Aroma Bogor FC Makin Menyengat Tercium, PSIM Jogja Resmi Rekrut Eks Borneo FC dan Semen Padang

Investor PSIM Jogja, Bambang Susanto berpose bersama jajaran pengurus, pelatih dan pemain di Wisma PSIM, Jumat (12/4/2019). Foto : Richie Setiawan

#PSIMREBORN, merupakan sebuah kalimat di jersey latihan PSIM Jogja musim ini. Jersey hitam dengan font tulisan berwarna kuning ini memang jadi jersey yang mencuri perhatian, terlebih dengan pemilihan warna yang tak biasa.

Banyak PSIM Fans bertanya-tanya tentang adanya kalimat reborn (terlahir kembali) dan font berwarna kuning tersebut. Banyak anggota Brajamusti maupun The Maident mengkait-kaitkan warna kuning dan kalimat reborn, dengan kabar Bogor FC yang goyah usai ditinggalkan CEO-nya.

Kabar adanya boyongan pemain Bogor FC ke PSIM, ternyata benar-benar bukan hanya isapan jempol atau pun isu semata. Beberapa kloter pemain Bogor FC resmi ganti jersey PSIM.

Kabar terbaru, tiga nama yang baru resmi jadi bagian dari Laskar Mataram. Mereka adalah mantan pemain Semen Padang Ngurah Nanak, hingga dua penggawa Borneo FC musim lalu, Ahmad Hisyam Tolle, dan Tedi Berlian.

Khusus Tolle, dirinya musim lalu sempat bertanding dengan PSIM, tepatnya saat di putaran pertama Liga 2 2018, kala dia masih berstatus kapten PSS Sleman.

Kehadiran ketiganya menambah aroma Bogor FC di tim PSIM musim ini. Sebelumnya dua mantan penggawa PSS Sleman yang di pra kompetisi musim ini sudah resmi ke Bogor FC resmi pindah ke PSIM. Pemain yang dimaksud adalah Rossi Noprihanis dan Aditya Putra Dewa.

Sebelumnya saat pengenalan pelatih kepala PSIM musim ini Vladimir Vujovic (yang juga sebelumnya jadi pelatih Bogor FC), ternyata dia juga ikut mengenalkan beberapa boyongan pemainnya di klub lamanya.

Semuanya sebelumnya adalah para pemain Bogor FC. Seperti Hendika Arga Permana, Agung Pribadi, Gusti Rustiawan, Rudiyana, Reza Saputra, dan Heri Susilo.

Di luar pemain boyongan dari Bogor FC, ada wajah-wajah lama yang berjuang bersama PSIM di Liga 2 2018 yang sudah resmi bertahan. Mulai dari Raymond Tauntu, Fandy Edy, Hendrico Satriadi, Ivan Febrianto, Edo Pratama dan Pratama Gilang.