Ribuan Brajamusti Pernah Membirukan Stadion Manahan, Inilah Momen Langka Tersebut

Brajamusti membirukan tribun selatan Stadion Manahan di babak play off Divisi I 2003. Foto: twitter Sepakraga Mataram.

PSSI sepertinya membuat sebuah kebijakan untuk memisahkan klub Persis Solo dan PSIM Jogja di grup yang berbeda. Padahal dari sisi geografis, sejatinya kedua klub ini bertetangga.

Masalah rivalitas yang rawan terjadi gesekan jika kedua tim berada di satu stadion yang sama, sepertinya yang diantisipasi PSSI maupun operator kompetisi makanya memutuskan kedua klub diputusakan berbeda grup.

Sejatinya jika bicara sejarah, kedua tim pernah ada di satu grup yang sama. Momen terakhir terjadi pada kompetisi Divisi Utama versi LI musim 2013 lalu.

Untuk langkah antisipasi panpel tim tuan rumah membuat larangan bahwa suporter tamu pantang untuk mendukung tim kebanggaannya secara langsung.

Pada tahun 2000, Pasoepati (pendukung Persis Solo) yang saat itu masih menjadi suporter Pelita Solo pernah mendapat kesempatan menghadiri Stadion Mandala Krida, yang jadi markas PSIM jogja.

Momen itu terjadi di musim 2000 saat Pelita Solo bertandang ke markas PSIM. Kabanya ada sekitar 15 ribu suporter Pasoepati yang memerahkan Mandala Krida.

PSIM sendiri sejatinya beberapa kali pernah membirukan markas Persis. Seperti Sriwedari di tahun 1990an, dan untuk momen pendukung PSIM membirukan Stadion Manahan, ternyata di tahun 2003.

Kala itu Brajamusti membirukan tribun selatan dan barat Manahan. Momen ini bukan saat PSIM bertemu Persis, melainkan saat PSIM menjalani babak playoff musim 2003.  Kebetulan saat itu digelar di Kota Solo, pada 14 sampai 18 Oktober 2003.

Baca Juga  Baru Sehari Dicoret Persis Solo, Riki Nata Langsung Direkrut Klub Timor Leste

Ribuan Brajamusti dukung PSIM secara langsung ke Solo di babak ini. Fanatisme Brajamusti memang tengah memuncak. Saat itu usia Brajamusti baru berumur delapan bulan, setelah dinyatakan resmi berdiri pada tanggal 15 Februari 2003

Momen fanatisme Brajamusti di Manahan, terekam dalam beberapa foto yang diuploud akun Twitter Sepakraga Mataram:

Dilansir dari RSSSF ternyata dalam babak playoff di Solo ini, PSIM bisa dibilang gagal. Harapan Brajamusti melihat langsung tim kebanggannya promosi, ternyata batal.

PSIM dan Persela Lamongan jadi wakil tim Divisi I di babak Playoff ini. Kedua tim bersaing dengan Perseden Denpasar dan Persib Bandung ada di posisi ke-15 dan 16 Divisi Utama 2003.

Kedua tim juga harus melalui babak play off melawan peringkat ketiga dan keempat 8 besar Divisi I, yang kebetulan diisi oleh PSIM dan Persela.

Laskar Mataram memulai langkah dengan melegakan, usai menang 1-0 dari Perseden Denpasar (14/10/2003). Sayang dua hari berselang, PSIM kalah tipis 1-0 dari Persib. Di partai terakhir PSIM hanya bermain imbang 0-0 dari Persela.

Baca Juga  Skuat Mengkilap Mitra Kukar Menuju Pertarungan Liga 2 2019

Persib jadi pemuncak klasemen dan dinyatakan bertahan di Divisi Utama. Tim ini meraih poin 7 hasil dua kali menang dan sekali seri.

PSIM dan Persela sama-sama meraih 4 poin, sayangnya Persela dinyatakan yang berhak promosi. Mereka unggul agregat Gol (3-2), dibanding PSIM yang hanya bisa mencetak satu gol dan satu kebobolan di babak ini.

Brajamusti membirukan tribun barat Stadion Manahan di babak play off Divisi I 2003. Foto: twitter Sepakraga Mataram.

PSIM gagal promosi, sementara Perseden yang berstatus juru kunci, harus rela terdegradasi ke Divisi I.

Tapi perjuangan PSIM sejatinya perlu diacungi jempol dan diapresiasi. Di musim Divisi I 2003, PSIM memulai langkah dari babak penyisihan dengan status sebagai juara grup C.

Dari 10 laga yang dijalani, PSIM menang enam kali, seri dua kali, dan kalah dua kali. Salah satunya momen saat bertemu Persebaya. Dimana PSIM sukses menang 1-2 di Surabaya, dan menahan seri 0-0 di Jogja.

Sayang di babak 8 besar. PSIM Jogja ada di posisi keempat. Tim yang sudah dipastikan promosi adalah Persebaya dan PSMS menda yang finis di posisi pertama dan kedua.

Baca Juga  Persebi Boyolali Dapatkan Tiga Pemain Senior

Selain PSIM, posisi ketiga Persela Lamongan juga harus menapaki babak play off jika ingin mendapat tiket promosi.

Di babak 8 besar, PSIM main 14 kali, dengan rapor 7 menang, 1 seri dan 6 kali menelan kekalahan.

Bintang PSIM di musim ini adalah Joe Nagbe. Dirinya meraih 17 gol di musim ini, catatan yang sama dengan yang diraih oleh Irwansyah dari Persiraja. Sayangnya top skor Divisi I musim ini diraih oleh Christian Carrasco dari Persim Maros.

Bintang PSIM lainnya di musim ini adalah Marjono, Fabio Oliviera, dan Roberto Kwateh.

Kegagalan di babak play off membuat PSIM harus kembali melangkah di kompetisi Divisi 1, yang kala itu jadi kasta kedua di Liga Indonesia. Sayangnya di musim 2004, PSIM juga lagi-lagi gagal promosi.