Babel United Nama Baru Mergernya Aceh United dengan PS Timah Babel, Ini Perjalanan Sejarah Kedua

Syakir Sulaeman (tengah) bersama dua rekannnya saat merayakan gol ke gawang Persika Karawang di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Rabu (4/7/2018). Foto : Istimewa/Official Aceh United

Teka-teki pernyataan bahwa Aceh United akan keluar dari Serambi Makkah akhirnya ada titik terang. Tim ini sepertinya akan pindah maras ke Pangkalpinang, di kepulauan Bangka Belitung. Aceh United direncanakan akan merger dengan klub PS Timah Babel.

Mintra Jaya Wakil Ketua PS Timah Babel mengungkapkan kepada awak media lokal di Pangkalpinang akan mengadakan jumpa pers dalam waktu dekat, terkait pengenalan manajemen Babel United.

Pria yang akrab disapa Akwen ini juga mengatakan pihaknya saat ini masih menunggu hasil seleksi pemain luar Bangka Belitung. Yang mana seleksi sedang berlangsung di Pancoran Jakarta dipimpin coach Putu Gede Dwi Santoso.

Seleksi ini menjadi acuan untuk susunan pemain untuk digabungkan dengan pemain lokal Bangka Belitung.

Pertandingan Persibat Batang melawan Aceh United di Stadion Moh Sarengat, Batang, Selasa (24/4/2018). Foto : Istimewa/Adi Persibat

 

Bicara Babel United tentu tak bisa dipisahkan dengan kiprah Aceh United dan PS Timah Babel di kompetisi Liga Indonesia. Kedua tim ini, punya catatan sejarah yang cukup bagus. Sayang karena berbeda nasib, akhirnya mereka memutuskan untuk menyatu musim ini.

PS Timah Babel adalah nama baru dari PS Bangka, yang memutuskan berubah nama pada tahun 2017.

Di Liga 2 2017 PS Bangka berubah nama menjadi PS Timah Babel, dan pindah kandang dari Stadion Orom Sungailiat Ke Stadion Depati Amir, Pangkal Pinang.

PS Bangka sendiri berdiri pada tahun 1970, dan pada era 70an sempat berjaya dengan menembus 8 besar Kompetisi Perserikatan Indonesia. Setelah era emas itu berakhihr prestasi PS Bangka mengalami pasang surut, terlebih karena kurangnya dukungan finansial kepada klub.

Pada musim 2011/2012, dengan dukungan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung PS Bangka berhasil untuk pertama kalinya naik kasta (promosi) ke Divisi Utama Liga Indonesia pada musim 2013.

Musim 2011/12, PS Bangka yang bermain di Divisi I Liga Indonesia (kasta ketiga kala itu) berhasil finis sebagai runner up.

Di musim perdananya di kasta tertinggi, yakni di kompetisi Divisi Utama versi PT. LI 2013, PS Bangka sukses membuat kejutan.

Tim ini berhasil menjadi pemuncak klasemen Grup I (Sumatera), dengan raihan 20 poin dari 10 laga yang dijalani. Dengan rapor 6 kali menang, 2 seri, dan 2 kekalahan.

Baca Juga  Aji Bayu Gabung Badak Lampung, Madura FC Dapatkan Eks Persija Jakarta

PS Bangka sukses unggul posisi dari Persisko Kabupaten Merangin, PSAP Sigli, PSMS Medan , Persih Tembilahan dan PS Bengkulu.

Sayang di babak 16 besar, PS Bangka gagal lolos ke babak semifinal. Mereka hanya finis di posisi ketiga dengan raihan 8 poin dari 6 laga, kalah posisi dari Persebaya Surabaya dan PSBS Biak Numfor.

Sementara PSIS Semarang ada di posisi juru kunci klasemen. Di grup ini hanya Persebaya yang lolos ke babak selanjutnya (semifinal).

Musim berikutnya (Divisi Utama 2014), PS Bangka kembali pasang aksi di tingkat penyisihan grup.

Mereka berhasil menjadi capolista grup 2, dengan raihan 9 kemenangan, dan tiga kali seri, dengantanpa sekalipun kalah dari 12 laga. Mereka bahkan unggul posisi dari Persikabo Bogor, Persih Tembilahan, Villa 2000 (Tangerang Selatan), PS Bengkulu, Persikad Depok , dan Persisko Kabupaten Merangin.

Namun untuk kali kedua, mereka kembali gagal di babak 16 besar. Dari enam laga, PS bangka meraih dua kali kemenangan, dua seri, dan dua kali kalah.

Ada di posisi ketiga, tim ini hanya unggul posisi dari PSPS Pekanbaru di posisi juru kunci. PS Bangka gagal lolos ke babak 8 besar, karena dua teratas dipegang oleh Persis Solo, dan PSGC Ciamis.

