Wenger Bocorkan Rahasia Soal Pep Guardiola, Ternyata Pernah Ditolak Gabung Arsenal

Arsene Wenger mengatakan dia menolak kesempatan untuk menandatangani Pep Guardiola karena dia telah melewati masa emasnya  sebagai pemain. Ia pun berpikiran bahwa Pep Guardiola tidak akan memberikan dampak signifikan untuk timnya kala itu.

Wenger mengungkapkan baru-baru ini bahwa Guardiola mengunjungi rumahnya agar bisa pindah ke Arsenal setelah ia meninggalkan Barcelona pada tahun 2001.

Tapi gelandang itu sudah mencapai usia 30 saat itu. Wenger mengatakan bahwa usianya adalah faktor utama untuk menolak Pep Guardiola bergabung ke Arsenal.

“Dia sudah melampaui puncak kariernya, dan saya memiliki pemain kelas atas dalam posisi ini. Sebagai pemain ia memiliki kualitas pembuatan keputusannya, kualitas distribusi bolanya, dan dia memainkan permainan passing yang sangat cepat, yang selalu menjadi DNA kami, “ kata Wenger jelang bentrokan timnya dengan tim besutan Pep Guardiola, Minggu (25/2/2018).

Wenger juga memuji Guardiola sebagai manajer hebat. Namun dia tidak setuju dengan anggapan bahwa pelatih  Spanyol itu telah mengubah permainan dan meningkatkan standar sepakbola modern.

“Tidak, karena Anda melihat Barcelona, ​​mereka masih merupakan tim terbaik di Eropa. Anda harus menerima bahwa permainan modern telah berubah, karena ada regrouping para pemain terbaik di sejumlah klub. Dan kita sebagai manajer mungkin kita memberikan filosofi kita, tapi saya pikir game ini milik para pemain, “ kata dia mengutip Espnfc.

Guardiola memenangi tiga gelar liga berturut-turut dan dua Liga Champions di Barcelona. Setelah itu ia memimpin Bayern Munich meraih tiga mahkota Bundesliga. Sekarang Pep tampaknya akan memastikan gelar Liga Utama pertamanya di musim keduanya di City, yang juga merupakan favorit Liga Champions.

The Gunners telah memenangkan enam pertandingan terakhir mereka di Wembley, termasuk kemenangan semifinal atas tim asuhan Guardiola di semifinal Piala FA tahun lalu. Wenger mengatakan bahwa catatan menunjukkan bahwa timnya memiliki kemampuan untuk menjadi yang terbaik dalam laga ini.

“Tekanannya selalu besar.  Tapi pada akhirnya, Anda harus bersikap dingin. Kita harus percaya pada kualitas kita.  Dan sejarah, dan kenyataan bahwa kita telah melakukannya sebelumnya, menunjukkan bahwa mengapa (tidak dapat) kita tidak menang lagi? ” jelasnya.