Sepak Bola Indonesia Semakin Buat Penasaran Media Spanyol

Berita Marca mengenai Rafael Berges. Foto : Marca

SPANYOL – Lima atau sepuluh tahun lalu tak pernah ada yang menyangka bintang asal Ghana, Michael Essien akan ke Indonesia. Bukan sebagai duta PBB atau Chelsea, dia turun langsung merasakan kerasnya Liga Indonesia.

Kedatangan Essien benar-benar jadi sorotan, utamanya dari Inggris. Itu bisa dimengerti karena Essien pernah berada di puncak karir saat berseragam Chelsea. Belum lagi media se-Asia dan tentunya dari Ghana, negara kelahiran Essien.

Namun pemain yang masih terikat kontrak dengan Persib Bandung itu bukan satu-satunya. Ada Luis Milla yang jadi pelatih Timnas Indonesia. Saat masih menjadi pelatih, Milla pernah memperkuat Barcelona, Real Madrid dan Valencia.

Yang tak terduga adalah sosok Rafael Berges. Sebelum menjadi pelatih Mitra Kukar, siapa yang kenal Berges. Namun di negara asalnya, Spanyol, Berges bukan sosok sembarangan. Sembilan tahun ia membela Celta Viga, mulai 1993-2001.

Maka dari itu, ketika Berges musim ini mengikuti jejak Milla, dia pun jadi sorotan. Marca menjadi media yang gemar menyorot kiprah pria asal Spanyol di Indonesia. Baru-baru ini, sebuah wawancara dengan Berges diterbitkan Marca.

Pelatih Mitra Kukar, Rafael Berges saat menjalani sesi press conference di Hotel Alana, Sabtu (3/2/2018). Foto : Richie Setiawan

Berges berbicara soal progres sepak bola Indonesia. Dia bercerita bahwa Luis Milla sudah mengubah gaya bermain Timnas U-23. Dia pun menyebut sepak bola Indonesia berkembang pesat berkat pengalaman dan kontribusi orang asing.

Dia juga tak ragu untuk mengatakan bahwa pilihan tepat datang ke Indonesia. Dia merasa mendapat sambutan yang baik. Berges pun menyatakan kekagumannya pada atmosfer sepak bola Indonesia

“Saya gembira dengan keputusan datang ke Indonesia. Mereka menyambut dengan baik dan saya senang. Di Indonesia sepak bola begitu kompetitif, mereka terus bertanding dan itu luar biasa. Mereka menunjukan keinginan untuk menang, tapi memang butuh waktu dan kerja untuk menutupi kekurangan,” tuturnya.

Hanya diakui Berges, Indonesia punya kelemahan dalam pembinaan pemain muda. Tak ada kompetisi untuk pemain muda. Padahal hal itu penting untuk memberi pengalaman pemain muda, sebelum turun di kompetisi profesional.

“Mereka dalam kondisi cukup bagus. Jika ingin maju, mereka harus bisa bersaing sejak usia sangat muda,” lanjutnya.

Bukan kali ini saja Marca membahas kiprah pria Spanyol di Indonesia. Sudah berulangkali media olahraga terbesar di Spanyol ini mengeluarkan wawancara dengan Luis Milla.

Untuk industri sepak bola, tentu ini bagus bagi Indonesia. Benua Biru bisa mengenal sepak bola, bukan saja dari langkah gila-gilaan klub Tiongkok dan India, melainkan juga Indonesia.

Nofik Lukman Hakim