Pemain Belanda Blak-Blakan Borok Sepakbola Indonesia (6)

Kristian Adelmund (kiri) bersama pemain PSS Sleman. FOTO: Twitter Kristian Adelmund.

BERMAIN DALAM TEKANAN DERBY DENGAN KLUB RIVAL

 

Pemain asing asal Belanda Kristian Adelmund sadar bahwa klub PSS Sleman yang sempat dibelanya di kompetisi Liga Indonesia adalah rival besar klub pertamanya, yakni PSIM Jogja, hingga Persis Solo.

“Saya bermain di derby sekali (kontra PSIM). Para pendukung tentu saja melihat pandangan kepada saya. Selama pemanasan, semuanya tertuju kepada saya. Untungnya, selalu ada banyak polisi dan pihak keamanan dalam pertandingan yang membuat saya jadi merasa aman,” beber Adelmund kepada Vice Sports.

Dirinya juga mengkritik keamanan di setiap laga kandang. Terkadang suporter klub yang dibelanya tidak diperbolehkan datang ke dalam pertandingan dengan alasan keamanan.

Terkadang teror suporter juga membuatnya tak bisa fokus untuk menjaga pertahanan gawangnya agar tidak kebobolan.

“Saya harus melihat bola di sisi lapangan, dan juga ikut menghindari batu pada saat bersamaan. Setelah itu, kami dibawa pergi menaiki sebuah mobil menyerupai tank (barakuda-red) oleh polisi. Saya sering mengalami momen seperti ini di Indonesia,” bebernya

Momen pertandingan PSS Sleman melawan Persis Solo di Stadion Manahan 2013 silam juga tak akan dilupakannya. Kala itu timnya hanya mau bermain selama 45 menit pertama saja.

Teror nyanyian dari suporter Persis Solo, yakni Pasoepati membuat para pemain PSS bertanding dengan penuh tekanan.

Dalam ungkapannya dalam wawancara dengan Vice Sports, dia mengungkapkan di laga itu ada suporter wanita yang diperkosa, hingga ada korban suporter yang meninggal.

Sejatinya hal tersebut sama sekali tak terjadi. Dalam laga tersebut memang sempat ada sweeping suporter tamu, namun tak sampai memakan korban jiwa seperti yang terlalu dibesar-besarkan dimunculkan di media sosial kala itu. Kabar tanpa ada berita yang sepenuhnya konkrit.

“Tidak ada pendukung kami (BCS dan Slemania) yang diizinkan datang dalam pertandingan, namun pada akhirnya ada beberapa hal bodoh yang terjadi. Pertandingan itu benar-benar suram. Pemain saya (PSS) terkena lemparan batu di kepala, tapi wasit terus memutuskan pertandingan berjalan,” bebernya.

Saat laga itu PSS memutuskan untuk tak melanjutkan laga dengan alasan keamanan di babak kedua.

”Kita harus melewati sebuah trowongan yang terbuat dari perisai polisi, untuk menjaga kepala kami. Pelatih saya bilang tidak akan masuk ke lapangan lagi. Demi keamanan, kami tidak menyelesaikan pertandingan itu,” bebernya.

Keputusan itu membuat PSS dianggap kalah WO. Laga yang sebenarnya masih bertahan seri 0-0, dianggap 3-0 untuk kemenangan Persis karena PSS enggan melanjutkan pertandingan.

Namun ending dari laga itu ternyata berbeda nasib di akhir kompetisi. Ini jadi laga terakhir Persis Solo di musim itu, karena PSSI memberi keputusan sanksi diskualifikasi Persis dari kompetisi karena dianggap tidak menjalani dua laga tandang sebelum laga kontra Sleman di Solo tersebut.

Sementara untuk PSS, Adelmund cukup berbangga, karena dia bisa ikut membawa tim ini menjadi juara.

”Begitu kami menjadi juara di kasta kedua, setelah pekuit terakhir dibunyikan banyak orang yang menangis. Kami mendapat kesempatan pawai menggunakan sebuah kendaraan. Sejauh mata saya memandang, hanya rombongan sepeda mengikuti kami dari belakang. Saya akhirnya membuat sebuah tato berbentuk piala dan tanggal juara di kaki saya,” ujar pemain asal Belanda tersebut.

Bersambung..klik disini

Jaladwara