Derby DIY Tersaji di SSA, Inilah Rapor Pertemuan PSIM Jogja vs PSS Sleman. Siapa yang Paling Unggul?

Hendrico Satriadi (tengah) diharapkan kembali tampil impresif dan membantu PSIM Jogja memenangkan setiap pertandingan. Foto : Richie Setiawan

Bicara usia tentu PSIM Jogja lebih kaya pengalaman dari saudara mudanya PSS Sleman. Bicara prestasipun bisa dibilang PSIM punya catatan tinta emas yang lebih banyak. Namun di periode terakhir, nama PSS Sedikit lebih mencuat karena prestasi tim ini.

Skuad PSIM Jogja yang diturunkan pada laga lawan Persiba Balikpapan di Stadion Sultan Agung Bantul, Selasa (15/5/2018). Foto : Nofik Lukman Hakim

Bicara persaingan, sepertinya akan ada sesuatu yang dinanti kedua kubu. Apalagi kalau bukan saling mengalahkan di atas lapangan.

Laga sarat gengsi tentu akan tersaji antara kedua kubu. Bicara raporpun ternyata pertemuan kedua tim pada 26 Juli nanti, bukan jadi kali pertama terjadi.

Penggawa PSS Sleman yang diturunkan pada laga lawan Pakindo Mojokerto Putra di Stadion Maguwoharjo Sleman, Kamis (26/4/2018). Foto : Nofik Lukman Hakim

Penulis belum menemukan secara real kapan pertama kali pertama PSS dan PSIM bertemu di lapangan hijau. Yang pasti itu jelas terjadi setelah tahun 1976, yang merupakan tahun kelahiran PSS. PSIM sendiri sudah jadi idola warga DIY sejak tahun 1929.

Dari data yang didapat di RSSSF, di kompetisi Liga Indonesia, PSS Sleman dan PSIM pertama kali bertemu di kompetisi Divisi I 1996/1997.

PSS dan PSIM masuk di grup yang sama di babak 10 besar, yakni di grup A. dalam pertandingan yang digelar di Stadion Mandala Krida, Jogja, 7 Juli 1996. PSIM sukses menang tipis 1-0 atas PSS, lewat gol tunggal Bambang Sumantri di menit ke-32, lewat titik putih.

Di klasemen akhir babak 10 besar ini, PSIM di puncak klasemen dengan raihan tiga kemenangan, sekali seri, dan tanpa merasakan kekalahan.

Sementara PSS harus puas gagal ke babak selanjutnya karena ada di posisi ketiga di bawah PSIM dan Persikota Tangerang. PSS kala itu meraih dua kemenangan dan dua kalah di babak ini.

PSIM juga sukses promosi ke Divisi Utama, setelah sukses melaju babak final. Sayang bermain di Stadion Mandala Krida, PSIM kalah dari Persikota 1-3

Balik ke pertemuan PSS dan PSIM, ternyata kedua tim bertanding di kompetisi resmi baru terjadi lagi 12 tahun kemudian, tepatnya di kompetisi Divisi Utama 2008.

Musim 2001, ketika PSS Sleman sukses promosi ke Divisi Utama setelah di musim 1999/2000 sukses finis sebagai juara kedua, namun PSIM malah harus terdegradasi ke kasta Divisi 1.

Di dekade 2001-2005 PSS Selalu ada di kasta Divisi Utama, sedangkan PSIM berjuang cukup keras di kasta Divisi I.

Pada Divisi I 2005, PSIM akhirnya mendapat tiket emas ke kasta tertinggi, setelah di musim ini mereka sanggup menggapai tahta juara.

Sayang di musim Divisi Utama 2006, walau ada di satu kasta yang sama, ternyata PSSI memutuskan untuk memisahkan kedua tim. PSIM di grup barat, sedangkan PSS di grup timur.

Gempa Jogja 2006, membuat kedua tim ini memutuskan untuk tak lagi melanjutkan kiprahnya di tengah-tengah kompetisi karena tengah berduka.

Musim 2007, PSSI tetap memberikan hak kepada PSS dan PSIM untuk tak terdegradasi, dan tetap berkiprah di kasta tertinggi.

Di Divisi Utama 2007, kedua tim ini ternyata tetap dipisahkan grupnya. PSS di grup barat dan PSIM di grup timur.

Musim 2007, jadi musim terakhir Divisi Utama berstatus sebagai kasta tertinggi. Di musim 2008, kasta tertingginya adalah ISL, dan baik PSS dan PSIM gagal lolos ke ISL 2008. Di Divisi Utama 2008, kedua tim masuk di satu grup yang sama, yakni di grup II.

Di klasemen akhir, PSS finis di posisi yang lebih baik dari PSIM, yakni di posisi ke-10. Dari 26 laga, PSS mendulang sembilan kemenangan, enam kali seri dan 11 kali kalah.

Sementara itu PSIM harus puas finis di posisi ke-12 dari 14 peserta grup II. Laskar Mataram mendulang tujuh kemenangan, sekali seri dan 14 kali kalah dari 26 laga di musim tersebut.

Bicara pertemuan di musim tersebut, PSS lebih dulu menang atas PSIM di Sleman (11/11/2008).

PSIM akhirnya membalasnya pada 12 April 2009, saat PSIM berhasil mengalahkan PSS dengan skor 2-0.

Di musim berikutnya yakni Divisi Utama 2009/2010, PSS dan PSIM kembali disatukan di grup yang sama, yakni di Grup III.

PSIM finis di posisi ketujuh dari 11 peserta. Dari 20 pertandingan, PSIM mencatatkan enam kemenangan, lima hasil seri dan sembilan kekalahan.

