“Ini Bukan Masalah Loyal Nggak Loyal”

0
Pelatih PSS Sleman, Seto Nurdiyantoro saat duduk di bench Stadion Sultan Agung Bantul. Foto : Nofik Lukman Hakim

Bicara soal sepak bola DIY tak bisa dilepaskan dari sosok Seto Nurdiyantoro. Dalam karir sebagai pemain dan tim pelatih, Seto sudah merasakan membela panji-panji Persiba Bantul, PSIM Jogja dan PSS Sleman.

Bagi seorang profesional, pindah-pindah klub merupakan hal biasa. Dalam kasus Seto, dia jarang pindah ke luar pulau karena ingin dekat dengan keluarganya. Langkah ini pun diikuti dua adiknya, Fajar Listiyantoro dan Yohanes Yuniantara saat masih bermain.

Keluarga Seto tak pernah jauh dari DIY. Saat tak membela tim DIY, ketiganya membela tim Kota Solo yang dulu ada Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Fajar juga sempat berseragam PSCS Cilacap.

Bagi pesepakbola hal tersebut lumrah. Namun tidak demikian dengan tanggapan para suporter setia klub tersebut. Seto Nurdiyantoro sudah hapal rasanya ditekan dan disebut sebagai pemain yang tak loyal.

Namun hal itu bisa dihadapinya dengan dingin. Dia selalu mendapat tempat utama di tim yang ia bela. Termasuk ketika ia harus menghadapi tim lamanya yang tak lain rival klubnya saat itu. Ban kapten hampir pasti melingkar di tangannya.

Pelatih PSIM Jogja, Bona Simanjuntak (kanan) saat berpose bersama pelatih PSS Sleman, Seto Nurdiyantoro dalam jumpa pers di Wisma PSIM, Rabu (25/7/2018) siang. Foto : Richie Setiawan

Seto pun menjelaskan apa yang pilih dalam karirnya. Baginya, perpindahan pemain maupun pelatih ke klub manapun merupakan hal lumrah dalam sepak bola profesional.

“Secara pribadi saya melihatnya sebagai seorang profesional. seorang pemain, seorang pelatih pasti berpindah-pindah dengan suatu harapan (di klub barunya),” terang Seto kepada KAMPIUN.ID, Selasa (23/10/2018).

Seto pun kerap menerima cemoohan ketika pindah klub. Dia disebut sebagai pemain maupun pelatih yang tak loyal kepada klub. Namun bagi seorang profesional, loyalitas lebih diarahkan pada profesi.

“Kadang kita pindah dikatakan..wah sudah nggak loyal… Saya pikir ini bukan masalah loyal nggak loyal, kita profesional saja,” tuturnya.

Apa yang dilakukan keluarga Seto sejatinya sempat diikuti pemain asal Bantul, Hendika Arga Permana. Setelah langkah PSIM Jogja terhenti, dia menerima pinangan PSS Sleman dengan status pinjaman.

Dalam sebuah wawancara dengan KRjogja pada Sabtu (20/10/2018), Arga menyebut kesempatan gabung PSS lebih dimaksudkan untuk menambah pengalaman dan meningkatkan kualitasnya. Apalagi di tim besutan Seto tersebut, ada banyak pemain berpengalaman. Dia pun ingin menyatukan suporter PSS dan PSIM.

Namun hanya selang tiga hari kemudian, Arga mengumumkan gantung sepatu. Keputusan mendadak itu diyakini karena tekanan yang diarahkan kepada pemain kelahiran 1 November 1993 tersebut, meski Rabu (24/10/2018) siang, ia membantah lewat statemen di instastories.

Seto melihat bahwa setiap pemain memiliki pandangan tersendiri terhadap tekanan. Hal itu pun tak bisa dipaksakan. Dalam kasus Arga, dia pun berusaha memahami apa yang dia putuskan untuk gantung sepatu dan fokus mengembangkan bisnisnya.

“Ada sesuatu yang berat (pindah klub bertetangga). Tapi kalau dari sisi profesional (sebenarnya) tidak ada masalah. Tapi semua itu kembali ke diri masing-masing,” pungkas mantan pemain Timnas Indonesia ini.

Nofik Lukman Hakim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here