Sulit Menandingi Kesetiaan Alessandro Lucarelli, Penuhi Janji Bawa Parma ke Serie A

0
Para pemain saat merayakan kemenangan dalam pertandingan di serie B musim ini. Foto : Official Parma Calcio

Parma akhirnya kembali ke kasta tertinggi sepak bola Italia pada musim depan. Mereka meraih tiket setelah mengalahkan Spezia 2-0 dalam laga pamungkas Serie B di Stadion Alberto Picco, Sabtu (19/5/2018) dini hari WIB.

Raihan tiga poin membuat Parma mengunci posisi runner up Serie B atau tiket lolos langsung ke Serie A musim depan. Parma mengoleksi 72 poin dan surplus 20 gol. Mereka mengungguli Frosinone yang di laga terakhir ditahan imbang Foggia 2-2. Frosinone sama-sama mengoleksi 72 poin, namun kalah head to head dengan Parma.

Pesta bukan saja dilakukan penggemar yang hadir langsung di kandang Spezia. Seluruh pecinta sepak bola pun turut bergembira dengan kembalinya Parma ke pentas tertinggi. Mereka meraihnya dengan cara luar biasa.

Sejak meninggalkan Serie A tahun 2015 dan turun ke Serie D karena dinyatakan bangkrut, setiap musimnya Parma mampu promosi. Parma sukses promosi ke Serie C pada 2016 dengan jadi juara Serie D dan tak terkalahkan sepanjang musim. Lalu Parma promosi ke Serie B tahun 2017 dan musim ini jadi runner up Serie B sekaligus lolos langsung ke Serie A musim depan.

Bila bicara sosok penting dibalik kesuksesan Parma kembali ke Serie A, pelatih Roberto D’Aversa patut dipuji. Mantan pelatih Virtus Lanciano ini mampu meningkatkan permainan Parma dari musim ke musim. Selain dia, ada pula sosok playmaker muda asal Senegal, Bertrand Yves Baraye yang membela Parma sejak di Serie D.

Alessandro Lucarelli (berdiri dari kanan) saat memimpin timnya dalam laga Serie B. Foto : Official Parma Calcio

Dari semua itu, ada sosok penting yang cinta dan dedikasinya untuk Parma tak perlu dipertanyakan. Dialah kapten Parma, Alessandro Lucarelli. Untuk kali kedua, pemain berusia 40 tahun ini membawa Parma promosi ke Serie A.

Keberhasilan pertama dilakukannya pada musim 2008/2009 saat membawa Parma jadi runner up Serie B dan otomatis lolos ke Serie A pada 2009/2010.

Nama Alessandro Lucarelli mungkin tak banyak diketahui pecinta sepak bola Eropa. Sepanjang meniti karir profesional mulai tahun 1996, pemain bertinggi 182 centimeter itu belum sekalipun berbaju Timnas Italia. Sebelum gabung Parma tahun 2008, dia tercatat pernah membela Piacenza, Leffe, Palermo, Fiorentina, Livorno, Reggina, Siena dan Genoa.

Lucarelli adalah satu-satunya pemain yang bertahan bersama Parma sejak 2008. Bahkan saat terdegradasi dari Serie A musim 2014/2015 dan harus main di Serie D pada 2015/2016, Lucarelli tetap bertahan.

Dalam pertandingan lawan Spezia, Lucarelli menjadi palang pintu lini belakang Parma. Dalam laga itu, ada tiga pergantian yang dilakukan Parma. Namun nama Lucarelli tetap ada di lapangan hingga laga usai.

Alessandro Lucarelli saat turun dalam pertandingan. Foto : Official Parma Calcio

Pilihan Lucarelli untuk tetap bertahan bersama Parma memang mengagetkan. Bahkan ketika harus berlaga di kasta keempat, Lucarelli tetap setiap.

Sejatinya, pilihan ini sudah dipertanyakan sejak Lucarelli bergabung dengan Parma pada 2008 lalu. Kala itu, Lucarelli datang dari klub Genoa yang berlaga di Serie A musim 2007/2008. Sementara Parma merupakan klub yang berkompetisi di Serie B.

Pada musim perdananya bersama Parma, Lucarelli mencatatkan 38 penampilan dengan sumbangsih dua gol. Dia juga mengoleksi 13 kartu kuning dan dua kartu merah. Lucarelli sukses menjadikan Parma sebagai tim yang paling sedikit kebobolan pada musim itu. Parma kebobolan 34 gol dari 42 pertandingan. Parma juga memastikan diri promosi ke Serie A setelah menempati posisi dua klasemen akhir, dibawah Bari.

Alessandro Lucarelli (kanan) saat menyapa para pendukung setianya dalam Serie B. Foto : Official Parma Calcio

Kini, sejarah itu terulang. Lucarelli yang sudah berjanji akan membawa Parma ke Serie A menepati janjinya. Usai laga lawan Spezia, dia tak bisa membendung air matanya. Bahkan saat diwawancara, dia masih terlihat menangis.

“Saya sudah berjanji. Saya katakan saya akan membawa Parma kembali ke Serie A. Saya memenuhi janji saya,” kata Lucarelli kepada Sky Sport Italia, seperti dikutip dari Football Italia.

“Itu tidak nyata, itu tidak mungkin. Tidak ada yang bisa membayangkan akhir seperti ini, bahkan dalam mimpi terliar saya. Yang lain merayakannya, lalu kami mendengar sorak-sorai dari tribun. Saya tidak tahu apa yang terjadi (Saat Frozione imbang).”

“Ini adalah perjalanan yang kami mulai tiga tahun lalu di depan para penggemar yang luar biasa ini. Kami mengalami saat-saat yang sulit, kami selalu bangkit kembali. Mereka tidak pernah menyerah dan saya bangga menjadi kapten mereka.”

Parma mungkin akan jadi klub terakhir yang dibela Lucarelli. Pada Juli mendatang, Lucarelli akan genap berusia 41 tahun. “Sekarang saya bisa berhenti. Saya tidak tahu, kita akan lihat. Saya hanya perlu merayakannya sekarang.”

Nofik Lukman Hakim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here