Sayang langkah PS Bangka di kasta tertinggi  tak bisa berlanjut. Pada musim 2015 sampai 2016 kompetisi resmi PSSI dihentikan, akhirnya banyak klub memutuskan untuk vakum.

Kompetisi resmi baru bernama Liga 2 baru digelar tahun 2017. Sayang di kompetsi ini ada kebijakan untuk menjalani degradasi besar-besaran untuk peserta di Liga 2. Di musim 2017 ini, PS Bangka memutuskan ganti nama menjadi PS Timah Babel.

Finis di posisi keempat Grup 1 Liga 1 2017, membuat PS Timah Babel harus menjalani babak playoff bersama Persiraja Banda Aceh. Sementara peringkat pertama dan kedua yang dipegang oleh PSPS Riau dan PSMS Medan sukses lolos ke babak selanjutnya, dan memantapkan status tak terhidar dari jurang degradasi.

Baca Juga  Seleksi Sepuluh Hari di Jakarta, Babel United Dapatkan 22 Pemain

Sayang di babak play off,  PS Timah Babel gagal jadi pemuncak klasemen maupun runner up terbaik. Tim ini malah ada diposisi juru kunci grup F, dengan rapor menelan tiga kali kekalahan beruntun.

Musim lalu, tim ini harus legawa berkiprah di kasta Liga 3, dan gagal promosi ke Liga 2 musim ini.

Sementara itu jika kita bicara Babel United, nama Aceh United juga tak bisa dipisahkan. Terlebih niat lahirnya Babel United juga lantaran manajemen Aceh United yang mau melepas lisensi mereka di Liga 2 karena krisis finansial.

Winger Aceh United, Hendra Sandi Gunawan saat merayakan golnya ke gawang Persis Solo pada laga di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Sabtu (5/5/2018). Foto : Media Officer Aceh United

Sejatinya apa yang diraih oleh Aceh United cukup baik. Tim ini sukses sampai babak 8 besar di Liga 2 2018 musim lalu.

Aceh United di babak penyisihan grup barat, sukses berada di posisi ketiga dengan raihan 35 poin dari 22 laga yang dijalani, Yakni dengan raihan 10 kemenangan, 5 kali seri dan 7 kali meraih kemenangan.

Sayangnya di babak Grup A, tim ini ada di posisi juru kunci di bawah Semen Padang dan Kalteng Putra yang lolos ke babak 8 besar. PS Mojokerto Putra ternyata juga senasib dengan Aceh United yang tak lolos ke babak selanjutnya.

Dari 6 laga di babak 8 besar, Aceh United FC hanya meraih satu kemenangan, dua kali seri dan tiga kali menelan kekalahan.

Jika bicara dinamika di musim lalu. Aceh United memang menjalani musim yang cukup berat. Di awal musim, tim ini sempat masuk sebagai salah satu tim yang diwaspadai banyak klub, karena menjadi salah satu dari enam tim yang promosi di musim tersebut.

Sayang di pertengahan musim, krisis finansial melanda tim ini. Ini membuat mereka harus merombak total skuad.

Bahkan banyak pemain bintang yang diputus kontraknya di pertengahan musim. Di babak 8 besar bahkan pemain Blitar United boyongan mendukung Aceh United.

Dari sisi dukungan, tim ini sempat rutin berjuang dalam suasana stadion tak begitu ramai. Padahal para the Poemeurah (suporter Aceh United) yang ingin menyaksikan pertandingan kandang Aceh United di Stadion Harapan Bangsa digratiskan.

Baca Juga  Rahasia Kalteng Putra Bisa Kejutkan Liga 1 2019

Hal ini wajar karena masyarakat Aceh lebih mengutamakan mendukung Persiraja Banda Aceh yang lebih dulu eksis di kota tersebut.

Suasana di Stadion Cot Gapu, Bireuen saat digelar sebuah pertandingan. Foto: Official Aceh United.

Keputusan pindah home base ke Stadion Cot Gapu di daerah Bireun menjadi titik awal harapan kemajuan tim ini. Hal ini lantaran, banyak masyarakat sekitar yang mensupport Aceh United, dengan cara datang secara langsung saat tim ini bertanding.

Jika kita bicara sejarah, ternyata klub yang akrab dengan jersey warna oren ini adalah alumnus Liga Primer Indonesia (LPI) yang sempat berkompetisi di musim 2010. Saat itu kompetisi ini hanya berjalan setengah musim.

Sementara itu Aceh United FC bisa ada di kasta Liga 2, ternyata didapat karena prestasinya di Liga 3 musim 2017.

Saat itu tim besutan Ansyari Lubis berhasil mengatasi perlawanan PSAD Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur, dalam perebutan juara ketiga Liga 3 Nasional 2017. Mereka menang 2-0. Tim ini melengkapi Blitar United dari Jawa Timur dan Persik Kendal dai Jawa tengah yang juga promosi ke Liga 2.