Kasep Ayatulloh, Tanpa Kaki Bersyukur Tangannya Mendapat Berkah Keahlian Memasukkan Bola

0
Timnas Wheelchair Baseketball saat mengunjungi YPAC Solo memberikan motivasi kepada siswa disabilitas. Kasep Ayatulloh (berkursi roda berkerangka warna merah)

Kondisi tubuh yang ada, tentu jadi sebuah keputusan yang sudah disuratkan oleh sang maha pencipta. Hal inilah yang dirasakan oleh atlet bola basket kursi roda Indonesia atau Wheelchair Basketball yang akan terjun di Asian para Games.

Di olahraga baru, hampir semua atletnya memang berstatus atlet berkebutuhan khusus, yang terkendala dari sisi kaki.

Mereka ada yang sudah terkena polio sejak lahir, ada juga yang harus merelakan bagian kakinya diamputasi karena sebuah kecelakaan yang mereka alami.

Namun menyerah pada nasib tentu bukan jadi pilihan. Perjuangan untuk move on dan bangkit menatap masa depan tertanam pada diri mereka.

Salah satu sosok inspiratif tersebut adalah Kasep Ayatulloh. Dirinya jadi salah satu bintang Timnas Wheelchair Basketball.

”Saya bersyukur bisa masuk di tim ini, dan ini memang seperti sebuah impian saya sejak lama. Saya suka berolahraga, dan punya niat untuk membawa harum nama Indonesia, sempat tapi bingung caranya. Akhirnya tuhan memberi saya jalan untuk jadi atlet NPC, dan bersyukur kini saya bisa ada di posisi ini,” terangnya.

Jalannya di dunia Para Games, ternyata cukup panjang dan berliku. Beberapa cabang olahraga juga sempat dia tekuni.

Pada 2014 dirinya tercatat pernah mendapat perak Porda angkat berat untuk cabor angkat berat, lalu 2016 dirinya mendapatkan emas dari cabang voli duduk di ajang Pekan Peparalimpiade Nasional 2016.

Tahun lalu dirinya menyumbangkan emas di kejuaraan daerah NPC di Jawa Barat untuk cabor lempar lembing.

”Karena kondisi tubuh saya seperti ini (tanpa kedua kaki), makanya saya menekuni olahraga yang memiliki fokus kekuatan pada tangan. Dan Basket salah satu olahraga yang yang suka,” tuturnya.

Perjuangan inilah yang jadi sebuah inspirasi, tak salah jika panitia Asian para Games (Inapgoc) akhirnya membuat icon wheelchair basketball kepada sosoknya.

Seperti yang terlihat di beberapa video yang disebar Inapgoc sebagai media promosinya, dimana dirinya memarkan skill bermain bola basket.

”Bola basket kursi roda ini memang berbeda dengan yang normal. Mulai dari peraturan permainan, hingga teknik menyerangnya. Karena saya memulai ini dari nol, jadi pemahamannya butuh kerja keras. Tujuan utama dari sebuah pertandingan adalah kemenangan, dan saya berlatih keras untuk bisa mendapatkannya,” tuturnya

“Tubuh saya dan kursi roda harus menyatu. Kursi roda ini layaknya seperti kaki, yang harus bebas berlari menyusuri lapangan,” tuturnya.

Dirinya juga menilai potensi bola basket kursi roda di Indonesia cukup potensial untuk dikembangkan. Hanya saja tentu hal ini tak mudah, karena di ajang lokal yakni Pekan Paralymik Nasional belum digelar.

”Tak mudah memang untuk membentuknya, karena kendalanya harus memiliki kursi roda dulu, dan tentu tak murah ini. Tapi di kompetisi internasional sudah rutin digelar cabor ini,” ujarnya

Perjalanan debutnya di Asian Para Games akan dijalani di Jakarta 6-13 Oktober.

“tentu untuk mendapatkan medali cukup sulit, karena negara lain sudha memembangun timnas bekatnya sejak beberapa tahun lalu, dan kami baru mulai dibentuk Desember (2017) lalu. Jadi target utama kami fokus menatap laga pertama dulu, semoga bisa memberikan yang terbaik untuk negara. Mohon doanya untuksemua masyarakat di Indonesia,” harapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here