Tanggapan PSS Sleman Mengenai Sanksi Denda Rp 200 Juta dan Penutupan Tribun Selatan

Koreografi yang dilakukan Brigata Curva Sud (BCS) saat pembukaan Liga 1 2019. Foto : Nofik Lukman Hakim

PSS Sleman berharap sanksi berat yang dijatuhkan oleh komite disiplin (Komdis) PSSI menjadi pembelajaran penting menatap perjalanan panjang Liga 1 2019. Sanksi ini bukan saja merugikan klub, namun juga suporter.

Denda Rp 50 Juta menjadi sanksi pertama. Sanksi itu masih ditambah penutupan tribun selatan sebanyak empat pertandingan.

Sanksi tersebut dijatuhkan pada Panpel PSS Sleman karena dianggap gagal memberi rasa aman dan nyaman pada pemain, ofisial, perangkat pertandingan dan pemain.

Sanksi itu kemudian ditambah denda Rp 150 Juta. Sanksi ini ditujukan pada tim PSS Sleman karena suporter setianya menyalakan flare, kembang api, petasan dan terlibat saling lempar dengan suporter Arema FC.

Total, PSS Sleman dikenai denda Rp 200 Juta. Nilai dari denda itu bisa berlipat lantaran tribun selatan harus dikosongkan selama empat partai kandang. Padahal, tribun yang ditempati Brigata Curva Sud (BCS) itu selalu penuh.

Hukuman berat ini tentu menjadi pembelajaran penting. Apalagi laga lawan Arema FC sejatinya menjadi awal dari perjalanan PSS Sleman di Liga 1 2019.

Baca Juga  Persis Solo Hanya Bisa Menang Tipis Atas PSM

Chief Executive Officer (EO) PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), Viola Kurniawati berharap kejadian yang sama tak terulang lagi.

“PSS berharap semua pihak hendaknya belajar dari kejadian tersebut. Tak hanya menjadi kerugian bagi tim tapi juga suporter. Kedewasaan dalam bertindak menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi kita semua,” kata Chief Executive Officer (EO) PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), Viola Kurniawati dalam rilis resmi klub, Minggu (19/5/2019)

“PSS Sleman akan mempelajari lebih lanjut atas hukuman yang  dijatuhkan oleh Komdis PSSI. Mudah-mudahan hukuman ini membuat kami semua menjadi lebih dewasa,” imbuhnya.

Nofik Lukman Hakim