Wawancara Amadeus Suropati: Bicara Sepak Bola, Kopi dan Pulau Dewata

Amadeus Suropati saat berpose bersama sang barista di Mercato Coffee Bar, Legian. Foto : Nofik Lukman Hakim

Jalanan di Legian tampak ramai saat waktu menunjukkan pukul 08.00 WITA. Para penjaja pernak-pernik tentang Bali mulai merapikan tokonya. Wisatawan yang datang dari penjuru dunia bersiap menuju lokasi wisata.

Pulau Dewata masih menawan untuk dijadikan sebagai tempat liburan. Mulai Pantai Kuta yang paling dekat dengan Bandara Ngurah Rai. Ada pula Blue Point yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Legian. Kawasan Canggu pun menawarkan keindahan sawah terasering dan pantai.

Bagi para pecinta sepak bola, Bali United punya daya pikat yang sayang untuk dilewatkan. Bahkan Stadion Kapten I Wayan Dipta yang ada di Kabupaten Gianyar sudah menjadi salah satu lokasi tujuan wisatawan. Bila “malas” untuk menempuh perjalanan jauh menuju Gianyar, Bali United masih bisa ditemui di sekitar Legian. Mereka punya lokasi latihan, mes pemain, kantor dan menjajakan merchandise di Legian.

KAMPIUN.ID sempat meluangkan waktu ke Bali, pada pekan kedua bulan ini. Melihat kemajuan-kemajuan Bali United merupakan hal menarik. Kebetulan saat itu, Bali United baru pulang dari Jayapura dan bersiap menghadapi Persebaya Surabaya dalam lanjutan Go-Jek Liga 1 2018 pekan ke-31. Irfan Bachdim dan kawan-kawan pun melakukan persiapan di Lapangan Gelora Trisakti, Selasa (14/11/2018) pagi.

Bali United saat berlatih di Gelora Trisakti, Legian. Foto : Nofik Lukman Hakim

Tentu saja lapangan ini sangat menarik untuk didatangi. Selain bisa melihat bintang-bintang Bali United berlatih, lapangan ini masih ada di wilayah Kelurahan Legian. Hanya dengan beberapa menit berjalan kaki dari Pantai Kuta, kita sudah bisa menjangkau Gelora Trisakti.

Saat itu, KAMPIUN.ID menginap di sebuah penginapan yang ada di Jalan Patih Jelantik, Legian. Niat awalnya, Gelora Trisakti jadi tujuan. Namun siapa disangka, terlihat sebuah gerai kopi yang lokasinya tepat di depan penginapan. Tempat ngopi ini bernama Mercato Coffee Bar.

Dari namanya saja, sudah dipastikan pemiliknya merupakan penggemar sepak bola Italia, atau paling tidak berkait atau malah pelaku dari sepak bola. Bagi yang belum tahu, Mercato atau CalcioMercato dalam kompetisi sepak bola Italia diartikan sebagai bursa transfer. Benar saja, terlihat sosok yang tidak asing sedang membuat kopi yang akan disajikan kepada pelanggannya.

Sosok itu ialah Amadeus Suropati. Pesepakbola blasteran yang pernah berguru ke Torino dan menjadi top skor di kompetisi kasta kedua Liga Australia ini ternyata mulai menggeluti usaha gerai kopi. Sudah setahun ini Deus, sapaan akrabnya, memberanikan diri untuk ikut berwiraswasta di tanah kelahirannya. Bila bicara Bali, khususnya kawasan Legian, tentu saja pasar yang dituju merupakan wisatawan mancanegara, khususnya Australia.

Amadeus Suropati saat berpose di Mercato Coffee Bar, Legian. Foto : Nofik Lukman Hakim

Deus dengan ramah menyambut kedatangan KAMPIUN.ID. Pria kelahiran 31 Desember 1985 ini dengan detail menceritakan prosesnya berbisnis kopi di kawasan Legian. Ternyata, memiliki usaha coffee shop ini tak pernah terlintas di benaknya. Bahkan keluarganya pun tak ada garis bisnis, apalagi sampai menyentuh kopi.

