Pengurus Olahraga di Indonesia Dituntut Lebih Modern dan Kreatif

0
Para peserta pelatihan manajemen olahraga dan kapasitas organisasi olahraga di Grand HAP Hotel, Solo, Selasa (7/8/2018) malam. Foto : Nofik Lukman Hakim

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggelar pelatihan manajemen dan kapasitas organisasi olahraga di Grand HAP Hotel, Solo, Selasa-Kamis (7-9/8/2018). Kegiatan ini digelar sebagai upaya agar pengurus olahraga lebih modern dan kreatif dalam mengembangkan organisasinya.

Ada 85 peserta yang diundang untuk menghadiri pelatihan ini. Mereka merupakan perwakilan dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Surakarta, KONI Surakarta, National Paralympic Committee (NPC), kelompok guru olahraga hingga puluhan cabang olahraga di Solo.

Asisten Deputi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, Herman Chaniago mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi Kemenpora dalam meningkatkan kualitas olahraga di Indonesia. Dia berharap kedepan para pengurus olahraga tak hanya menjalankan organisasi secara konvensional.

“Perlu ada perbaikan tata kelola organisasi. Bagaimanapun kedepan organisasi olahraga dituntut lebih modern, akuntabilitas dan mandiri. Kalau hanya mengandalkan anggaran dari pemerintah, saya kira agak susah untuk pengembangannya. Dibutuhkan tata kelola yang lebih mengerti dan kreatif mencari sumber pendanaan,” terang Herman Chaniago saat ditemui usai pembukaan di Grand HAP Hotel Solo, Selasa (7/8/2018) malam.

Real Madrid menjadi salah satu percontohan bagaimana kepengurusan tak hanya berfokus pada sepak bola. Klub asal Spanyol itu dengan kreatif mencari sumber pendanaan lain, mulai membuka museum klub hingga menjual merchandise.

Pengembangan bulutangkis di Indonesia juga menjadi contoh. Pihak-pihak swasta memberikan dukungan penuh pada pengembangan bulutangkis. Dengan kucuran dana dari sponsor, pencarian bakat muda dan pengembangan sang atlet menjadi berprestasi berjalan lancar. Hal sama juga terjadi di cabor basket yang kini kompetisinya semakin menggeliat.

“Kita ingin mewarnai dan mengubah mainset, cara pandang dari para pengelola organisasi, kita datangkan ahlinya, bagaimana mengelola organisasi yang baik, pendistribusian tugas, bagaimana mencari fundraising. Itu perlu diberikan pencerahan,” tuturnya.

Kota Solo bukanlah yang pertama kedatangan pelatihan dari Kemenpora ini. Sebelumnya pelatihan manajemen olahraga dan kapasitas organisasi olahraga sudah digelar di Bandung, Semarang, Jogja dan kota-kota lain. Total ada 24 kota yang disasar Kemenpora untuk pengembangan manajemen olahraga ini.

“Prestasi akan tercipta jika organisasi baik. Dana besar untuk pengembangan olahraga jangan hanya berharap dari pemerintah saja, perlu kreativitas untuk mencari sumber dana dari pihak lain,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Surakarta, Joni Hari Sumantri mengaku senang Kota Solo mendapat kesempatan untuk pelatihan manajemen olahraga ini.

Menurutnya, pengurus olahraga di Indonesia, khusus Kota Solo memang semestinya menciptakan peluang lain agar organisasinya semakin maju. Utamanya dalam menggandeng pihak swasta sebagai salah satu sumber pendanaan tambahan.

Nofik Lukman Hakim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here