Hasil ini lebih baik dari PSS yang finis di posisi ke-10, dengan catatan akhir enam kemenangan, empat kali seri dan 10 kali merasakan kekalahan.

PSS lebih dulu menjamu PSIM, (15/1/2010), yang kala itu gol semata wayang PSS dari aksi M Eksan di menit ke-59, membuat PSS menang di laga derby DIY tersebut.

Pertemuan kedua terjadi pada 12 Februari 2010. Sayang pertandingan harus dihentikan pada menit ke-65 karena masalah suporter. Saat itu kedua tim masih bermain imbang 1-1.

PSIM mencetak gol lebih dulu lewat aksi Engkus Kushawa (10), sedangkan PSS membalasnya lewat gol yang diraih oleh Sylla Bamba di menit ke-48.

Sisa 25 menit tersisa akhirnya dilanjutkan pada 26 Februari 2010. PSIM akhirnya bisa memenangkan pertandungan setelah Steven Anderson Imbiri sanggup mencetak gol di menit ke-70, yang membuat PSIM menutup laga dengan kemenangan 2-1.

Di musim 2010/2011, PSIM dan PSS ternyata tak dimasukkan operator kompetisi di satu grup yang sama. PSIM di grup II, sedangkan PSS di grup III. Di klasemen akhir, PSIM finis di posisi kelima dari 13 peserta di grup II.

Laskar Mataram meraih 39 poin dari 24 laga yang dijalani. PSIM mendulang 12 kemenangan, tiga kali seri dan sembilan kali merasakan kekalahan.

Catatan ini dirasa lebih baik ketimbang PSS, yang harus legawa finis di posisi ke-10. Super Elang Jawa finis di posisi ke-10, dengan tabungan akhir 31 poin.

PSS mendulang sembilan kemenangan, empat kali seri, dan lebih banyak meraih kekalahan, yakni 11 kali yang dirasakan tim ini di musim tersebut.

Dua musim berikutnya yakni di musim 2011/2012 dan 2013, ternyata langkah PSS dan PSIM beda arah dukungan.

PSIM lebih memilih bertanding di kompetisi Divisi Utama versi bentukan PT. LI, sedangkan PSS lebih memilih berkarir di kompetisi Divisi Utama versi PT. LPIS.

Saat itu memang tengah ada dualisme kompetisi yang terjadi di Liga Indonesia. Di musim 2014, kompetisi kembali digelar oleh satu operator, yakni PT. LI.

Di Divisi Utama 2014, PSIM dan PSS juga kembali berada di satu kasta yang sama, dan di grup yang sama pula, yakni grup 5.

Beda nasib ternyata terasa. PSS sukses jadi pemuncak klasmen grup 5, yakni dengan raihan lima kemenangan, empat kali seri dan tig akali kalah dari 12 laga.

Sementara itu PSIM harus puas finis di posisi keempat, dengan dulangan tiga kemenangan, enam seri an tiga kali kalah. Kedua tim saling bermain imbang di kandang lawannya.

PSS ditahan seri PSIM 0-0 di Stadion Maguwoharjo Sleman (29/4/2014), sedangkan PSIM hanya bisa mendapatkan satu poin di Stadion Mandala Krida karena bermain imbang saat melawan PSS (19/8/2014).

Pada babak pertama, PSS berhasil unggul 1-0 lebih dulu melalui gol Guy Junior pada menit ke-36.  Elang Jawa  kembali menambah keunggulan tiga menit pasca turun minum, melalui Mudah Yulianto, setelah barisan belakang PSIM lebih fokus mengawal Saktiawan Sinaga dan Rasmoyo.

Semenit berselang, Laskar Mataram mampu bangkit dan mengejar ketertinggalan berkat gol kreasi Eko Budi Santoso.  Pada menit 59, PSIM berhasil menyetarakan skor setelah kemelut di depan jala PSS dimaksimalkan Tony Yuliandri. Skor 2-2 bertahan hingga bubaran.

Hal menariknya adalah pelatih PSIM saat itu adalah Seto Nurdiyantoro, yang dimusim ini akan menukangi PSS Sleman untuk melawan mantan klubnya PSIM.

Cukup menarik ditunggu tentunya racikan Seto di laga ini, dan potensi pemain muda PSIM untuk meredam serangan lawan dan membalikkan keadaan untuk memenangkan laga.

Musim 2015 Divisi Utama batal digelar karena PSS di bekukan oleh Menpora, sedangkan di ISC-B 2016, PSS dan PSIM tak berada di kasta yang sama

Musim Liga 2 2017 kedua tim juga tak ditempatkan di grup yang sama. PSS Sleman sukses menembus hingga posisi 16 besar, sementara itu PSIM harus berjuang hingga sampai di babak playoff.

Di Liga 2 2018 musim ini, keduanya kembali tetap berada di kasta yang sama, dan PT. Liga Indonesia Baru (LIB) menetapkan Derby DIY akan terjadi di grup timur.

Derby DIY akan tersaji di pekan ke-10 Liga 2 2018 di Stadion Sultan Agung, 26 Juli mendatang. PSIM akan lebih dulu menjamu saudara mudanya PSS Sleman.

Sementara di putaran kedua, Derby DIY akan terjadi di pekan ke-21, tepatnya pada tanggal 10 Oktober 2018, yang akan dituntaskan di Stadion Maguwoharjo Sleman.

Bicara posisi, tentu PSS sedikit unggul karena ada di posisi bawah, dan PSIM tengah berjuang di posisi tengah. Sejatinya andaikata tak ada pengurangan poin yang diberikan ke kubu PSIM, tentu tim berjuluk Laskar Mataran tersebut kini juga ada di posisi atas.

jaladwara