Karya Masterpiece Pep Guardiola Lebih dari Sekadar Uang

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola. Foto: Official Tim Manchester City.

Akhirnya Pep Guardiola bisa menaklukkan gelar Premier League di musim keduanya bersama Manchester City. Proyek besar-besaran dilakukan Pep Guardiola untuk membuktikan diri di tanah Inggris. Meski menelan duit banyak, sang filsuf sudah membuktikan bahwa karyanya di Man City bukan sekadar uang.

Dua musim di Manchester City, pelatih berkebangsaan Spanyol ini sudah mengeluarkan 526,3 juta euro. Jumlah tersebut tentu saja lebih besar dibandingkan saat dia membesut Bayern Munchen dan Barcelona.

Saat di Barcelona, ia menghabiskan duit 342 juta euro. Sementara di Bayern Munchen menelan budjet 204 juta Euro. Jika ditola secara keseluruhan, Guardiola sudah menghabiskan 1 miliar euro selama menjadi pelatih tiga klub ini.

Dari tiga klub ini yang paling jor-joran tentu saja saat di Manchester City. Tercatat ada enam dari sepuluh pemain termahal Man City yang dibeli saat era Guardiola. Enam pemain ini adalah Laporte (58,5 juta pounds), Benjamin Mendy (51,75 juta pounds), John Stones (50,04 juta pounds), Kyle Walker (45,9 juta pounds), Bernardo Silva (45 juta pounds), dan Leroy Sane (45 juta pounds).

“Saya adalah orang yang beruntung. Ketika orang-orang mengatakan Anda menang karena Anda membelanjakan uang ini, saya akan mengatakan sesuatu: Anda benar. Tidak mungkin melakukan itu tanpa uang,” jelas Pep sebelum laga derby Manchester seperti dikutip Soccerway.

Dukungan keuangan yang selalu dinikmati Guardiola, dan akan terus berlanjut di City. Ini  benar-benar menjadi bagian dari narasi kariernya.  Walau demikian, perlu dicatat bahwa gelontoran uang ini tidak akan mengubah labelnya sebagai pelatih visioner dengan karya besar taktinya.

Guardiola datang ke Manchester City dalam suasanya tim yang pincang. Man City finis di peringkat keempat pada musim 2015/2016. The Citizens menyelesaikan musim itu di belakang Leicester City yang menjadi jawaranya

Musim pertamanya di Premier League berlangsung kurang mulus. Sang filsuf limbung. Filosofinya mulai dipertanyakan. Pep Guardiola dianggap kesulitan untuk berkompetisi di Premier League. Racikannya tidak berjalan sesuai rencana. Belum lagi pemain yang sudah uzur, menjadi catatan tersendiri bagi musim Guardiola.

Pada musim keduanya, Pep yang sudah melakukan transfer mahal dengan membeli pemain-pemain muda mulai membuktikan diri sebagai master. Beberapa pemain lawas dipolesnya menjadi pemain pilar musim ini.

Sebut saja De Bruyne telah bermetamorfosis dari seorang gelandang serang berkaliber tinggi dengan bakat untuk mencetak gol dan haus untuk memberikan assist pada rekan-rekannya.  Ia lebih konsisten, lebih tenang dan lebih efektif. De Bruyne sebagai salah satu dari dua playmaker menyerang bersama Silva dalam racikan 4-3-3 milik Guardiola.

Raheem Sterling juga bersinar di era Guardiola. Setahun sejak menjadi pemain Inggris paling mahal dalam sejarah, Sterling tampak sebagai pemain dengan performa buruk saat berkompetisi Euro 2016. Sterling dan Leroy Sane secara konsisten memperagakan kerjasama yang apik dalam lini serang Man City.

Sejauh ini lini serang Manchester City adalah yang paling produktif disbanding tim Liga Premier lainnya. Man City menyarangkan 93 gol dalam 33 laga.

Satu hal yang tak dilupakan adalah kinerja lini belakang dari Man City. Barisan pertahanan yang dikomandoi Nicolas Otamendi berhasil menjadi tim di Premier League yang paling sedikit kebobolan. Mereka baru kebobolan 25 gol.

Polesan dan racikan masterpiece sang pelatih ditambah dengan kucuran dana untuk meremejakan skuat menjadi penegas bahwa Pep Guardiola mendapatkan kepercayaan sebagai pelatih terbaik dunia. Ia menantang para pemainnya meningkatkan kualitasnya dengan cara Guardiola. Dan ia memastikan bahwa kerja kerasnya menuai hasil.