Gebrak Meja Nasal Mustofa untuk Redam Amarah Penggawa Persekat Tegal

Starting eleven Persekat Kabupaten Tegal saat menghadapi PSIP Pemalang di Gelora Tri Sanja, Slawi, Kabupaten Tegal, Minggu (4/3/2018) lalu. Foto : Facebook Persekat Kabupaten Tegal

Liga 3 zona Jawa Tengah saat ini sedang jadi sorotan. Ini karena dua dari empat pertandingan babak 8 besar diwarnai penganiayaan terhadap perangkat pertandingan.

Persitema Temanggung dan Bhayangkara Muda FC terancam hukuman berat. Persitema sebagai tuan rumah saat lawan PSIP Pemalang tak bisa menyelenggarakan pertandingan dengan baik.

Asisten wasit dua dipukul oknum tak dikenal yang bisa merangsek ke lapangan. Saat laga usai, malah ada banyak orang yang coba melukai wasit utama. Kejadian ini menjadi viral karena laga disiarkan via live streaming di channel youtube PSIP TV.

Bhayangkara Muda juga tak kalah terancam, bahkan mungkin lebih berat. Ada pemain Bhayangkara FC yang melayangkan bogem mentah ke wasit utama hingga mengalami patah tulang pada bagian hidung. Kejadian ini juga viral karena ada rekaman pertandingan yang tersebar di media sosial.

Jauh sebelum ada kejadian ini, partai panas juga mewarnai Persekat Tegal melawan Persibara Banjarnegara di GOR Tri Sanja, Slawi, Kabupaten Tegal. Tendangan “kungfu” pemain Persekat menyasar pemain Persibara. Laga itu pada akhirnya berakhir imbang 1-1.

Pelatih Persekat, Nasal Mustofa masih mengingat betul pertandingan itu. Dia tak menyangka para pemain dengan mudah terpancing emosi sepanjang pertandingan. Gara-gara itu, permainan Persekat menjadi tak maksimal dan gagal meraih kemenangan di kandang sendiri.

“Saya masih ingat, dulu pertama pegang tim ini, anak-anak mentalnya berkelahi. Inginnya berkelahi terus. Senggol sedikit sudah menteleng (melotot), jatuh sedikit menteleng. Liga 3 dengan regulasi usia dibawah 22 tahun memang rawan. Kita harus banyak kasih masukan, pendapat tentang sesungguhnya sepak bola itu apa. Bukan hanya bermain dengan kekerasan,” terang Nasal Mustofa kepada KAMPIUN.ID, Senin (7/5/2018) siang.

“Di ruang ganti saya pernah marah-marah, saya gebrak semua itu meja dan seisinya ruang ganti. Itu pertandingan lawan Persibara. Seharusnya kita bisa menang, anak-anak malah terpancing emosinya. Kita main jelek, jadi gagal menang,” ucapnya.

Setelah lawan Persibara, Nasal menilai tim besutannya sudah ada perbaikan dalam hal meredam emosi. Apalagi saat fase grup, Persekat keluar sebagai juara grup dengan lima kemenangan, tiga hasil seri dan tanpa menelan kekalahan.

Pada babak 8 besar, Persekat berjumpa Berlian Rajawali Unika Semarang. Pada leg pertama di Stadion Citarum Semarang, Minggu (6/5/2018), Persekat dan BR Unika berbagi angka 0-0. Nasal mengingatkan para pemain untuk menjaga fokus pada leg kedua nanti.

“Saya tekankan pada pemain, kita rugi kalau main dengan emosi. Apalagi kita tuan rumah butuh kemenangan. Kita fokusnya ke kerja bola kerja bola. Mainsetnya fokus pada pertandingan, tidak ada yang lain. Saya yakin peluang lolos ke semifinal sangat terbuka,” pungkasnya.

Leg kedua akan berlangsung di GOR Tri Sanja Slawi, Rabu (9/5/2018) sore. Untuk lolos, Persekat harus mengalahkan BR Unika Semarang. Bila laga berakhir imbang 1-1, 2-2 atau seterusnya, BR Unika yang lolos karena unggul gol tandang.

Nofik Lukman Hakim