Boxing Day: Dari Sebuah Tradisi Menjadi Kompetisi

Ilustrasi Boxing Day (Independent)

Bulan desember telah tiba. Itu artinya klub-klub Inggris akan menjalani laga yang padat.

Salah satu partai yang ditunggu-tunggu di bulan ini adalah Boxing Day. Laga ini biasanya dilaksanakan sehari setelah hari Natal.

Istilah Boxing Day mulai populer sejak abad ke-19. Saat itu wilayah Britania Raya masih dalam kekuasaan Ratu Victoria.

Perayaan Boxing Day kala itu dibuat sebagai apresiasi kepada masyarakat dari kasta rendah yang sudah melayani tuannya selama setahun penuh. Bentuk apresiasi tersebut berupa kotak (box) yang berisi berbagai hadiah, dan jatah libur pada 26 Desember, satu hari setelah Natal.

Seiring perkembangan, istilah Boxing Day mulai melebar dalam kehidupan masyarakat Inggris. Salah satunya dengan menyajikan pertandingan sepakbola tepat satu hari setelah Natal.

Sepakbola yang merupakan bagian tak terpisahkan bagi orang-orang Inggris jadi salah satu kado natal terindah. Orang-orang Inggris di hari itu berbondong-bondong membawa keluarganya untuk datang melihat pertandingan sepakbola.

Laga Boxing Day pertama tercipta pada 26 Desember 1860 saat Sheffield FC menghadapi Hallam FC di Sandygate Road. Setelah itu Boxing Day terus dipertahankan hingga sekarang.

Bahkan ketika Liga Inggris yang kala itu bernama Football League dihentikan karena Perang Dunia I, laga Boxing Day tetap dilaksanakan dengan meriah.

Saat itu juga ada sebuah momen menarik kala tentara Jerman dan Inggris yang saling berperang menghentikan gencatan senjata untuk merayakan Natal dengan bermain sepakbola. Peristiwa tersebut terkenal dengan nama Christmas Truce of 1914.

Kini Boxing Day tak cuma sekedar hiburan bagi penduduk Inggris. Laga ini menjadi sebuah kompetisi ketat di tengah padatnya jadwal pertandingan.

Tak jarang pertandingan-pertandingan big match mewarnai Boxing Day. Tapi untuk Boxing Day tahun ini tak akan tersaji pertandingan besar.

Tim-tim seperti Manchester City, Liverpool hingga Chelsea menghadapi tim yang relatif lebih mudah.