Menanti Kejutan Pembuka Koreo Super Keren dari Pasoepati

koreo Pasoepati tribun timur saat laga Persis Solo melawan PPSM Magelang, 2014 silam. foto: Sambernyawa.com

Alap-Alap Sambernyawa bawa kami terbang ke angkasa

Bangkitlah kau sang legenda, Persis Surakarta

LIRIK lagu di atas akan begitu lantang dinyanyikan oleh Pasoepati. Biasanya lagu ini jadi lagu pembuka disaat Pasoepati hendak membuat sebuah koreo. Kadang juga dinyanyikan disela-sela beberapa chant dinyanyikan.

Bicara koreo, jelas nama Pasoepati tak boleh dikesampingkan. Jauh sebelum Jakmania membuat koreo super keren saat melawan Johor Darul Ta’zim di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta beberapa hari lalu, Pasoepati sudah mulai membentangkan kreatifitas melalui koreo sejak lama.

Membuat koreo di laga perdana kompetisi sepertinya mulai rutin dilakukan Pasoepati di tahun 2013.

Saat itu suporter yang akrab dengan warna merah-merah tersebut membentangkan koreo khususnya di trbun timur, saat laga perdana Divisi Utama (DU) versi LPIS melawan Persires Banjarnegara di Stadion Manahan Solo (17/4/2013).

Tribun timur masih membuat koreo dengan bentuk sangat sederhana, yakni hanya garis berbentuk merah dan putih. Di akhir laga tribun ini membentangkan spanduk bertuliskan This is Solo.

Hasilnya memang mujarab, Persis LPIS menang 2-1 dalam laga ini, dimana dua gol Persis dicetak oleh Ferryanto (43’), dan Nnana Onana (90+1).

Musim berikutnya, yakni di Divisi Utama 2014. ternyata duet dirigen tribun utara yakni Sigit Omponx dan Andre Jaran “bercerai”. Omponx tetap konsisten dengan tribun utara, sementara Jaran memilih menuju steger tribun timur sisi tengah, dengan membesarkan nama Pasoepati Gate B7.

Di laga pembuka DU 2014, Persis harus menjajal kekuatan PPSM Magelang di Stadion Manahan (15/4/2014). Pasoepati Gate B7 membuat sebuah koreo 3D berukuran raksasa, yang berbentuk beberapa pemain terlihat seperti mengejar piala di hadapannya.

koreo Pasoepati tribun timur saat laga Persis Solo melawan PPSM Magelang, 2014 silam. foto: Sambernyawa.com

Pasoepati di tribun Selatan (Mboergadoel) tak mau kalah, mereka membentangkan sebuah koreo berukuran besar berbentuk garuda berlambang Persis didadanya.

aksi kreativitas Pasoepati tribun selatan, saat laga Persis melawan PPSM Magelang di Manahan 2014 silam.

Untuk tribun utara sedikit minimalis dengan hanya membuat sebuah koreografi “12”, yang berarti suporter adalah pemain ke-12 di setiap tim.

Koreo tribun utara Manahan, saat laga Persis Solo melawan PPSM Magelang 2014 silam. Foto: Sambernyawa TV

Sayang laga yang ditonton 22 ribu orang kala itu tersebut, ternyata hasil akhir pertandingan tak terlalu memuaskan, sebab Persis ditahan seri tamunya PPSM Magelang 2-2.

Musim 2015, PSSI yang dibekukan Menpora membuat agenda sepakbola jadi sedikit kacau. Bahkan kompetisi Divisi Utama harus dihentikan beberapa hari jelang kick off, padahal persis sudah diputuskan jadi pembuka kompetisi, yang akan melawan PSIS Semarang di Stadion Manahan Solo.

Vakumnya kompetisi resmi membuat Persis Solo pun hanya mengikuti beberapa turnamen, sambil menunggu kompetisi resmi digelar. Mulai dari Piala Polda Jateng, Piala Kemerdekaan, hingga Plumbon Cup.

Musim 2016 kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC)-B digelar. Persis ikut serta dalam turnamen ini.

Pasoepati kembali beraksi, saat Persis melawan PSGC di laga pembuka (30/4/2016). Pasoepati Mboergadoel membuat bentangkan sebuah jersey berukuran raksasa dengan angka 12 di punggungnya. sementara tribun utara membentangkan koreografi bendera merah putih, sedangkan tribun timur membentangkan koreo 3D lama bergambar Kraton Kasunana Surakarta, yang sejatinya koreo ini sudha pernah dibentangkan di musim 2014 saat laga Persis melawan PSIS Semarang.

Sayang lagi-lagi, Persis harus puas ditahan seri tamunya PSGC, yang bisa mencetak gol penyeimbang di babak injurytime lewat titik putih, dan membuat skor berakhir 1-1.

Musim Liga 2 2017, persis Solo ditunjuk sebagai tim pembuka kompetisi. Menariknya lawan yang dihadapi adalah PPSM Magelang (22/4/2017). beruntung dalam laga ini Persis tak lagi seri, malahan sanggup menang meyakinkan dengan skor 3-1 di Stadion Manahan kala itu.

Bicara koreografi, ternyata ada tiga tribun yang dibentangkan di laga ini, sangat menarik karena konsepnya cukup unik. Tribun Utara membuat koreografi berukuran besar berbentuk pelatih Persis Widyantoro yang tengah melukis sebuah gambar piala. Disampingnya berjejer tujuh gambar piala dengan berangka tahun, yang mengartikan koleksi tujuh Piala Preserikatan yang sempat diraih Persis Solo.

Untuk tribun selatan terbentang sebuah koregrafis investor utama Persis Solo Sigid Haryo Wibisono memikul sekarung uang, dan menatap sebuah piala. Konsepnya jelas kehadiran Sigid untuk membangun Persis Solo dan tujuan utamanya adalah membawa tim ini kembali berjaya.

Koreo yang tak kalah unik, adalah yang dibentangkan Pasoepati di tribun timur. Acara launching tim Persis Solo yang digelar dengan konsep para pemain menaiki sepur uap dari Purwosari ke arah panggung acara di daerah perempatan Pasar Ngarsopuro, ternyata mengilhami Pasoepati Gate B7 untuk kembali menghadirkannya di laga Persis kontra PPSM ini.

Sigid Haryo Wibisono bersama sang anak Syahdhana terlihat menaiki sepur kelutuk, yang menariknya koreo kereta uap itu berjalan dari kanan ke kiri, dan kembali berjalan dari kiri ke kanan secara berulang-ulang. Adanya 3 koreo 3D di satu laga jelas membuat koreo pasoepati ini sempat jadi perbincangan publik.

koreo tribun utara, timur dan selatan Manahan, saat laga Persis Solo melawan PPSM Magelang 2017 silam. Foto: Sambernyawa TV

Musim Liga 2 2018, Pasoepati jelas sudah siap kembali membuat kejutan. Persis Solo sendiri dipastikan akan jadi tuan rumah untuk menjajal kekuatan Semen Padang di Stadion Manahan 23 April mendatang. Pasoepati menegaskan siap kembali all-out termasuk membuat cukup banyak kejutan di tiap laganya.

“Insyallah (koreo) akan ada lagi,” terang Presiden DPP Pasoepati, Aulia Haryo.