Berikut petikan wawancara KAMPIUN.ID dengan Amadeus Suropati :

Apa yang menjadi pertimbangan untuk membuka bisnis di Legian? Padahal dari segi usia maupun kualitas masih bisa mendapat klub profesional di Liga 1 atau Liga 2?

Tahun lalu saya balik ke Indonesia setelah ikut kompetisi di Australia. Saya bertanya-tanya pada diri saya, apakah main disini, apakah liganya sudah benar, apakah federasinya sudah bisa memperbaiki kekeliruan yang dulu-dulu. Saya sebetulnya mau. Tapi dengan berbagai pertimbangan, saya putuskan untuk tunda dulu dan mulai buka coffee shop ini.

Ada banyak bisnis yang laku di Legian. Paling rame tentu saja bar. Tapi kenapa kemudian pilih membuka Mercato Bar dengan sajian utamanya kopi?

Saat saya di Perancis, saya lihat ngopi itu kalau di Indonesia sudah seperti orang merokok. Setiap hari minum kopi. Kemudian saat saya di Australia, kultur ngopi lebih besar lagi. Coffee shop ada dimana-mana. Saat pulang ke Indonesia, tiba-tiba saja ide bikin coffee shop itu muncul. Benar-benar nggak pernah direncanakan.

Dan satu lagi, Australia kultur kopinya besar, tapi biji kopinya banyak yang dari Indonesia. Itu yang buat saya takjub. Akhirnya saya buat dengan style Australia, tapi biji kopinya dalam negeri semua.

Sebagai pemilik Coffee Shop, apakah kamu suka ngopi dan tahu tentang kopi?

Saya suka ngopi, tahu tentang kopi, saat di Australia nongkrong sama teman-teman sambil ngopi. Saya menilai kopi sangat bermanfaat untuk diri saya. Sebelum latihan ngopi, sebelum gym ngopi. Kopi membuat saya lebih konsentrasi, visi lebih tajam, reaksi lebih cepat dan tenaga jadi lebih.

Kopi kalau dibuat dengan benar, disajikan dengan benar, sangat bantu atlet atau orang yang sibuk kerja dengan laptop. Dengan kopi yang beneran, otak jadi encer, saya dapat inspirasi. Dari pengetahuan itu dan dukungan dari orang tua, saya pikir tidak ada salahnya bikin coffee shop di Bali.

Bagaimana kamu membuat coffee shop ini?

Saya yang desain ini semua. Saya gambar setiap malam. Inspirasinya dari apa yang saya lihat di Perancis dan Australia. Style artistik, saya coba ciptakan atmosfer hangat, nyaman. Orang datang kesini tenang, minum kopi, ngobrol-ngobrol, meeting, kerjain tugas. Atmosfer yang saya dapat dari luar, saya ciptakan disini.

Saya juga belajar buat kopi. Paling gampang buat kopi hitam. Itu cuma kopi dan air panas. Tapi yang rumit, artistik, kreatif itu kopi dengan susu, seperti capucciono, late. Kita lukis gambar bunga atau daun. Butuh waktu cukup lama untuk bisa adaptasi, feeling agar gambarnya bisa bagus.

Amadeus Suropati saat membuat motif dengan susu dalam kopi yang disajikan kepada KAMPIUN.ID. Foto : Nofik Lukman Hakim

Kalau dipikirkan lagi sekarang, saya beryukur dengan jalan yang ditunjukkan tuhan. Banyak teman-teman pesepakbola, ketika tidak main seperti bingung mau melakukan apa, jadi frustasi. Ada yang ikut tarkam. Saya bersyukur punya coffee shop ini, ada aktivitas yang saya lakukan.

Bagaimana dengan progres dari coffee shop ini? Kita tahu sekarang turis mancanegara tidak hanya datang ke Legian. Banyak juga yang sekarang ke Canggu dan tempat-tempat lainnya?

