Pelatih PSS Sleman Ternyata Pernah Jadi Bintang Pujaan Pasoepati, Ini Buktinya

Pelatih PSS Sleman, Seto Nurdiyantoro saat memberikan arahan pada pemain dalam sesi latihan di Lapangan UNY, Depok, Sleman, Kamis (2/8/2018). Foto : Nofik Lukman Hakim

Nama Seto Nurdiyantoro tentu cukup mencuat namanya saat ini, terlebih dirinya baru saja sukses membawa PSS Sleman menjadi juara Liga 2 2018. Prestasi ini tentu cukup membanggakan baginya, yang mulai menukangi PSS sejak 2016.

Sebelumnya, Seto tercatat sebagai pelatih klub tetangga PSIM Jogja sejak musim 2013-2015.

Selama karirnya sebagai pemain, Seto sempat beberapa kali bergabung dengan banyak klub besar di Indonesia, Mulai dari Pelita Solo, PSS Sleman (2001-2005), Persiba Bantul (2009-2011), dan PSIM Yogyakarta dalam dua periode berbeda, yakni musim 2006 sampai 2009, dan 2011-2013.

Melihat catatan sejarah manis tersebut, Seto tentu jadi salah satu pemain yang sukses bermain untuk tiga bond besar dari DIY. Baik itu Persiba, PSIM maupun PSS Sleman.

Selain jadi idola Brajamusti (Suporter PSIM), Panserbumi (Suporter Persiba), dan Slemania yang jadi pemain ke-12 PSS Sleman, ternyata pria asal Kalasan tersebut juga sempat jadi idola suporter asal Solo yakni Pasoepati.

Dirinya jadi idola Pasoepati bukan lantaran bergabung dengan Persis Solo, melainkan dengan klub asal Jakarta yang tengah berhomebase di Stadion Manahan pada musim 1999/2000, dan 2000/2001, yakni Pelita Solo.

Skill individunya memukau, dan tajam di mulut gawang lawan. Hal inilah yang membuat namanya selalu dielu-elukan Pasoepati, yang saat itu baru berdiri. Seto jelas jadi saksi hidup berdirinya Pasoepati yang berdiri tahun 2000.

Bahkan nama asli Pasoepati sendiri adalah Pasukan Suporter Pelita Sejati. Hingga akhirnya ketika Pelita keluar dari Solo, nama kepanjangan Pasoepati ikut berubah menjadi Pasukan Suporter Paling Sejati.

Debut perdana Pelita di Solo pada Divisi Utama 1999/2000 langsung memukau. Sayang Pelita tumbang di babak 8 besar.

Untuk musim keduanya ternyata berjalan dengan hasil yang kurang memuakan. Karena mereka gagal lolos ke babak 8 besar lagi seperti musim sebelumnya.

Sementara itu, dilansir dari rsssf, gol pertama Seto untuk Pelita terjadi saat tim ini bertandang ke markas PSS Sleman. Sayang golnya di menit ke-4’ (14/1/2000), gagal membawa Pelita menang, karena PSS berhasil mencetak gol lebih banyak. Mereka menang dengan skor 2-1, lewat gol Gatot Ismawan (59’), dan M. Iksan (49’).

Februari 2000, Seto sukses menabung tiga gol tambahan. Pertama satu gol di menit ke-15, saat Pelita menang di kandang kontra Gelora (1/2/2000) dengan skor 2-0. skor sama diraih saat melawan Persma Manado (18/2/2000), dan Seto mencetak satu gol di menit ke-33’.

Saat melawan Persipura di Manahan (22/2/2000), Seto mencetak dua gol di menit ke-12’, dan 87’, yang membawa Pelita menang 2-0 atas Persipura.

Setelah itu Seto mencetak satu gol perlaganya lewat titik penalti di tiga laga beruntun yang dijalaninya Pelita. Yakni saat melawam PKT Bontang (11/3/2000), lalu Barito Putera (13/6/2000), dan Petrokimia (2/7/2000).

Sayangnya tiga laga tersebut berakhir tak memuaskan. Yakni sekali seri melawan Petrokimia (1-1), dan dua laga lainnya berakhir kalah.

Laga launnya yakni pada 5 Agustus 2000, dua gol Indriyanto Nugroho, dilengkapi Seto, yang ikut membawa Pelita menang 3-1 saat melawan Pupuk Kaltim di Manahan.

Laga kontra PSS Sleman di Manahan jadi laga terakhir Pelita di musim tersebut. Menariknya Pelita sukses menang dengan skor 4-1 di Stadion Manahan yang semua golnya dicetak oleh Seto. Yang mana empat gol Pelita tersebut terjadi di menit ke-22′, 49′, 77′, dan menit ke-84′.

Sementara itu satu-satunya gol Super Elang Jawa dicetak oleh M Nurhuda di menit ke-64.

Sayang di musim 2001 ini, Pelita harus berada di posisi ke-11 dengan tabungan 25 poin. Ini hasil dari tujuh kemenangan, empat kali seri dan 14 poin.

Posisi ini, ternyata hanya unggul dari Persijap (23 poin), Persma Manado (20 poin), dan Putra Samarinda (14 poin), yang harus legawa terdegradasi ke Divisi I, karena ada di posisi tiga terbawah Divisi Utama grup timur.

Di musim ini, Seto tercatat mencetak 13 gol untuk Pelita. Raihan ini kalah jauh dibandingkan top skor musim tersebut, yang digenggang oleh Baco Saddisau dari Barito Putra yang sukses mencetak 22 gol.

Bintang Pelita di musim tersebut adalah Eko Pudjianto, Haryanto Prasetyo, Asep Dayat, Aples Tecuari, Ansyari Lubis, hingga I Made Pasek Wijaya.

Musim selanjutnya (Divisi Utama 2001/2002), Pelita memutuskan keluar dari Solo dan pilih berhomeground di Cilegon dan berganti nama menjadi Pelita Krakatau Steel.

Seto sendiri memutuskan pulang kampung ke Sleman, dan bergabung dengan klub PSS.

Inilah Video Gol Seto saat berseragam Pelita Solo saat bermain di hadapan ribuan Pasoepati: