Arti Penting PSS Sleman Bagi Perjalanan Pelatih PSIM Jogja

Pelatih PSIM Jogja, Bona Simanjuntak. Foto : Nofik Lukman Hakim

Bona Simanjuntak bukan nama asing bagi pecinta PSS Sleman. Dialah salah satu penggawa yang pernah membawa PSS Sleman berjaya di kompetisi Divisi Utama 2004. Kala itu, Laskar Sembada menduduki posisi empat besar dalam klasemen akhir.

Bona menjadi bagian sektor tengah PSS Sleman mulai tahun 2002. Selama tiga tahun di PSS Sleman, ada banyak kenangan dan prestasi yang tak bisa dilupakan Bona. Rumput Stadion Tridadi Sleman menjadi saksi keberhasilannya pada kompetisi Divisi Utama 2004 dan Copa Dji Sam Soe 2005.

Dia bahu membahu bersama pemain emas lain, macam Anderson Da Silva, Deca Dos Santos, Fajar Listiantoro, Joice Sorongan, Marcelo Braga, M Eksan, Seto Nurdiyantoro hingga Yuniarto Budi. Saat musim 2004-2005, PSS Sleman dilatih Daniel Roekito.

Pada Divisi Utama 2004, PSS mencatatkan 14 kemenangan, sebelas hasil imbang dan sembilan kekalahan. Dengan 53 poin, PSS ada di peringkat empat, dibawa Persebaya Surabaya (61 poin), PSM Makassar (61 poin) dan Persija Jakarta (60 poin).

Lalu pada Copa Dji Sam Soe, PSS bisa melaju hingga babak semifinal. Mereka dihentikan Arema Malang yang unggul agregat 5-0. Pada akhirnya, Arema Malang keluar sebagai juara setelah mengalahkan Persija Jakarta 4-3.

Setelah cerita indah itu, Bona berpindah-pindah klub. Sampai akhirnya pada 2013 lalu, dia kembali berbaju PSS Sleman. Bertemu lagi dengan Fajar Listiantoro yang dulu juga menjadi rekan setimnya di PSS Sleman.

Cerita sebagai pemain pun kemudian bergeser ke posisi pelatih. Dan kini, Bona akan mengulang nostalgia bersama PSS Sleman. Namun dia tak lagi menjadi bagian PSS Sleman. Melainkan sebagai pelatih kepala PSIM Jogja. Pada Kamis (26/7/2018) nanti, PSIM Jogja akan melawan PSS Sleman dalam lanjutan Liga 2 2018 di Stadion Sultan Agung Bantul.

Bona tak pernah melupakan semua jasa PSS Sleman yang membesarkan namanya kala itu. Bona pun mengaku keputusan menetap di Jogja hingga kini juga tak lepas dari jasa Elang Jawa.

“Buat saya ini pertandingan spesial. PSS Sleman bagian dari saya. Saya bisa tinggal di Jogja juga karena PSS Sleman. Saya punya banyak kenangan manis. Apalagi saat Divisi Utama 2004 dan Copa 2005. Saat itu saya satu tim dengan coach Seto selama dua musim,” terang Bona Simanjuntak kepada KAMPIUN.ID, Senin (23/7/2018) siang.

Bila harus menetapkan pilihan untuk membenci, Bona tentu bisa saja membenci PSIM dan suporternya hingga sekarang. Pada 18 April 2006, Bona pernah diserang oknum suporter PSIM usai latihan di Stadion Mandala Krida. Kala itu, Bona menjadi bagian dari tim PSMS Medan. Dia menderita luka pada bagian kepala yang membuatnya memar.

Namun sebagai seorang profesional, cerita di masa lalu tak bisa dibawa ke dalam lapangan. Bona sudah mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk PSIM Jogja. Bahkan setelah diangkat menjadi pelatih kepala, prestasi Laskar Mataram terus menanjak.

Kini PSIM sudah lepas dari zona degradasi dan bahkan mengoleksi sembilan poin. Kemenangan atas PSS Sleman tentu saja menjadi target utama Bona bersama PSIM.

“Saya sekarang ada dibawah bendera PSIM. Untuk laga lawan PSS Sleman, semua pikiran, semua tenaga akan saya maksimalkan untuk PSIM. Kami bertekad untuk memenangkan pertandingan,” tutur Bona.

“Kami butuh poin. Posisi kami belum aman. Klasemen bawah selisihnya masih tipis-tipis saja. Kami melihat PSS Sleman sama seperti tim-tim lain yang datang ke SSA, kami akan berusaha mendapatkan hasil maksimal,” pungkasnya.

Nofik Lukman Hakim