#BedahPustaka, Majalah Abidin-Side #4: Persaingan Seru Dua Tim Tionghoa di Jakarta

cover majalah Abidin Side #4

Abidin Side kembali menelurkan majalah ekslusifnya. Edisi keempat yang cukup lama dinanti para pendukung Persija akhirnya terbit juga awal November lalu.

Untuk edisi ini, ternyata Abidin-Side terfokus pada sisi sepakbola dari etnis tionghoa. Ada lima bab pembahasan.

Bab pertama membahas soal sejarah dan rivalitas dua klub tionghoa di Jakarta, karya Gerry A Putra.

Zaman dulu ada beberapa klub sepakbola etnis tionghoa di Jakarta, seperti UMS, Chung Hua, BBSA dan Sin Ming Hui, namun kini yang tersisa tinggal UMS dan Chung Hua yang berganti nama menjadi Tunas Jaya.

UMS berdiri 2 Agustus 1914, yang awalnya bernama Tiong Hoa Oen Tong Hwee (THOTH), yang saat itu terjun di kompetisi VBO dibawah payung pemerintah kolinial.

Chung Hua sendiri awalnya berdiri dari para pemain lapis ketiga UMS yang tak puas, yang akhirnya membesarkan tim baru yang jadi musuh abadi UMS hingga kini, yakni Chung Hua Tsing Nien Hui

Di bab lainnya Abdillah Afiif menjabarkan perjalanan tin Nan Hua dari Hongkong, yang menjalani tour ke Hindia Belanda sebelum Indonesia merdeka.

Timnas PSSI yang bermaterikan pemain dari Persis Solo, PSIM Jogja dan PSIT Tjirebon melawan Nan Hua dan berakhir dengan skor 2-2. Laga ini sendiri digelar di Lapangan Union Semarang pada tahun 1937.

Di bab lainpun dijelaskan soal lambang asli Persija, yang dijabarkan secara lengkap oleh Abdillah Afiif dan Gerry A Putra.

Abidin Side sendiri adalah sekumpulan pemuda yang punya spirit besar untuk mencari catatan sejarah masa lampau, yang sebagain besar terfokus pada perjalanan kiprah tim Persija.

Banyak hal yang dimunculkan Abidin Side untuk mengedukasi perhilan Persija.

“Sejarah menemukan hakikatnya sebagai ilmu saat kami menemukan fakta nama awal Persija bukanlan VIJ (Voetbalbond Indonesia Jacatra) melainkan VBB (Voetbal Boemipoetra). Dan situ saja, kami yang awam merasa gagal total untuk menjadi ‘yang paling Persija’ ternyata kami mengetahui siapa nenek moyang kami sendiri,” tulis kata pengantar tim redaksi Abidin Side di majalah keempatnya.