Market kita memang wisatawan luar negeri, terutama Australia. Pernah ada orang Australia yang lima hari di Bali, setiap hari dia kesini. Ada juga yang kesini tiga kali dalam sehari. Setahun ini saya belajar dan menerima masukan dari tamu-tamu yang kesini. Kedepan ada banyak cake yang kita sajikan.

Soal naik turunnya wisatawan, ada low session dan high session. Agustus, September, Oktober itu low session. Mulai November ini wisatawan sudah mulai datang. Ramainya nanti Desember dan awal tahun depan. Tapi memang sekarang Legian bukan tujuan satu-satunya. Ada Canggu yang sekarang banyak dibicarakan. Banyak juga yang pilih kesana. Harganya masih murah dibanding disini.

Amadeus Suropati (kiri, depan) bersama rekan-rekannya di Mercato Coffee Bar. Foto : Dok Amadeus

Untuk lokal memang tidak begitu banyak. Teman-teman sesama pesepakbola sering datang kesini. Ada teman-teman dari Bali United. Ada Borneo FC. Ada juga pemain yang sebelumnya tidak saya kenal, tapi setelah datang kesini, kita jadi kenal.

Bisnis sudah mulai jalan, apakah ada rencana untuk gabung klub sepak bola lagi musim depan?

Aktivitas saya setiap hari kalau tidak di lapangan ya di Coffee Shop ini. Makanya kalau lihat instagram saya, isinya latihan dan kopi. Saya latihan bersama lima klub lokal. Sepekan bisa latihan empat kali. Tanding akhir pekan dua kali. Saya juga punya program latihan pagi sendiri. Latihan bersama klub-klub ini sangat penting untuk jaga atmosfer pertandingan, sentuhan bola dan adaptasi dengan berbagai style main.

Saya sudah bicara dengan klub luar untuk musim depan. Klub itu bukan di Australia, tapi ada di Asia. Mudah-mudahan jadi, tidak ada hal-hal lain. Pembicaraan inilah yang membuat saya latihan terus sekarang.

Ketika nanti dapat klub, apakah bisnis masih jalan terus?

Ada orang yang bisa saya percaya untuk handle disini. Barista ini saya kawal terus, saya ajari. Kita komunikasi terus. Kalau sewaktu-waktu saya pergi main, saya sudah tidak khawatir lagi. Hal itu sudah saya persiapkan sejak lama. Jadi ketika saya main, saya bisa tenang.

Sebenarnya tahun ini saya hampir-hampir gabung tim Liga 2. Tim itu adalah Persis Solo. Saya sudah komunikasi dengan pelatih Agus Yuwono. Saya juga sudah komunikasi dengan petinggi klub. Saya sudah hampir berangkat ke Solo. Bahkan saya sudah cari tahu tentang apa saja yang ada di kota Solo. Tapi sayang sekali, di pertandingan terakhir mereka kalah dari Semen Padang dan tidak lolos ke babak 8 besar.

Sayang sekali memang. Mungkin belum tahun ini. Mungkin next time saya bisa gabung Persis Solo. Kabarnya Stadion Manahan sekarang baru direnovasi.

Terakhir, apa perbedaan yang kamu lihat tentang kualitas kompetisi yang dulu dan sekarang?

Perbedaan mungkin ada. Sekarang lebih banyak sponsor, publikasi lebih besar, lebih dikenal di Asia. Terakhir saat saya gabung Bali United, manajemennya bagus. Tidak ada main-main.

Saya yakin orang disini ingin lihat sepak bola bagus. Mungkin caranya belum tepat. Saya pikir harus kirim beberapa orang ke luar negeri, satu tahun saja. Tempatkan posisi di klub lokal di suatu negara. Nanti mereka bisa lihat manajemennya. Semua main happy, pemain happy, suporter tepuk tangan ketika kalah atau menang.

Nofik Lukman Hakim