Curhat Gianluigi Buffon, 2018 Adalah Tahun yang Rumit

Aksi kiper Juventus, GIanluigi Buffon. Foto: Official Twitter Juventus

Keberlanjutan karier dari kiper sekaligus kapten Juventus Gianluigi Buffon masih menjadi tanda tanya. Ia mengungkapkan bahwa tahun ini menjadi waktu yang secara emosional rumit.

Gianluigi Buffon sempat menyatakan bahwa setelah Piala Dunia Rusia dirinya akan pensiun. Sayangnya pada tahun 2018 ini banyak tragedi yang seharusnya tidak terjadi. Tragedi yang dimaksud adalah kegagalan Timnas Italia melaju ke putaran final Piala Dunia 2018.

Sementara di level klub, Juventus lagi-lagi gagal untuk mendulang trofi si kuping besar. Bahkan Juventus kalah secara tragis dari Real Madrid. Gianluigi Buffon pun juga mendapatkan kartu merah dalam laga perempatfinal Liga Champions melawan Real Madrid.

“Sudah pasti tahun yang rumit secara emosional, itu tidak dapat disangkal, karena itu terlalu awal untuk kemudian harus dengan sepenuh kekuatan untuk menangani segala sesuatu yang terjadi secara rasional,” kata ia Buffon.

Kiper berusia 40 tahun ini kerap diselimuti pikiran untuk mengakhiri kariernya ataukah harus melanjutkan rutinitasnya menjadi pemain sepakbola. Namun ia masih belum bisa mendapatkan jawaban atas kegalauan tersebut.

“Bahkan baru-baru ini, saya akan bangun setiap pagi, melihat diri saya di cermin dan kemudian melihat ke bawah di kaki saya berkata: apakah Anda adalah yang terkuat di dunia atau Anda adalah orang yang paling payah dan mengerikan di dunia. Karena untuk berdiri di sini setelah semua yang terjadi bukanlah sesuatu yang bisa ditangani semua orang, “ kata mantan kipper AC Parma ini.

Pada dua pekan lalu dalam lanjuta Serie A, Juventus  unggul 3-2 dari Inter Milan.Seandainya saja Juventus kalah dalam laga ini maka trofi Scudetto yang ada di depan mati bakal terancam. Tapi hingga saat ini, Juventus sukses melaju untuk menjadi yang terdepan meraih Scudetto. Ini juga tak terlepas dengan rival terdekatnya Napoli, tanpa kemenangan dalam dua laga terakhirnya.

“Saya pikir Juve dan saya memiliki kekuatan yang sama, yaitu ketika kami memberikan perasaan bahwa kami sudah selesai, kami berhasil mendapatkan permainan, hasil dan musim kembali berdiri. Kami punya sembilan nyawa, seperti kucing, “ jelas dia dilansir Football Italia.