Menarik Bahas Tanggal Lahir Persis Solo dan Klub Perserikatan Lainnya

Logo Persis Solo. Grafis : Nofik Lukman Hakim

Persis Solo berdiri di bulan Maret 1923. Tentu jadi sebuah berita yang bagus untuk perkembangan sejarah Persis Solo.

Munculnya akhir bulan Maret 1923 sendiri berasal dari koran terbitan Solo, yakni Darmo Kondo edisi 31 Maret 1923. Di mana disitu tertulis jelas bahwa Persis berdiri oleh empat klub lokal. Seperti ini isi artikel di Darmo Kondo tersebut:

Dari oesahanja perhimpoenan Djawa voetbalen R.O.M.E.O, Legion, De Leeuw, M.A.R.S, telah saja memperdirikan bond, dan bond itoe diberi bernama “Vorstenlandsche Voetbal Bond Soerakarta”, dan Statuntennja akan dipohonkan hak recht persoon kepada pemerintah. Madjoekah kepada sport

Dalam artikel di KAMPIUN.ID sebelumnya soal tanggal kelahiran Persis Solo (klik disini), penulis artikel tersebut Ardian Nur Rizki mengungkapkan bahwa Persis Solo berdiri ditanggal 30 Maret 1923. Jika benar tanggal tersebut, jelas kemarin umur Persis Solo genap berusia 95 tahun.

”Saya tidak berani bilang tanggal 30 Maret sebagai ulang tahun Persis Solo, soalnya di artikel Darmo Kondo tersebut tak menuliskan angka tanggalnya. Kalau keyakinan Persis/VVB itu lahir di bulan Maret, itu sangat jelas tertulis,” terang salah satu pengamat sejarah Persis Solo, Nikko Auglandy.

Salah satu wartawan lokal di Kota Solo ini juga mengakui sempat melihat langsung bentuk koran tersebut di Perpustakaan Nasional di Jakarta dalam bentuk mikro, 2016 silam.

Saat itu dirinya melihat pemberitaan VVB usai muncul di koran terbitan 31 Maret, semakin gencar, sepertinya pembahasan soal sepakbola bagi tim redaksi Darmo Kondo jadi sebuah hal yang wajib diberitakan.

”Disitu terlihat setelah terbitan tanggal 31 Maret, tepatnya di bulan April digelar sebuah turnamen besar di Solo, yang pesertanya dari klub lokal Solo, Jogja Semarang, hingga Klaten. Dan di edisi sebelumnya yakni 28 Maret tak ada pembahasan soal bola. Saat itu Darmo Kondo sepertinya terbit tiga hari sekali. Dan saya memiliki pemikiran, bisa saja rapat pembentukan VVB digelar di tanggal 28, 29, 30 Maret-nya,” ucapnya.

Tapi yang saat ini jadi pertanyaan adalah, tanggal 8 November itu benar atau salah sebagai tanggal lahir Persis. Sebab sejak tahun 2013, tanggal tersebut selalu dirayakan suporter Persis. Merujuk pada munculnya koran bahasa Belanda, yang (katanya) ditemukan di museum Ultrecht di Belanda.

”Saya belum pernah lihat secara nyata lembaran koran itu (versi 8 November) secara langsung, jadi belum bisa memastikan. Terlebih koran itu hanya sekitar 20 persen dari potongan selembar koran utuh, jadi cerita di dalamnya seperti apa belum jelas. Penulisan tanggal tersebut asli atau tidak juga belum tau, karena literasi yang ada tak menjabarkan itu koran apa dan terbitan tanggal berapa,” terangnya.

Dirinya malah sedikit kurang yakin dengan tanggal tersebut. Hal ini lantaran terdapat sebuah piala berbentuk cangkir di Balai Persis, yang disitu tertera tulisan Klaten, 3-9-1923. yang itu artinya piala ini jadi hadiah utama dalam sebuah turnamen di Klaten pada tanggal 3 September 1923.

”Jika benar ini piala yang diraih oleh Persis, tentu tanggal ulang tahun Persis semakin bercabang. Soalnya tanggal penyerahan piala ini dua bulan sebelum versi ultah tanggal 8 November tersebut,” ucapnya.

Dirinya pun mengakui bahwa polemik soal tanggal lahir memang banyak terjadi di Indonesia, seperti kasus PPSM Magelang yang banyak pihak menuliskan dengan tahun yang berbeda, dari 1919 hingga 1925.

”Soal tanggal memang butuh pendalaman, dan itupun bisa didapat dari data-data jurnalistik, seperti koran lawas. Itupun kalau dapat,” jelasnya.

”Banyak catatan yang janggal hingga saat ini. Ambil contoh, lihat jersey PSIK Klaten musim ini. Di situ tertulis, tahun 1946 di logo klub, padahal sejarah mencatat PSSI meresmikan 18 anggota PSSI-nya di tahun 1937, seperti yang tercatat di koran Olahraga terbitan Maret 1937. Salah satu dari 18 daftar tersebut terdapat nama PSIK, yang salah satu pimpinannya bernama Soenardi. Jadi yang benar PSIK lahir ditahun 1930an, atau 1946,” katanya.

Nofik Lukman Hakim