai kapten tim, ditambah dirinya dalam 10 laga terakhir tak pernah tergantikan posisinya.

Belakangan Tolle ternyata memutuskan untuk kembali ke klub asalnya, yakni Borneo FC yang terjun di Liga 1 2018.

Hilangnya Tolle membuat Seto memutar otaknya dalam-dalam. Selain Tolle ada dua centerback lainnya yang diputus kontraknya. Syahrul yang akhirnya memutuskan pindah ke Persika Karawang, dan Yudi Khoerudin yang balik kucing ke Persiba Balikpapan, usai terpaksa angkat koper dari mess PSS.

Arie Sandy yang sebelumnya bermain sebagai gelandang bertahan, akhirnya dicoba untuk terjun sebagi centerback.

Percobaan itu dimulai saat PSS melawan Persiwa Wamena di Kuningan (30/7), Seto memutuskan Beny diturunkan sebagai kiper utama, disandingkan dengan empat bek andalan. Yakni Bagus, Sandi, Zamzami, dan Vandy.

Untuk memberi kesan semakin aman di posisi benteng pertahanan. PSS akhirnya mendatangkan  muka lamanya, yakni Jodi Kustiawan yang di putaran pertama lalu bermain untuk Persela Lamongan di Liga 1 2018.

Jodi menjalani debutnya untuk PSS di musim ini, saat Super Elja melawan Persiwa di Maguwo (4/8), berduet dengan Bagus, Sandy, dan Vandy. Di laga terakhir kontra Madura United (10/8), Zamzami kembali ke status aslinya sebagai starter, bersanding bersama Bagus, Jodi, dan Vandy. Komposisi ini sepertinya akan jadi komposisi yang sulit tergantikan bagi skuad PSS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here