Pemain Blitar Poetra Disanksi karena Aksi Anarkis, Inilah Hasil Sidang Komdis PSSI, 10 Oktober 2018

0
hakim garis jadi korban anarkisme pemain Blitar Poetra usai laga melawan PSIP Pemalang di Stadion Gelroa Bumi Panataran Blitar (5/10/2018). Foto: PSIP TV

Blitar Putra sempat jadi cibiran banyak pecinta sepakbola di Indonesia, karena aksi anarkis yang dilakukan beberapa pemain mereka saat melawan PSIP Pemalang, 5 Oktober lalu di babak kedua Liga 3 regional Jawa Tengah 3.

Karena aksi anarkis di Stadion Gelora Bumi Penataran Blitar tersebut, Komdis PSSI akhirnya menggelar rapat untuk menentukan keputusan tegasnya pada 10 Oktober lalu, Akhirnya diputuskan banyak pemain tim ini dipastikan terkena sanksi berat.

Enam pemain Bliar Poetra dihukum sanksi larangan beraktifitas dilingkungan PSSI selama satu tahun.

Pemain Blitar Poetra, Dwi Nur Ardian dianggap menginjak dan menendang pemain lawan, sementara rekannya Weni Irfan Aditya dianggap mencekik dan memukul wasit.

Sementara itu Erwin Setiyonodiketahui mengejar dan memukul wasit, aksi anarkis juga dilakukan oleh Chandra Kurniawan, Muhammad Sururi dan Gedhong Tangguh Pambudi yang telah memukul pemain lawan PSIP di laga ini.

Sementara itu sanksi paling berat dirasakan oleg Official Blitar Poetra, Irawan, yang menginjak dan memukul wasit di laga ini, akhirnya Komdis PSSI menghukum dirinya dengan sanksi larangan beraktifitas dilingkungan PSSI seumur hidup.

Dalam laga ini sendiri PSIP Pemalang berhasil lolos ke babak kedua Liga 3 Regional Jawa 3. PSIP berhasil menang dengan skor 1-0 atas Blitar Poetra.

Skor ini sudah cukup membawa PSIP lolos ke babak kedua Regional Jawa 3, usai menang agregat 3-2, setelah di pertemuan pertama di Pemalang, PSIP hanya bisa bermain imbang 2-2. Dengan hasil ini PSIP akan menantang PS Kota Pahlawan Surabaya.

Satu-satunya gol PSIP tercipta di laga ini dicetak oleh M Erwin di menit ke-62. Dirinya sukses menceploskan bola ke mulut gawang lawan.

Sayang laga ini jadi sorotan publik, karena adanya aksi anarkis yang dilakukan pemain Blitar Poetra jelang laga berakhir, dan di akhir laga. Pertandingan jadi sedikit panas usai tambahan waktu injury time diberikan.

Kejadian bermula saat salah satu pemain PSIP yang mendapat umpan croosing berlari ke aras lini pertahanan lawan, namun sayang dirinya bertabrakan dengan pemain Blitar Poetra saat berebut bola.

Saat hendak ditandu, ada bebera pemain Blitar Poetra yang memaksa sang pemain untuk diangkat tandu dan cepat ke luar lapangan.

Pemain bernomor punggung 10 PSIP menolong rekannya tersebut saat hendang ditandu. Dirinya meminta pemain Blitar Poetra untuk bersabar, namun tak lama berselang ternyata dirinya mendapat perlakuan anarkis dari pemain Blitar Poetra.

Dorongan, pukulan hingga tendangan yang dilayangkan ke dirinya oleh hampir enam pemain Blitar Poetra, termasuk kiper tuan rumah membuat sang pemain terpojokkan.

Beruntung tensi kembali menurun dan laga berhasil dilanjutkan. Hingga akhir laga, skor 1-0 untuk PSIP tak berubah.

Kekecewaan timnya kalah di rumah sendiri, ternyata membuat para pemain Blitar Poetra naik pitam. Usai laga wasit hingga hakim garis menjadi bulan-bulanan pemain Blitar Poetra yang mengejar dan menendang mereka.

Wasit yang sempat berlari ke ruang ganti sempat selamat dari tendangan pemain Blitar Poetra, namun naas dan ironis ketika melihat hakim garis hanya bisa menahan diri saat terjatuh dan mendapatkan beberapa perlakuan anarkis dari pemain PSIP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here