Memahami Arti Perjuangan Tanpa Lelah, Belajarlah dari Persis Solo

Skuad Persis Solo yang bermain dengan 10 pemain saat melawan Martapura FC

Persis Solo sukses menjadi pemuncak klasemen Liga 2 2019 untuk Grup timur di pertengahan musim.

Raihan kemenangan di laga terakhir melawan PSIM Jogja dalam balutan Derby Mataram (2-1) di Stadion Wilis Madiun (16/8/2019) tentu jadi pelengkapnya.

Di 10 laga yang sudah mereka jalani, tim berjuluk Laskar Sambernyawa tersebut meraih lima kali menang, empat kali seri, dan sekali kalah. Tabungan 19 poin, hanya unggul satu poin dari PSIM, dan dua poin dari Persik kediri di tempat kedua dan ketiga di klasemen sementara.

Apa yang diraih oleh Jodi Kustiawan dan kolega, tentu tak mudah. Bisa dibilang malah penuh dengan kejutan. Bagaimana tidak, hampir di tiap laga ada saja kendala yang mereka hadapi.

Komposisi pemain, yang tak banyak memasukkan mantan penggawa eks Persis Junior dan tim internal Persis juga jadi sorotan.

Namun awal petaka besar mendera tim ini, ternyata didapat karena keputusan sepihak manajemen untuk mengadakan launching tim di Stadion Wilis Madiun. Situasi ini membuat dua komunitas suporter Persis memilih untuk memboikot acara pengenalan pemain tersebut.

Tak lama berselang komunikasi antara manajemen dengan suporter yang tak berjalan dengan baik, memuculkan beberapa poin tegas.

Dalam sebuah pertemuan di salah satu hotel jelang kick off digelar, DPP Pasoepati sempat mengumumkan ada masukan suporter Solo memboikot dukungan terhadap Persis semusim.

Secara psikis, tentu ada langkah berat sebelum pemain benar-benar bertarung di kompetisi resmi.

Di laga perdana Liga 2, hasil seri atas tuan rumah Mitra Kukar (0-0), tentu jadi sebuah hal yang cukup positif. tetap saja jika kita melihat komentar di official media sosial Persis, cibiran malah lebih banyak muncul.

Cibiran semakin menjadi ketika kekalahan telak 0-3 atas tuan rumah Persiba Balikpapan. Dua gol blunder kiper Sukasto Effendi membuat suporter mengkritik habis-habisan tim kepelatihan, Sukasto dan Manajemen.

Kegundahan pemain ternyata benar-benar terjadi. Dua laga kandang Persis melawan Persik Kediri dan Martapura FC terlihat sedikit sepi.

Ratusan suporter memang tetap hadir, namun tetap mayoritas bangku-bangku kosong lebih terlihat secara jelas.

Sesi latihan Persis Solo di Lapangan AURI, Colomadu, Karanganyar. Foto : Nofik Lukman Hakim

Hasil dua laga inipun terbilang kurang memuskan, karena Persis dua kali ditahan seri tamunya. Mulai dari Persik (1-1) dan Martapura FC (0-0).

Hasil seri ini ternyata membuat Persis harus puas gundah gulana ada di posisi juru kunci klasemen. Padahal terakhir kali mereka merasakan ada di posisi paling bawah di babak penyisihan, terjadi 10 tahun lalu.

Hasil seri kontra Martapura FC ini membuat Agus Yuwono memutuskan mundur dari jabatannya usai laga. Ada sebuah kisah memilukan sebelum laga ini digelar.

Sebuah catatan pilu dibuat oleh klub yang sudah lahir sejak tahun 1923 tersebut. Persis untuk pertama kalinya harus bermain dengan 10 pemain, bahkan sejak peluang pertama dibunyikan.

Kesalahan penulisan DSP dengan nomor punggung gelandang baru Persis M Shulton, membuat perangkat pertandingan memutuskan Persis dinyatakan harus bermain dengan 10 pemain.

