Belasan Tahun Ikut Kembangkan Arsenal, Richard Clarke Sambangi Bantul

Richard Clarke saat menyajikan data soal jangkauan media sosial milik klub-klub di Indonesia. Foto : Nofik Lukman Hakim

Richard Clarke melanjutkan perjalanan bersama PT Liga Indonesia Baru (LIB) dalam kegiatan workshop digital media. Kali ini, pria asal Inggris itu menyambangi markas PS TIRA, Stadion Sultan Agung Bantul, Jumat (26/10/2018) siang.

Richard Clarke yang menjadi konsultan digital media PT LIB termasuk jagonya dalam pengembangan digital media. Dia pernah menjadi bagian klub ternama Inggris, Arsenal, mulai 2002 hingga 2015.

Dia sempat menjadi managing editor Arsenal yang bertugas menyusun dan mengelola strategi di semua konten, mulai situs, acara televisi hingga media sosial milik Meriam London. Setelah dari Arsenal, dia sempat dua tahun merambah Major League Soccer (MLS), sebelum kemudian menyusuri kota demi kota di Indonesia.

Dalam acara itu, workshop digital diikuti perwakilan PS TIRA, PSIS Semarang dan awak media peliput kedua tim tersebut. Richard Clarke menyajikan data tentang kekuatan media sosial klub-klub Indonesia yang sudah sejajar dengan klub Eropa.

Persib Bandung menjadi yang terdepan. Jangkauan media sosial Persib Bandung per 1 Juli 2018 mencapai 15,2 Juta pengguna media sosial. Jumlah itu menempati posisi 21 dunia.

Mengikuti dibawahnya ada Persija Jakarta dengan jangkauan 4,7 Juta pengguna, Arema FC (2,3 Juta), Sriwijaya FC (1,7 Juta) dan Bali United (1,4 Juta).

Sementara PSIS Semarang dan PS TIRA terbilang cukup kecil dibanding lima tim tersebut. Jangkauan medsos PS TIRA hanya 55 ribu penguna medsos. Sementara PSIS di angka 246 ribu pengguna medsos.

Angka-angka itu diperoleh dari penjumlahan pengikut di empat medsos. Mulai twitter, instagram, youtube dan facebook. Clarke menyebut, Indonesia pada umumnya benar-benar fanatik terhadap instagram, termasuk dalam sepak bola.

Clarke menilai, kekuatan medsos klub Indonesia bisa menjadi modal mendatangkan dana melimpah. Dia menyebut, demi mendapatkan perhatian penuh dari suporter, klub-klub Eropa berlomba-lomba menghadirkan konten yang menarik.

“Suporter menjadi bagian penting dalam sebuah tim untuk pengembangannya. Bagaimana media ini bisa menyasar tepat ke para suporter untuk mendapatkan keuntungan,” terang Clarke.

Clarke pun menuturkan, klub-klub Eropa mulai bertingkah seperti para suporter di media sosialnya. Melalui akun twitter, klub mulai saling lempar guyonan ke calon lawan. Ketika kalah dalam pertandingan, mereka meluapkan kekesalahan dengan membuat postingan yang menggambarkan perasaan seorang suporter.

“Bagimana Dortmund, Barcelona dan Roma seperti yang saya perlihatkan, seakan mereka adalah fan. Dan itu membuat para suporter memiliki keinginan lebih tinggi untuk memantau media,” tuturnya.

Media dan Public Relation Manager PT LIB, Hanif Marjuni menuturkan, kegiatan ini digelar agar klub lebih paham bagaimana cara mengembangkan potensi dari digital media. Dari pengalaman membawa Richard Clarke berkeliling ke klub-klub Go-Jek Liga 1, sudah ada perubahan konten yang dihadirkan para klub.

Nofik Lukman Hakim