Sebelum Gantung Sepatu, Pemain Spesial Ini Dibuatkan Laga Perpisahan

Ferryanto saat berseragam Persis Solo.

Gantung sepatu jadi sebuah pilihan yang harus dijalani oleh pemain profesional. Keputusan besar ini dilakukan jelas karena berbagai alasan.

Mulai dari terkendala usia, cedera, kalah dalam sisi persaingan masuk skuad inti, hingga masalah internal yang membuat si pemain membulatkan tekad untuk melepas statusnya sebagai pemain profesional.

Budaya memberi penghormatan terakhir kepada pemain “spesial” untuk menggelar game terakhirnya di sebuah tim tersebut, ternyata belum banyak dilakukan.

Walau begitu ada beberapa pemain yang ternyata punya kebanggaan lebih karena keputusannya gantung sepatu di tuntaskan dalam sebuah laga perpisahan yang manis.

Berikut beberapa pemain spesial yang sempat merasakannya:

FERRYANTO

Striker Persis Solo Ferryanto memutuskan untuk pensiun di awal 2016 silam. Keputusan itu diucapkannya usai Persis berhasil menjadi juara di turnamen Plumbon Cup di Tawangmangu Karanganyar.

Kala itu dirinya beralasan ingin fokus meniti karir dalam bisnis di luar lapangan sepakbola. Setelah pensiun pemain berambut gondrong tersebut memang memutuskan membuka bisnis gorden di Purwodadi.

Karena dedikasinya kepada tim Persis Solo yang cukup besar, khususnya saat memompa tim ini disaat terpuruk, manajemen akhirnya membuat sebuah laga uji coba khusus untuk pemain yang akrab dengan nomor 17 tersebut.

Laga perpisahan untuk Ferryanto digelar di Stadion Manahan Solo (28/2/2016), antara Persis Solo melawan Persinga Ngawi.

Di laga ini Ferryanto bermain selama 45 menit, sebelum di awal babak kedua dirinya ditarik oleh Johan Yoga Utama

Usai laga dirinya mengelilingi tribun Manahan, sembari membagi-bagikan beberapa kaus kepada para Pasoepati di atas tribun. Puncaknya langkap perpisahannya dirasakan di Mboergadoel (tribun selatan Manahan).

Ferryanto jadi dirigen dadakan, saat anthem Satu Jiwa dikumandangkan. Tak lama sebuah kaus raksasa bernomor 17 komplet dengan nama punggung Ferryanto dibentangkan.

Jersey berukuran 10 meter tersebut dikerek di dua tiang bendera di Stadion Manahan, yang memang didedikasikan untuknya.

Di Persis sendiri dirinya pertama kali menjalani debut pada tahun 2004. kalah dengan persaingan lini depan dengan para seniornya, membuat dirinya memutuskan untuk merantau dan berkelana. Dirinya memutuskan untuk bergabung dengan PS Palembang, PSSA Asahan, hingga Persibat batang.

Ferryanto akhirnya kembali ke Persis pada musim 2009, yang kemudian musim berikutnya dirinya memutuskan untuk bergabung dengan PSS Sleman di musim 2010/2011.

Saat Persis Solo terjadi dualisme, dirinya memutuskan kembali ke Kota bengawan, dan bergabung dengan Persis versi LPIS di bawah asuhan Junaidi. Setelah itu dirinya tetap bersama tim ini, di bawah kepemimpinan Widyantoro (2013-2014), dan Aris budi sulistyo di musim 2015.

Dirinya pernah melabeli diri sebagai top skor tim di musim 2013, 2014 dan Piala Polda 2015.

 

ONY KURNIAWAN

Ony Kurniawan saat berseragam PSIM Jogja. Foto: Official PSIM.

Nama Ony Kurniawan, cukup terkenal di Kota Jogjakarta. One man one team. Dedikasinya bersama PSIM tentu perlu diacungi jempol. Dirinya mendedikasikan diri dengan tim Laskar Mataram pada musim 2002 hingga 2017.

Dirinya 15 tahun mengenakan jersey PSIM bernomor punggung 21, dan posisi kiper sepertinya sulit tergantikan.

Usai playoff Liga 2 2017, dirinya memutuskan untuk gantung sarung tangan, dan fokus untuk menjalankan tugas barunya sebagai pelatih di salah satu tim internal di Jogja dan bekerja sebagai pegawai PDAM.

Karena dedikasinya yang begitu hebat dengan PSIM, akhirnya manajemen PSIM memutuskan untuk menggelar sebuah lag auji coba untuk melepas pemain legendanya tersebut. Uji coba melawan PPSM Magelang di Stadion Sultan Agung Bantul (17/11/2017), sebagai laga terakhir Ony bersama PSIM.

Saat laga sendiri Ony hanya bermain selama 54 menit. Gerimis mengiringi langkahnya keluar lapangan dan digantikan juniornya Ivan Febrianto

Seluruh pemain beserta penonton tampak berdiri. Pemain cadangan berjejer sembari bergantian memeluk kiper bernomor punggung 21 tersebut

Mukanya tampak memerah, dan matanya berkaca-kaca. Walau begitu ia tetap mencoba tersenyum di laga perpisahannya dengan tim satu-satunya yang ia bela sepanjang karirnya.

Dalam laga ini PSIM berhasil menang dengan skor 3-0. Usai laga banjir air mata pecah, namanya menggema di hampir seluruh tribun. Sebagai penghormatan terakhir, dirinya mendapat posisi istimewa untuk berdiri di steger dirigen saat athem PSIM dikumandangkan.