Persebaya Akhirnya Gagal Mendatangkan Andik Vermansyah

Andik Vermansyah (kiri) saat berseragam Timnas. FOTO: Twitter Andik Vermansyah.

SURABAYA – Harapan besar Bonek Mania untuk mendatangkan Andik Vermansyah akhirnya resmi gagal teralisasi.

Persebaya Suarabaya akhirnya resmi menghentikan perburuan untuk mendapatkan tanda tangan mantan pemain liga Malaysia Selangor FA musim lalu tersebut.

Presiden klub Arzrul Ananda yang akhirnya harus turun tangan pun ternyata tetap gagal mengembalikkan Andik ke klub asalnya yang sempat dibelanya saat zaman IPL tersebut.

Negosiasi harga memang dianggap jadi salah satu kendalanya.

Kini, Azrul Ananda selaku presiden klub Persebaya resmi menghentikan ketertarikan terhadap Andik. Dalam surat terbukanya, yang disebar di akun resmi klub.

Terkait kendala apa saja yang membuat langkah untuk mendapatkan Andik jadi begitu rumit. Manajemen menegaskan menghentikan langkah, agar tidak mengorbankan kepentingan klub karena mengharapkan satu pemain untuk bergabung.

Berikut surat terbuka Azrul Ananda yang diunggah via situs resmi klub, Persebaya.id:

“Kepada semua pihak yang mencintai Persebaya. Sebagai presiden klub Persebaya, tugas saya yang utama adalah memastikan kelangsungan hidup tim, membuat program dan perencanaan untuk pengembangan masa depan tim yang sustainable, sekaligus mengejar prestasi terbaik.

Mengelola tim ini sama dengan mengelola berbagai perusahaan, bahwa kita harus siap mengambil risiko dan membuat keputusan-keputusan yang tidak populer. Tidak ada satu individual atau satu pihak yang lebih besar dari tim/perusahaan secara keseluruhan.

Dan itu termasuk mengenai pemain.

Karena itu, demi kepentingan tim yang lebih besar, untuk 2018 ini saya memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan bergabungnya Sdr. Andik Vermansyah di Persebaya. Walau pun itu sebenarnya merupakan keinginan awal tim, harapan besar sejumlah penggemar, dan keinginan Sdr. Andik sendiri.

Kami sudah berkomunikasi dengan pihak Sdr. Andik sejak lama, walau tidak pernah mempublikasikan atau menunjukkannya secara publik. Belakangan, ketika ada tanda-tanda komplikasi, saya sebagai presiden klub berkomunikasi langsung dengan Sdr. Andik.

Via pesan teks, pihak Sdr. Andik selalu menekankan soal angka. Bagi kami itu wajar. Ini olahraga profesional. Tapi seandainya angka itu bukan masalah bagi kami, tetap ada hal-hal lain yang harus dibicarakan. Ini bicara soal tim, dan rencana masa depan tim. Bukan soal satu orang, dan rencana satu orang tersebut.

Cara terbaik untuk membahasnya adalah dengan bertemu langsung, berbicara baik-baik, dan merancang apa yang terbaik untuk bersama. Bukan hanya untuk satu tahun.

Bulan Desember lalu, kami sudah mengajak bertemu. Tapi pihak Sdr. Andik membatalkan pertemuan tersebut. Belakangan, pihak Sdr. Andik memutuskan untuk berbicara langsung dengan kami, tidak lagi menggunakan agen.

Pada 17 Januari lalu, untuk membicarakan segalanya segala tuntas, kami mengundang Sdr. Andik untuk bertemu bersama saya, manajer tim, serta tim pelatih. Dengan demikian kita bisa tuntas membahas semua perencanaan untuk kebaikan bersama. Bukan hanya soal angka. Bukan hanya untuk satu tahun.

Pihak Sdr. Andik lantas membatalkan pertemuan, dengan alasan sudah telanjur janji dengan pihak dari Malaysia.

Pada 18 Januari, kami kembali bertukar pesan teks. Pihak Sdr. Andik kembali menegaskan soal angka. Apakah kami bersedia atau tidak, dan supaya kami tidak memaksakan kalau memang tidak bersedia.

Saya sampaikan lagi, bahwa tentu saya tidak akan memaksakan diri untuk memenuhi permintaan Sdr. Andik. Dan saya tegaskan bahwa kami memikirkan Persebaya bukan hanya untuk satu tahun. Bagaimana pun tetap yang terbaik adalah duduk bersama. Yaitu Sdr. Andik bersama saya, manajer tim, dan pelatih.

Setelah itu tidak ada balasan sama sekali kepada saya.

Saya pun jadi bertanya, kenapa tidak mau duduk bersama berdiskusi tentang tim? Kenapa hanya soal angka yang untuk setahun? Dan saya harus menegaskan terus kepada semua pihak, bahwa tim ini tidak untuk satu tahun, tidak untuk satu orang.

Kalau saya biarkan ini berlarut-larut, maka ini tidak akan fair kepada tim. Khususnya kepada para pemain yang sekarang sudah berada di Persebaya, yang sudah tampil habis-habisan demi kebaikan tim. Apalagi mereka yang tahun lalu ikut berjuang meloloskan Persebaya kembali ke Liga 1.

Tim ini bak sebuah kereta yang sudah berjalan, dan siap berlari kencang. Dan kereta tidak akan berhenti hanya untuk satu orang.

Persebaya lebih besar dari kita semua. Selama ini kita semua, baik di internal tim dan para suporter, telah berupaya keras untuk memastikan Persebaya eksis dan berjaya dari ancaman pihak-pihak luar yang tidak menginginkan Persebaya sukses.

Tapi ketika tim sudah memasuki era membangun, maka sekarang kita tidak boleh lengah dari ancaman yang lain. Yaitu ancaman dari kita sendiri, atau dari lingkungan di sekitar kita sendiri.

Saya percaya ini semua adalah proses menuju lebih baik. Harus dingin, tidak emosional dalam menanggapi segala hal.

Saya percaya Persebaya bisa menjadi tim yang paling maju di Indonesia. Dan saya yakin Persebaya sudah berada di jalur yang benar, siap melaju kencang.

Kalau Anda memang tulus mencintai dan mendukung Persebaya, saya yakin Anda bisa memahami keputusan ini, dan ikut membantu menciptakan aura positif dan asyik bagi semua pihak yang ingin mendukung kemajuan Persebaya.”

Jaladwara