Hasil seri 0-0, tentu jadi sebuah hasil yang terbilang sangat memuskan, karena sepanjang laga Martapura FC benar-benar menekan pertahanan laskar Sambernyawa.

Usai laga, pemain melontarkan momen yang mengharukan tersebut di akun resmi mereka. Pemain jelas tak pernah mengira mereka harus bermain dengan 10 pemain melawan 11 pemain Martapura FC sejak menit pertama.

Banyak yang mengira mundurnya Agus Yuwono juga akan diikuti asistennya, Choirul Huda. Nyatanya mantan pelatih Perseru Serui tersebut memilih bertahan. Dia sepertinya tak akan tega melihat pemain berjuang dalam situasi serba tertekan, penuh kritikan karena Persis ada di posisi juru kunci.

Manajemen memutuskan Choirul Huda ditunjuk sebagai karteker Persis menggantikan Agus Yuwono yang mundur di tengah jalan.

Tugas Cak Irul (Sapaan akrab Choirul Huda) tentu tak mudah. TUgas utamanya adalah membangunkan lagi motivasi pemain yang tengah terpuruk.

Dia juga dituntut bisa mengangkap posisi Persis menjauh dari jurang degradasi. terlebih manajeman sangat rindu meraih kemenangan, yang hingga pekan keempat belum juga mereka rasakan.

Langkah perdana cak Irul tentu tak mudah. Sebab dua laga tandang di Jawa Timur harus dijalani penggawa Persis.

Hasilnya ternyata diluar dugaan. Persis sukses menang 1-0 dari tuan rumah Madura FC, dan berhasil menahan seri Persatu Tuban 1-1.

Saat menang atas Madura FC, Persis sukses naik ke papan tengah (posisi ketujuh). Bahkan kemanangan 2-0 atas Sulut United si Stadion Wilis Madiun (29/7/2019) membuat Persis naik lahi di posisi kelima.

Kemenangan ini juga membuat minat suporter asal Solo untuk hadir mulai semakin banyak muncul. Walaupun jumlahnya tak sampai 20 persen dari kapasitas jumlah stadion Wilis.

Setelah laga ini Persis sukses menang dua kali beruntun dari dua klub asal papua. Mulai dari kontra Persewar Waropen di Madiun (1-0), dan PSBS Biak di Stadion Cendrawasih Biak (1-0).

Dan kemenangan ini membuat Persis sukses naik di posisi tiga besar. Penuntasan putaran pertama kontra PSIM Jogja, tentu yang bisa dibilang sebagai simbol dari awal kebangkitan Persis yang sesunggunnya.

Laga penuh tekanan berhasil dimenangkan Persis (2-1). Yang membuat pemain lega bukan main adalah ini kali pertamanya mereka ditonton secara full kapasitas stadion.

Ya ribuan suporter Persis, baik Pasoepati maupun Surakartans memadati setiap suudut Stadion Wilis.

“Saya harap ini jadi awal dari kebangkitan kita bersama. Kita tidak bisa berjuang sendiri, saya harap situasi yang sama bisa kembali terlihat di laga-laga berikutnya,” ucap Kapten Persis Jodi Kustiawan.

Kemenangan Persis atas PSIM ditambah bonus pemuncak klasemen Grup Timur, membuat Cak Irul diputusakan manajemen menjadi pelatih kepala baru Persis.

“Kunci dari kebangkitan kita adalah kekompakan pemain di lapangan, dan sikap pantang menyerah mereka. Semoga hasil di putaran kedua lebih baik dari ini,” terang Choirul Huda.

Di putaran kedua Persis masih menyisakan 10 laga tersisa. Lima laga kandang dan lima laga tandang. Bisa dibilang putaran kedua akan berjalan sangat berat.

Bagaimana tidak, empat laga terakhir ternyata tiga diantaranya Persis akan menjalani laga sebagai tim tamu.

Mau tak mau Persis harus memaksimalkan seluruh laga dengan maksimal, dan pantang untuk tersandung.