Real Madrid vs Liverpool, Apakah Juara Liga Champions Bisa Menyelamatkan Zidane?

Di klub mana pun,  memenangkan Liga Champions ketiga berturut-turut akan mewakili prestasi besar. Akan ada perpanjangan kontrak  bahkan mungkin patung untuk menghormati mereka yang berhasil melakoninya. Jadi mengapa rasanya seperti pertandingan Sabtu di Kiev bisa menjadi tugas terakhir Zinedine Zidane?

Tentu saja, Real Madrid bukan klub biasa. Mereka, dalam banyak hal adalah klub paling penuntut di Eropa. Los Merengues siap untuk memecat siapa pun pelatih yang  dianggap memberikan performa  di bawah standar.

Lihatlah dua pelatih Liga Champions sebelumnya. Mereka memecat Vicente del Bosque pada 2003, setahun setelah menaklukkan Eropa dan beberapa hari setelah mengangkat LaLiga. Pasalnya presiden Florentino Perez mengatakan Vicente del Bosque tampak kelelahan.

Hal itu terulang pada Carlo Ancelotti 12 tahun kemudian.  Soccerway mencatat bahwa Ancelotti adalah sosok yang memberikan mahkota Eropa ke-10 yang terkenal itu. Real Madrid memecatnya setelah  Perez merasa mereka membutuhkan “dorongan baru”.

Perez tak dapat disangkal adalah sosok penting dan tidak sulit untuk membayangkan dia bisa mengirim Zidane berkemas lebih awal musim ini. Mengingat Zidane gagal mempertahankan trofi La Liga setelah mengalami awal musim yang tidak mulus.

Faktanya adalah, posisi Zizou terlihat lebih tidak meyakinkan daripada yang pernah ada dalam waktu hampir tiga tahun bersama Real Madrid. Ada kemungkinan  meski sukses mengalahkan Liverpool tidak akan cukup untuk menyelamatkan nasibnya di Real Madrid.

Jika merujuk pada angka maka pemecatan Zidane akan menggelikan. Madrid telah memenangkan 103 dan hanya kalah  16 dari 148 pertandingan yang mereka mainkan di bawahnya di semua kompetisi. Mereka telah mencetak 390 gol pada waktu itu dan memberi mereka rata-rata kasar kemenangan 3-1 per game.

Mereka telah memenangkan kembali Liga Champions, tim pertama yang melakukannya. Los Merengues di bawah Zidane sukses membawa satu gelar LaLiga, dua Piala Super UEFA, dua Piala Dunia Klub, dan satu Supercopa de Espana.

Ketika mengambil alih skuat dari Rafael Benitez, Zidane sukses menanamkan filosofi bekerja keras, kemudian bekerja lebih keras, dan hasilnya akan menyusul. Zidane mengatakan bahwa rahasia kemenangan adalah “lari, lari dan lari”.

Etos itu meresap musim lalu. Gol-gol di menit akhir datang saat melawan tim seperti Sporting Gijon, Valencia, Real Betis, dan Las Palmas. Hal itu  membantu mereka meraih mahkota liga pertama sejak 2012.

Mereka menyingkirkan tim-tim seperti Napoli, Bayern Munich dan Juventus di Liga Champions. Ruang ganti yang terkenal cepat panas berubah menjadi harmonis dan menjadi contoh bagi seluruh dunia.

Tidak ada cetak biru yang jelas, tidak ada sistem untuk membuat Anda berpikir ‘ini adalah tim Zidane yang tepat’.  Liga Champions telah membuat musim mereka hidup. Mereka telah mengalahkan juara Perancis, Italia dan Jerman untuk mencapai final Liga Champions.

Mereka merupakan favorit saat melawan  Liverpool. Tetapi untuk membangun kesuksesan itu, Madrid mungkin membutuhkan pikiran yang segar dan perspektif baru di ruang istirahat.