Kata CEO PSIS Semarang Soal Gaya Melatih Vincenzo Alberto Annese

Pelatih PSIS Semarang, Vincenzo Alberto Annese (kiri) saat berjabat tangan dengan pelatih Persija Jakarta, Stefano Cugurra Teco di Stadion Sultan Agung Bantul, Jumat (20/4/2018). Foto : Richie Setiawan

Vincenzo Alberto Annese benar-benar memberi pengalaman tak terlupakan dalam perjalanan karir pemain PSIS Semarang musim ini. Haudi Abdillah dan kawan-kawan merasakan betul sentuhan berbeda yang dilakukan pelatih asal Italia tersebut.

Annese sejatinya merupakan seseorang yang dikontrak menjadi pelatih kepala. Tapi kerja yang dia lakukan benar-benar luar biasa. Annese bukan saja mempersiapkan anak buahnya dalam latihan. Bahkan dia juga menyiapkan para pemain untuk menghadapi latihan setiap harinya.

PSIS memulai latihan sekitar pukul 08.30 WIB di Lapangan Terang Bangsa Semarang. Satu jam sebelum itu, para pemain sudah diajak diskusi. Annese memberikan pemahaman tentang kesalahan yang masih dilakukan, cara bermain yang akan dilakukan. Diskusi itulah yang akan dilakukan dalam latihan.

Latihan berjalan dua hingga dua setengah jam. Lapangan Terang Bangsa yang berjarak sangat dekat dengan pantai membuat sinar matahari terasa menyengat. Selama dan sesudah latihan, Annese melarang para pemain menenggak minuman dingin. Bahkan pendingan dalam bus yang mengangkut pemain saat pulang juga dimatikan.

Para pemain diperbolehkan makan apapun sebelum latihan. Sesudah latihan, mereka tak boleh makan sampai tiba jam makan siang. Itu pun bukan makanan berat seperti nasi. Semua makanan yang diambil pemain dilihat satu per satu oleh Annese. Jika ada yang berlebihan, wajib dikurangi. Sementara jika ada yang kurang, pemain wajib menambah porsi makan.

Annese saat menjelaskan skema yang diinginkannya kepada para penggawa PSIS Semarang. Foto : Nofik Lukman Hakim

KAMPIUN.ID menyaksikan sendiri ketatnya peraturan Annese. Para pemain tak boleh mengkonsumsi nasi, melainkan diganti dengan spageti. Setelah pemain mengambil spageti, beserta sayuran dan ayam, Annese mengontrol setiap meja. Benar saja, ada yang diminta untuk menambah menu lain, selain spageti.

Malam sebelum hari H pertandingan lawan Persija Jakarta, Annese juga selalu berjalan-jalan di sekitar hotel. Dia memantau aktivitas pemain. Bahkan ada cerita Annese sampai mengikuti para pemain yang berbelanja ke minimarket. Dia memberitahu makanan apa saja yang boleh dibeli dan tidak boleh dibeli.

Intinya, Annese adalah pelatih yang merangkap jadi CCTV, Alarm, guru dan juga orang tua. Begitulah cara kerja pelatih 33 tahun yang sudah memegang lisensi UEFA Pro. Sebuah lisensi yang tentu didapat pelatih-pelatih berkualitas, salah satunya Annese.

Apa yang dilakukan Annese terbilang baru baru bagi skuad PSIS. Apalagi mayoritas penggawa Mahesa Jenar musim lalu masih bermain untuk klub-klub Liga 2 yang tak menerapkan peraturan seketat Liga 1, apalagi aturan super ketat Annese.

Winger Persija Jakarta, Riko Simanjuntak saat mengawal pergerakan penyerang PSIS Semarang, Hari Nur Yulianto dalam lanjutan Go-Jek Liga 1 2018 di Stadion Sultan Agung Bantul, Jumat (20/4/2018). Foto : Richie Setiawan

Chief Executive Officer (CEO) Yoyok Sukawi termasuk yang cukup memantau semua program Annese. Dia mengakui Annese banyak memberikan pengetahuan baru bagi PSIS. Dia pun mengapresiasi apa yang dilakukan mantan pelatih Timnas Armenia U-19 tersebut.

“Annese punya lisensi UEFA Pro. Kalau dibanding saya yang cuma presiden klub, kelasnya baru liga Indonesia, musim lalu malah Liga 2, jauh lah. Cara melatih, semua tentang profesionalisme, itu beda,” terang Yoyok di Jogja, Jumat (20/4/2018).

“Coach Annese banyak sekali mengubah pola latihan, pola makan. Bahkan tidur saja diatur. Kalau anak-anak lagi makan, pasti diawasi. Kamu kurang ini, kurang ini, pasti disuruh tambah,” ucapnya

“Memang kita kontrak coach Annese dan coach Andi (pelatih kiper, Andy Petersson), harapannya bisa transfer ilmu ke pelatih lokal, ke pemain-pemain kita. Memang kita terkesan, wah PSIS berani sekali mengontrak pelatih sekelas UEFA Pro, tapi memang itu tujuan kita kesana. Kita ingin mengubah sepak bola kota Semarang, menjadi sepak bola modern,” lanjutnya

Yoyok pun menilai apa yang dilakukan Annese sudah kelihatan. Para pemain bermain dengan fighting spirit, memiliki kemauan besar untuk menang. Hanya diakuinya, mental bertanding para pemain belum cukup kuat.

Winger PSIS Semarang, Bayu Nugroho dijaga ketat gelandang PSMS Medan, Sadney Uribkob dalam pertandingan di Stadion Moch Soebroto Magelang, beberapa waktu lalu. Foto : Richie Setiawan

“Penyakit lama kami yaitu masalah mental. Babak kedua, begitu mendapat tekanan dari Persija, langsung mereka seperti down, drop, tidak bisa disiplin lagi. Padahal babak pertama disiplin, bisa memberi tekanan ke Persija,” jelasnya.

“Coach Annese langsung evaluasi. Setiap hari ada evaluasi. Kita banyak pemain muda, baru kali ini di Liga 1, pelan-pelan akan kita benahi. Saya yakin target masuk sepuluh besar musim ini bisa tercapai,” pungkasnya.

Saat ini PSIS Semarang sudah melakoni lima pertandingan. Hasilnya, sekali menang, dua kali imbang dan dua kali kalah. Koleksi lima poin hanya berjarak tiga angka dari Arema FC di dasar klasemen dengan dua poin. Yoyok pun berharap laga lawan Perseru Serui di Stadion Marora Serui, Minggu (29/4/2018) mendatang, bisa berbuah angka.

Nofik Lukman Hakim