Cerita Anderson Da Silva: Antara Brazil, Sleman dan Tatto Kepala Elang

Suporter PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS) menyalakan flare dalam pertandingan di Stadion Maguwoharjo Sleman, Sabtu (2/6/2018). Foto : Richie Setiawan

Bagi suporter PSS Sleman generasi 90-an, sebuah “dosa besar” jika tak mengenal sosok Anderson Da Silva. Pemain asing asal Brazil tersebut pada masa jayanya merupakan salah satu icon tim Elang Jawa.

Sebagai palang pintu kokoh, PSS Sleman pernah dibawanya berprestasi. Hanya menempati posisi tujuh wilayah timur pada 2002, Anderson bersama PSS Sleman mengunci posisi empat pada kompetisi 2003 dan 2004.

Anderson bukan saja menjadi penghalau serangan lawan. Bahkan dia turut mencetak gol, seperti yang dilakukan pemain berkarakter menyerang kala itu, seperti Deca Dos Santos, Marcelo Braga, Muhammad Eksan hingga Seto Nurdiyantoro.

Total tujuh musim dihabiskannya bersama PSS Sleman yang kala itu masih bermarkas di Stadion Tridadi Sleman. Tentu dengan waktu yang cukup lama, kenangan bersama PSS Sleman selalu membekas di hati pemain kelahiran 12 Mei 1975 ini.

Anderson Da Silva saat ada di Stadion Sriwedari Solo, Kamis (13/12/2018). Foto : Nofik Lukman Hakim

Hampir sebelas tahun berlalu sejak ia meninggalkan PSS Sleman pada 2007 lalu. Kenangan setiap musim ternyata masih diingat Anderson. Satu hal yang membuatnya selalu ingat pada PSS Sleman yakni tatto kepala elang yang ada pada tangan kirinya.

“Bagaimana mungkin bisa lupa, ada tatto ini. Itu rumahku, kampungku. Kampungku ada dua, Brazil dan Sleman,” ucap Anderson saat ditemui KAMPIUN.ID dalam laga persahabatan Mitra Devata Bali melawan Solo Allstar di Stadion Sriwedari Solo, Kamis (13/12/2018) sore.

Anderson mengaku terus mengikuti perkembangan sepak bola Sleman, baik tim maupun suporternya. Dia termasuk orang paling gembira saat menyaksikan PSS Sleman mengangkat trofi gelar juara kasta kedua. Anderson menilai, PSS Sleman memang sudah layak dari segala aspek untuk menjadi peserta Liga 1.

“Aku pribadi senang banget, bangga juga pernah disana tujuh musim. Aku lihat sudah saatnya PSS ikut liga paling tinggi di Indonesia. Sudah siap semua. Ada tim bagus, stadion bagus, kotanya luar biasa dan suporternya yang membuat aku tak bisa berkata-kata. Bukan aku bilang suporter lain tidak bagus, namun di Indonesia suporter PSS Sleman nomor satu,” tuturnya.

Anderson sedih saat tak bisa hadir dalam partai final di Bogor. Dia punya tanggung jawab untuk bekerja di Kalimantan. Sebagai gantinya, sebelum ke Solo untuk gabung tim Mitra Devata Bali, dia sempat mampir ke Sleman.

“Kemarin aku kesana, ketemu sama suporter dan pengurus. Pokoknya senang banget, nggak ada kata-kata lagi. Sudah saatnya PSS naik ke Liga 1,” pungkasnya.

Nofik Lukman Hakim