Persis Solo Berhomebase di Madiun, Persis Fans Semakin Rindu Euforia di Manahan

Aksi Pasoepati saat mendukung Persis Solo berlaga. Foto : Richie Setiawan

Banyak pihak yang bilang, Solo jadi salah satu kota sepakbola di Indonesia. Situasi ini dicap lantaran fanatisme dukungan masyarakat Kota Solo dalam setiap pertandingan yang digelar di kota ini. Salah satunya tentu saja saat mendukung Persis Solo berlaga.

Sayangnya untuk tahun ini sepertinya tak akan terlihat jelas hingar bingar euforia suporter di Kota Solo secara langsung, khususnya di dalam stadion.

Situasi ini lantaran Persis Solo dipastikan harus menjadi seorang musafir dan tak bisa menggunakan stadion di kota ini sebagai home basenya. Khususnya untuk kompetisi Liga 2 2019.

Stadion Manahan tengah direvitalisasi, dan direncanakan baru akhir tahun ini selesai pengerjaannya. Untuk penggunaannya, mungkin baru tahun 2020 bisa digunakan.

Pasoepati dan Surakartans yang melihat pertandngan persis Solo secara langsung di Stadion Manahan. Foto: Nofik Lukman

Sementara itu stadion kedua, yakni Stadion Sriwedari juga tak bisa digunakan. Bukan lantaran tengah dibenahi juga, namun lebih kepada izin dari pihak kepolisian yang sepertinya sulit untuk didapat.

Pihak kepolisian sudah memberikan pernyataan tegas tak akan memberikan izin ke Persis jika mau berkandang di Sriwedari, dengan alasan keamanan yang sulit terjamin.

Kepolisian beranggapan, Stadion Sriwedari tak dapat menampung seluruh anggota suporter Persis, baik dari Surakartans dan Pasoepati.

Jumlah rata-rata suporter Solo saat menonton di Manahan ada diangka 23 ribu, sedangkan Sriwedari hanya bisa menampung 8 sampai 10 ribu suporter saja. Kekhawatiran adanya pihak yang memaksa untuk masuk saat kapasitas stadion sudah penuh, tentu membuat khawatir pihak keamanan.

Terlebih stadion yang sudah berdiri sejak tahun 1933 tersebut, juga tak memiliki pagar penonton. Tentu cukup rawan bagi pemain yang tengah bertanding, jika diluar dugaan ternyata ada insiden yang terjadi di saat pertandingan digelar.

Baca Juga  Gilas Persipura 3-0, Ini Komentar Pelatih Persib Bandung

Keinginan untuk berpindah kandang ke Stadion Maguwoharjo Sleman, ternyata batal. Kendala utamanya lantaran ada beberapa pihak menolak keras. Mulai dari bupati Sleman, hingga kubu suporter PSIM Jogja.

Suporter Persis Solo saat memadati Stadion Maguwoharjo Sleman. Foto : Nofik Lukman Hakim

Alasan cukup rawan adanya gesekan suporter antara Persis tetap ngeyel untuk berkandang di Sleman.

Manajemen Persis akhirnya memutuskan untuk berkandang di Stadion Wilis Madiun Jawa Timur. Lebih mending tentunya ketimbang di Stadion Patriot Bekasi, yang di awal tahun sempat dengungkan manajemen akan jadi home base Persis selama Stadion Manahan tak bisa digunakan. Walaupun akhirnya dibatalkan karena Pasoepati dan Surakartans turun ke jalan menolak keputusan tersebut.

Keputusan untuk bermain di Madiun sepertinya hampir 90 persen bisa terealisasi, tanpa ada penolakan lagi dari beberapa pihak.

Ini bukan hal baru, karena di pertengahan musim lalu saat Manahan mulai direvitalisasi, stadion kandang Madiun Putra tersebut jadi pilihan home base baru Laskar Sambernyawa di Liga 2.

Walaupun dari sisi jumlah penonton yang datang ke stadion jelas jeblok. Dari rata-rata penonton yang hadir di Manahan sekitar 23 ribu, ternyata saat main di Madiun jumlahnya rata-rata ada di angka seribu hingga 5000 penonton saja.

Di lain sisi Persis Solo saat ini memang sudah membentuk tim, sayangnya tak banyak suporter yang sepertinya mau melihat secara langsung siapa saja pemain kebanggaannya yang berlatih secara langsung.

Baca Juga  Nyaris Menang di Cilacap, Ini Komentar Pelatih Persik Kediri

Memutuskan untuk berlatih di Lapangan Lanud Adi Soemarmo Karanganyar, tentu membuat minat suporter untuk melihat Persis berlatih jadi tak terlihat di lapangan. Mungkin beda cerita jika itu dilakukan di Sriwedari.

Jika dulu berlatih di Manahan ataupun di Sriwedari, ratusan penonton umum bisa hadir menonton secara langsung. Walaupun itu dalam rangka hanya sebatas sesi latihan.

Saat Persis menjalani seleksi dua hari di Sriwedari Februari lalu, ratusan penonton terlihat hadir mengisi seluruh tribun tertutup di Stadion Sriwedari. Momen yang tak terlihat jelas saat memutuskan berlatih di Lapangan AURI.

Para pemain saat menyimak penjelasan pelatih kepala Agus Yuwono dalam latihan di Lapangan Lanud Adi Soemarmo, Colomadu, Karanganyar, Selasa (2/4/2019). Foto : Nofik Lukman Hakim

Akhir bulan April ini, Persis direncanakan akan melakukan boyongan ke Madiun. Persis memutuskan lebih awal menetap di Madiun, untuk persiapan Liga 2 2019 yang akan dimulai Juni nanti.

Situasi ini tentu semakin membuat suporter hanya bisa mengandalkan berita dari media, yang dilanjutkan dibahas melalui percakapan media sosial, maupun obrolan hangat di luar lapangan seperti angkringan maupun warung kopi.

Jika mau melihat pemain bermain secara langsung, sepertinya hanya bisa dilakukan saat tim ini menjalani laga uji coba ataupun pertandingan resmi. Itupun harus menempuh perjalanan jauh ke Madiun, kalau memang laga itu digelar disana.

“Main dimanapun tentu kami sebagai tim harus benar-benar siap. Kami akan berjuang meraih kemenangan dimanapun Persis bermain,” terang Pelatih Persis Solo, Agus Yuwono.

Penggawa Persis Solo saat merayakan gol yang dicetak Soni Setiawan pada laga lawan PSIR Rembang di Stadion Wilis Madiun, Minggu (7/10/2018). Foto : Richie Setiawan

Jika Persis memutuskan jadi musafir ke Madiun karena tak diperbolehkan menggunakan Manahan maupun Sriwedari, ternyata satu klub asal Solo lainnya juga tak akan bermain di  Solo musim ini. Tapi situasinya sedikit berbeda.

Baca Juga  Inilah Deretan Pemain Baru Madura FC untuk Liga 2 2019

Persis Muda Gotorng Royong Solo yang terjun di ajang Liga 3 dipastikan absen musim ini, dengan alasan tak punya dana untuk berkompetisi.

Situasi ini tentu membuat masyarakat Solo hanya punya hiburan Persis yang terjun di Liga 2, itupun harus mlakukan perjalanan hampir tiga jam dari Solo ke Madiun untuk bisa melihat mereka bertanding.

Banyak pihak tentu saat ini sangat berharap Stadion Manahan bisa selesai secepatnya pengerjaannya, agar euforia fanatisme suporter Solo bisa kembali terlihat hingar bingarnya di tanah kelahirannya sendiri.