Harmonisnya Persaudaraan PSS Sleman-Persis Solo

0
Petinggi Pasoepati saat menyambut kedatangan anggota BCS yang melewati kota Solo. foto: Instagram DPP Pasoepati

Pernah berseteru dan masuk sebagai salah satu laga yang rawan gesekan di Liga Indonesia beberapa tahun lalu, ternyata kini momen tersebut telah bergenti. Dua kubu suporter PSS Sleman dan Persis Solo, ternyata sudah lebih harmonis.

Di dalam dan di luar lapangan kedua kubu kompak mengumbar sikap harmonisnya. Dan dua musim terakhir banyak momen menarik tentang Solo-Sleman Connection. Seperti ini diantaranya.

 

BERAWAL DARI #PENAKSEDULURAN

Suporter Persis Solo dan Sleman yang sempat bermusuhan hebat, ternyata kembali akur dengan adanya ikrar damai.

Berbeda dengan perdamaian Pasoepati dan Bonek (Suporter Persebaya Surabaya) yang dilakukan dengan cara menanam bibit pohon di kediaman pendiri Pasoepati di Solo. Ternyata cara perdamaian suporter PSS dengan Persis sepertinya punya cara berbeda.

Gerakan damai itu dengan cara dimunculkannya sebuah hastag di akun media sosial, dengan nama #PenakSeduluran, yang sudah diumbar sejak tahun lalu. Hastag ini dimunculkan BCS saat Persis hendak bertanding ke Stadion Sultan Agung Bantul melawan Persiba Bantul.

Tak ada penghalauan, yang ada hanya penyambutan Sleman Fans dengan memberikan air mineral kepada Pasoepati maupun Surakartans yang melintas di Kota Jogja.

Efek besarnya memang belum terlihat kedua tim di satu tribun yang sama secara penuh, karena pertemuan PSS dan Persis di babak 16 besar Liga 2 2017 musim lalu, kedua panpel membuat sebuah kebijakan untuk tak memberikan kuota untuk suporter tamu.

Untuk BCS dan Slemania memang memutuskan benar-benar tak datang di Stadion Manahan saat PSS bermain melawan Persis, namun hal berbeda tak 100 persen terjadi di Stadion Maguwoharjo.

Saat Persis berlaga disana, ribuan Pasoepati memang satu komando untuk tak datang dan memilih menjalani nonton bareng di Benteng Vastenburg.

Namun komunitas suporter Persis lainnya yakni Surakartans atau B6 memutuskan untuk tetap berangkat. Sambutan yang diberikan oleh suporter tamu ternyata benar-benar di luar dugaan.

#PenakSeduluran benar-benar terjadi dan dilakukan disini. Surakartans begitu leluasa mengumbar chant-chant pendukungnya, disambut yel-yel Solo-Sleman bersaudara yang dinyanyikan bergantian kedua suporter diakhir laga. Bahkan anthem Persis Solo, Satu Jiwa bisa berkumandang dengan leluasa di laga ini.

DUA DIRIGEN SEMPAT SATU STEGER

Ada sebuah momen menarik yang terjadi di Stadion Maguwoharjo Sleman, 13 Juni 2017 silam, khususnya di tribun selatan. Dalam laga Timnas Indonesia melawan Puerto Rico tersebut, ternyata ada kejadian unik.

dirigen Pasoepati Ferdian Uyo dan Dirigen BCS Batak Jore saat menjadi dirigen Timnas melawan Puerto Rico di Stadion Maguwoharjo 2017 silam. Foto: Sambernyawa.Com

Dimana dirigen BCS Batak Jore satu steger dengan dirigen Pasoepati, Ferdian Uyo. Kedua pentolan suporter PSS Sleman dan Persis Solo tersebut terlihat kompak menyanyikan chant-chant untuk penyemangat Timnas yang tengah berlaga di Sleman.

DADAKAN DUKUNG PSS DI MAGUWO

Ada fenomena menarik saat laga penenetuan PSS Sleman di babak 8 besar melawan Persiraja Banda Aceh di Stadion Maguwoharjo Sleman (21/11) lalu. Bagaimana ada puluhan bahkan mungkin saja ratusan orang dari eks Karesidenan Surakarta pendukung Persis Solo yang menyelinap untuk menonton pertandingan ini.

Tujuan utama mereka tentu saja ingin melihat laga penting dengan fanatisme suporter PSS yang cukup terkenal antusias tersebut. Jauh dari sisi itu, suporter Persis baik Pasoepati maupun Surakartans ingin jadi salah satu saksi perjuangan PSS menuju ke Liga 1 yang lama diimpikannya.

Salah satu buktinya ada sebuah spanduk yang sengaja dipajang di Stadion Maguwoharjo di laga ini, bertuliskan “Ojo Kendo Man, Salam dari Solo”

TEMBOK KOKOH PERSIS PINDAH DUKUNGAN

Bukan sebuah keputusan mudah untuk Persis Solo melihat pemain bintangnya pindah ke tim rival. Namun inilah sepakbola, semua bisa terjadi.

Keberadaan duet centerback Gufron dan Ikhwan Ciptady begitu penting bagi Persis, yang dua musim terakhir termasuk jadi tim yang paling minim kebobolan.

Ikhwan Ciptady (pojok kiri) saat berpose dengan Dedi Cahyono, Asyraq Gufron dan Soni Setiawan. Empat pemain ini dua musim terakhir sama-sama membela Persis Solo. Foto : Nofik Lukman Hakim

Usai Persis Solo gagal lolos ke babak 8 besar, ternyata kedua pemain memutuskan untuk pindah ke PSS. Hampir tak ada kata-kata rasis yang menyudutkan keputusan keduanya, yang ada malah dukungan dengan harapan, keduanya bisa ikut membawa PSS promosi ke Liga 1.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here