Selain Sriwedari, Tiga Stadion Ini Bisa Jadi Alternatif Kandang Persis Solo

Salah satu konsep renovasi Stadion Manahan Solo. Foto : Istimewa

Persis Solo terancam meninggalkan Stadion Manahan Solo lebih cepat. Hal ini berkaitan dengan rencana renovasi total yang dilakukan pemerintah pusat.

Dalam pengamatan KAMPIUN.ID, para kontraktor yang berebut tender pengerjaan renovasi stadion dengan nilai Rp 314 Miliar itu sudah dikumpulkan. Kontraktor nasional, seperti Adhi Karya dan lainnya berkumpul di Ruang VVIP Manahan, Senin (14/5/2018) siang.

Bila proses lelang berakhir lebih cepat, pengerjaan kemungkinan bakal dimulai setelah Ramadan. Dan berarti, laga melawan Perserang Serang, Selasa (15/5/2018) lalu, jadi yang terakhir bagi Laskar Sambernyawa pada kompetisi Liga 2 2018.

Stadion Sriwedari Solo sejauh ini menjadi pilihan manajemen Persis Solo. Stadion ini merupakan saksi kehebatan Persis Solo pada era 30-40an. Hanya saja bila berbicara tren kehadiran suporter dalam tiga laga kandang, tentu saja Stadion Sriwedari jelas tak memungkinkan.

Dalam tiga pertandingan kandang Laskar Sambernyawa, jumlah penonton yang hadir melebihi 20.000 pasang mata. Jumlah itu jelas sangat jauh dari kapasitas Stadion Sriwedari yang hanya bisa menampung 8000 penonton saja.

Belum lagi bila berbicara soal standar kompetisi Liga 2. Stadion Sriwedari kini tak memiliki pembatas dari tribun penonton ke lapangan. Panpel Persis juga harus bekerja keras untuk membenahi ruang ganti pemain, ruang wasit dan ruang untuk kru televisi andai stadion disiarkan secara langsung.

Selain Stadion Sriwedari, sebenarnya ada tiga stadion yang paling memungkinkan jadi alternatif kandang Persis Solo. Tiga stadion ini memiliki kapasitas yang lebih besar dari Stadion Sriwedari dan layak digunakan untuk kompetisi Liga 2.

1. Stadion Wilis Madiun

Kandang tim Madiun Putra ini memiliki kapsitas 25.000 penonton. Selama bermusim-musim, stadion ini juga sudah digunakan untuk pertandingan kasta kedua, bahkan kasta pertama. Artinya bila mendadak digunakan Persis Solo, Stadion Wilis sudah siap. Panpel Persis Solo juga tak perlu mengeluarkan dana besar untuk melakukan pembenahan.

Dalam sejumlah tour suporter Persis Solo ke Madiun, belum pernah ada benturan dengan suporter maupun masyarakat Madiun. Artinya, catatan ini bisa jadi modal untuk mengajukan izin keamanan ke Polres Madiun dan Polda Jawa Timur.

Hanya memang, bila Persis Solo benar-benar menggunakan stadion ini, suporter Persis Solo harus menempuh perjalanan darat sekitar 3 jam. Mereka bisa berangkat melewati jalur Sragen atau jalur Lawu.

Namun dari catatan KAMPIUN.ID, jumlah suporter Persis Solo yang berangkat ke Madiun belum pernah melebihi 5000 anggota. Artinya, jumlah pendapatan kandang Persis Solo akan berkurang drastis. Bahkan bisa jadi lebih dari 70 persen.

2. Stadion Moch Soebroto Magelang

PSIS Semarang saat berlaga melawan Bali United di Stadion Moch Soebroto Magelang. Foto : Richie Setiawan

Kandang PPSM Magelang ini berkapasitas 20.000 penonton. Sama seperti Stadion Wilis, Stadion Moch Soebroto juga sudah digunakan untuk kasta kedua dan kasta pertama. Bahkan musim ini PSIS Semarang sudah berkandang disini.

Semua pertandingan berjalan lancar dan dapat menampung belasan ribu suporter PSIS yang datang. Panpel Persis Solo juga tak perlu mengeluarkan dana besar untuk melakukan pembenahan.

Dalam sejumlah tour suporter Persis Solo ke Magelang, memang sempat ada kericuhan. Namun kericuhannya tak membesar karena peristiwa pelemparan batu ke arah rombongan suporter Persis dilakukan sejumlah oknum dengan massa minim.

Justru yang mengkhawatirkan adalah perjalanan suporter dari Solo ke Magelang, yang melewati wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selalu saja ada gesekan dengan oknum suporter PSIM Jogja yang selama ini jadi rival Persis Solo.

Bila memang Magelang jadi pilihan, perlu ada perjanjian terkait rute pemberangkatan suporter ke Magelang. Suporter bisa melewati jalur Kopeng. Jalur itu tak begitu menanjak dan tak sepi seperti melewati jalur Selo, Boyolali. Bahkan sepanjang perjalanan cenderung ramai karena dekat dengan daerah wisata dan pemukiman.

Hanya memang, bila Persis Solo benar-benar menggunakan stadion ini, suporter Persis Solo harus menempuh perjalanan darat sekitar 2,5 jam. Potensi berkurangnya penonton juga cukup besar karena sepanjang pengalaman suporter Persis Solo ke Magelang, belum pernah lebih dari 5000 penonton.

3. Stadion Maguwoharjo Sleman

Para penggawa Madura FC saat merayakan gol ke gawang PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo Sleman, beberapa waktu lalu. Foto : Nofik Lukman Hakim

Kandang PSS Sleman ini berkapasitas 35.000 penonton. Stadion ini sudah berulang kali digunakan untuk kasta kedua, kasta pertama, bahkan untuk pertandingan internasional. Artinya stadion bisa digunakan kapanpun, tinggal menyesuaikan jadwal dengan PSS Sleman yang juga berkompetisi di kasta kedua.

Perjalanan yang ditempuh suporter Persis Solo relatif lebih dekat, ketimbang ke Stadion Wilis maupun Stadion Moch Soebroto. Bila tidak ada kemacetan panjang di depan Bandara Adi Sucipto, perjalanan hanya sekitar 1,5 jam saja.

Soal potensi berkurangnya penonton pasti ada. Namun prosentasenya tak sebesar bila main di Stadion Wilis atau Stadion Moch Soebroto. Bisa jadi pengurangan jumlah penonton berkisar 40-60 persen, tergantung hari pertandingan saat libur atau hari kerja.

Namun kemungkinan besar Persis Solo akan kesulitan mendapat izin keamanan dari Polres Sleman, apalagi Polda DIY. Bentrokan hampir pasti terjadi saat rombongan suporter Persis Solo menuju maupun pulang dari Stadion Maguwoharjo.

Terakhir, suporter Persis Solo terlibat bentrok dengan oknum suporter PSIM Jogja saat pertandingan lawan Persiba Bantul di Stadion Sultan Agung pada Liga 2 2017 lalu. Suporter Persis Solo bahkan harus dilewatkan jalur Wonosari lantaran jalur yang melewati Kota Jogja sudah dicegat oknum suporter PSIM.

Jalan depan Candi Prambanan menjadi lokasi yang kerap terjadi tawuran antara suporter Persis Solo dengan oknum suporter PSIM Jogja. Sementara dengan suporter PSS Sleman, kini hubungan dua suporter sudah damai. Bahkan kedua suporter saling sambut saat melintasi wilayah masing-masing.

Nofik Lukman Hakim