Asykar Theking: Kami Iri Dengan Fanatisme Suporter di Pulau Jawa

Asykar Theking saat hadir di Stadion Manahan. Foto: Nofik Lukman.

SOLO – Stadion Manahan Solo membludak di dua laga perdana Liga 2 di kandnag Persis Solo tersebut. Laga Persis melawan Semen Padang (23/4/2018) dan PSPS Riau (29/4/2018), Stadion manahan selalu penuh sesak.

Bahkan lebih dari 22 ribu Pasoepati, Surakartans dan para pecinta sepakbola di Kota Solo lainnya, selalu memenuhi ditiap sudut stadion di pusat Kota Solo tersebut.

Dala dua laga tersebut, suporter Semen Padang dan PSPS juga menyempatkan hadir, namun sayang mereka kalah jumlah.

Suporter PSPS Riau hanya berjumlah puluhan orang, itupun tersebar di dua titik. Asykar Theking di tribun barat sisi selatan, dan Ultras PSPS di tribun timur.

Salah satu suporter PSPS ternyata mengakui bahwa animo masyarakat Pekanbaru untuk mendukung tim lokalnya, memang tak sebesar yang terjadi di klub-klub lokal di Jawa.

”Jelas kalau dibandingkan atmosfirnya jauh sekali. Kami main di kandang saja, tak mungkin sampai penuh stadionnya. Paling hanya seribu-dua ribuan. Beda dengan suporter di Jawa seperti Pasoepati. Mereka bisa hadir memenuhi stadion, dan jelas melihatnya kami sangat iri sekali,” terang salah satu anggota Asykar Theking yang tinggal di Jogja, Aris YT kepada KAMPIUN.ID.

Musim ini PSPS masuk di grup barat, dan akan satu grup dengan klub asal pulau Jawa ternyata membuat bimbang para suporternya. Hal ini cukup wajar karena ongkos dari Pekanbaru ke kota-kota di pulau Jawa memang ongkosnya tak murah.

”Ongkos dari Pekanbaru ke Solo paling murah sekitar Rp 1,5 juta, kalau buat bolak-balik sampai nginep, jelas budgetnya tak murah. Makanya animo suporter PSPS untuk awayday keluar pulau jelas tak terlalu banyak,” katanya.

Dirinyapun mengakui sangat merindukan momen-momen indah PSPS bertabur bintang, bahkan berada di kasta tertinggi.

Klub ini pertama kali berada di kasta tertinggi, terjadi di Divisi Utama 1999/2000, itu diterjadi setelah musim sebelumnya tim ini sanggup menjadi juara Divisi I musim 1998/1999.

Cukup lama PSPS ada di kasta tertinggi. Mulai dari 1999-2012 tim ini rutin berada di kasta tertinggi, hanya di mysim 2005dan 2008, tim ini harus terdegradadi dan memulai langkah di kasta kedua untuk kembali menuju kasta tertinggi di musim berikutnya.

“Musimlalu sejatinya kami punya pemain bagus-bagus, seperti Herman Dzumafo atau Victor Pae, namun banyak perombakan yang terjadi musim ini. Padahal sangat disayangkan melihat bintang kita akhirnya pergi di musim berikutnya,” ujarnya.

Saat ini sendiri PSPS meraih hasil berbeda di dua laga yang sudha dijalani.  Di mana PSPS berhasil menang dengan PSIR Rembang (1-0) di kandang sendiri pekan lalu, dan baru saja dikalahkan Persis Solo dikandangnya dengan skor 1-3.

”Soal peluang kami tetap harus optimis, walaupun jelas untuk lolos dari babak penyisihan saja pasti berat, apalagi harus bisa jadi juara. Tapi apapun hasil di lapangan, kami tetap yakin pada tim ini bisa terus meraih kemenangan,” terangnya.

Jaladwara