#AnalisisSemifinalis, Persita Tangerang: Momentum Kebangkitan Sang Pendekar

Jersey Persita Tangerang musim 2018 ini. Foto: Official Persita Tangerang.

Pernah dengar fatwa haram pertandingan sepak bola yang dikeluarkan MUI Kota Tangerang 2012 silam. Tentu hal ini membuat pecinta sepak bola yang ada di luar Kota Tangerang ikut geleng-gelang kepala mendengarnya.

Fatwa ini membuat Persita Tangerang dan Persikota Tangerang terusir dari Stadion Benteng.

Beberapa tahun terakhir kedua tim ini menjadi seorang musafir. Khusus Persita sempat meminjam markas kota tetangga seperti Serang, Cilegon hingga Karawang, karena Stadion Benteng tak boleh dijadikan homebase.

Fatwa ini sendiri muncul karena dahulu kala banyak sekali terjadi tawuran suporter yang dilakukan oleh pendukung Persita maupun Persikota. Itu terjadi di dalam maupun di luar stadion, bahkan saat salah satu dari dua tim inipun timnya tak bertanding.

Namun itu masa lalu, kini Persita sedikit lega karena aura pertandingan sepak bola yang sudah lama meredup, kini muncul kembali.

koreo benteng Viola saat laga Persita Tangerang di Stadion Benteng Taruna. Foto: Official Benteng viola

Stadion Benteng Taruna jadi markas baru Persita, dan Persita diperbolehkan menggelar pertandingan di homebase mereka.

Kerinduan Benteng Viola akan menonton langsung pertandingan Persita akhirnya kesampaian.

Kerinduan itu pecah, setelah dihampir setiap laga, hampir 80 persen kapasitas stadion pasti selalu terisi penuh. Suasana yang sudah bertahun-tahun dirindukan Pendekar Cisadane.

Kini tak hanya menumbuhkan dan menggairahkan lagi kecintaan masyarakat Tangerang pada bond asli tanah kelahiran mereka. Persita juga kini semakin percaya diri untuk kembali ke masa jayanya di kasta tertinggi, seperti era Ilham Jayakusuma dan Zaenal Arief di dekade 2000an.

Dari segi hasil pertandingan musim ini juga ada perubahan besar yang terlihat dari performa tim ini. Setelah Persita bisa bermain di Tangerang untuk laga kandangnya, hasil positif sukses terus berhasil diraih.

Sedikit jauh berbeda jika dibandingkan di awal musim saat Persita masuk memutuskan harus menjalani laga kandangnya di Stadion Singaperbangsa Karawang.

Persita yang sempat ada di papan bawah di awal musim, akhirnya berhasil ada di papan atas. Bahkan kesuksesan mereka lolos ke babak 8 besar, dan secara dramatis kini berjuang di babak semifinal untuk meraih tiket promosi ke Liga 1 2019.

Penyerang PSS Sleman, Qischil Gandrum Minny saat berduel dengan pemain Persita Tangerang Ledi Utomo dalam laga babak 8 besar Liga 2 2018 di Stadion Benteng Taruna, Tangerang. Foto : Richie Setiawan

Sebagian besar skuad Persita musim ini juga berasal dari kekuatan musim lalu. Semakin komplet dengan hadirnya beberapa muka-muka baru. Seperti Chandra Waskito (eks-Persis Solo), hingga Diego Banowo (eks-PS Bengkulu).

Perubahan kunsi pelatih kepala dari Elli Idris ke Wiganda Saputra juga membawa perubahan besar dari pola permainan Persita. Di bawah tangan dingin Wiganda, Persita terbentuk jadi salah satu tim yang kuat dari segi penyerangan, dan kokoh dari sisi pertahanan.

Terakhir Persita ada di kasta tertinggi terjadi di ISL musim 2014. Sayang kala itu Persita harus ada di papan bawah, dan kembali terdegradasi ke kasta kedua. Anak-anak Persita tentu berharap mereka bisa bangkit dan kembali ke kasta tertinggi yang sempat melekat di tim mereka.

Kepastian itu tentu akan dibukatikan di babak krusial yang akan mereka hadapi. Jika meriah hasil positif saat melawan Semen Padang (28/11/2018) sore, tentu langkah itu sudah bisa dipastikan mereka gapai musim ini.

Andai kata meleset, tentu harapan terakhir akan mati-matian mereka perjuangkan, diperebutan tempat ketiga di awal Desember mendatang.

Ayo pendekar, tunjukan kemampuan hebatmu.

Aldi Al Acha melakukan selebrasi usai sukses mencetak gol ke gawang Semen Padang. Foto: Official Liga 2

RAPOR PERSITA DI LIGA INDONESIA

  • Divisi Utama 1994/1995 (peringkat 8 dari 17 klub di grup I)*
  • Divisi Utama 1995/1996 (Peringkat 4 grup A di babak 8 besar)*
  • Divisi Utama 1996/1997 (peringkat 5 dari 11 peserta babak penyisihan grup barat)*
  • Divisi Utama 1997/1998 (kompetisi dihentikan saat Persita di posisi ke-4 dari 10 peserta babak penyisihan grup barat)*
  • Divisi Utama 1998/1999 (peringkat ke-5 dari 5 peserta grup B di babak penyisihan)*
  • Divisi I 1999/2000 (juara)
  • Divisi Utama 2001 (peringkat ketiga grup b babak 8 besar)*
  • Divisi Utama 2002 (runner up)*
  • Divisi Utama 2003 (peringkat ketiga dari 20 peserta)*
  • Divisi Utama 2004 (peringkat ke-8 dari 18 peserta)*
  • Divisi Utama 2005 (peringkat ke-8 dari 14 peserta grup barat babak penyisihan)*
  • Divisi Utama 2006 (peringkat ke-10 dari 14 peserta grup barat di babak penyisihan)*
  • Divisi Utama 2007 (peringkat ke-9 dari 18 peserta babak penyisihan grup barat)
  • ISL 2008/2009 (peringkat ke-17 dari 18 peserta)*
  • Divisi Utama 2009/2010 (peringkat ke-4 dari 11 peserta babak penyisihan grup I)
  • Divisi Utama 2010/2011 (peringkat ke-4 dari 13 peserta babak penyisihan grup I)
  • Divisi Utama versi LI 2011/2012 (runner up)
  • ISL 2013 (Peringkat ke-14 dari 18 peserta)*
  • ISL 2014(Peringkat ke-10 dari 11 peserta babak penyisihan grup barat)*
  • ISC-B 2016 (8 besar)
  • Liga 2 2017 (16 besar)

*: Kasta tertinggi Liga Indonesia